Oleh:  Diyah Lutfi Handayani SAg
Oleh:  Diyah Lutfi Handayani SAg

RADARSEMARANG.COM – TAHUN pelajaran 2013/2014 dunia pendidikan  mengalami suatu perubahan,  yaitu  penerapan  kurikulum 2013 (K-13). Keadaan seringnya berubah- ubahnya kurikulum memang menjadi permasalahan serius bagi para  pendidik, dan tentu berdampak  psikologis negatif,  yakni adanya sikap  masa bodoh,  pusing,  menentang,  tapi  tak berwenang. Tapi  ada  juga  dampak psikologis positif ,  yaitu perubahan kurikulum adalah sebagai satu dinamika biasa yang  terjadi  dan  tantangan  yang  harus disikapi  dengan optimistis.

Berbagai  sosialisasi    dan pelatihan K-13 digelar, namun masih  muncul pro-kontra  di kalangan  para akademisi  maupun dimasyarakat umum.   Bagi yang pro beralasan bahwa kurikulum lama (KTSP) dianggap banyak sekali kelemahan, yaitu konten kurikulum  masih  terlalu  padat, dianggap  kurikulum  belum sepenuhnya berbasis  kompetensi, kompetensi belum  menggambarkan secara holistik domain sikap,  ketrampilan  serta  beberapa  kompetensi yang dibutuhkan belum terakomudasi di dalamnya.  Sebaliknya, bagi  yang  kontra, perubahan kurikulum baru dianggap tidak akan berpengaruh pada peningkatan  kualitas pendidikan.

Secara umum, struktur kurikulum  harus menekankan kedalaman, bukan luasnya cakupan bidang  pengetahuan,  permasalahan yang otentik kontekstual dan pemecahan masalah  yang  menekankan  pengembangan keterampilan  dan  perolehan  pengetahuan.  Sebab,  kurikulum       bukan merupakan satu – satunya kunci untuk  mengatasi permasalahan pendidik  an  di Indonesia. Kurikulum  juga harus mempertimbangkan     perbedaan indivisual, mengintegrasikan materi  pelajaran  dan  fokus pada   capaian  atau target pembelajaran siswa. Kurikulum hanyalah  alat,  sehingga  tidak akan berarti  apa-apa apabila berada di tangan guru yang tidak berkualitas.

Ada  asumsi yang  mengatakan bahwa  kurikulum  yang baik,  di tangan  guru  yang  tidak  bermutu, maka hasilnya  tidak akan bermutu. Sebaliknya  kurikulum  sederhana  apabila   berada di  tangan guru yang ber   mutu, maka hasilnya akan bermutu.

Sekarang  anggaplah kurikulum 2013  merupakan  rancangan  terbaik pemerintan dan mau tak mau semua pihak harus menerima. Namun apabila  sebagian  guru  berkapasitas  rendah untuk  memaknai dan mengelaborasi  kurikulum itu, maka sebagus apapun kurikulumnya tidak akan mencapai target yang diharapkan.

Pada kenyataanya, masih banyak guru  dan  madrasah atau sekolah yang belum menggunakan  kurikulum 2013. Ada juga madrasah  atau  sekolah  yang dipaksakan harus menggunakan kurikulum 2013. Dalam hal ini tentunya akan berdampak pada mutu guru ataupun madrasah. Satu madrasah sudah punya nama tiba-tiba ada perubahan kurikulum (2013), tentunya semua pihak di dalamnya harus ikut aturan tersebut. Dengan fasilitas madrasah, kapasitas guru tinggi dan pendukung yang lain terpenuhi, maka  sangatlah  mudah untuk mencapai target guru berkualitas.

Sebaliknya bagi madrasah yang biasa-biasa saja, di mana kondisi fasilitas madrasah kurang, integ guru rendah, maka untuk mencapai target guru yang berkualitas sulit atau lambat.

Apalagi banyak sekali guru yang masih menggunakan strategi dan pendekatan konvensional yaitu ceramah saja dan mengajar sesuai urutan tulisan dalam buku teks. Oleh karena itu, banyak pihak berharap pemerintah tidak hanya  menitik beratkan pada sisi kurikulum baru saja,namun yang lebih penting pendampingan  pada  guru.

Memang   pemerintah  merencanakan  akan melatih 40 ribu  guru inti  yang  nantinya wajib  menularkan pada rekan – rekannya. Dan juga pelatihan serta sosialisasi yang seharusnya terjadwal secara merata. Namun sampai  tahun  ini , para  guru yang ada  di  daerah nampak belum tersentuh. Padahal genderang sudah ditabuh dan tahun pelajaran baru sudah menanti di ambang pintu.

Perubahan kurikulum perlu diimbangi perubahan yang lain terutama sumber daya manusia (guru). Pemerintah (Kemendikbud)  dan  kementerian lain yang terkait pendidikan mesti serius dan harus menata kembali sumber daya yang ada segera melakukan pelatihan impelentasi kurikulum 2013.

Tak menjamin jika nantinya pelatihan diadakan secara kilat men-jelang tahun pelajaran baru, apalagi dengan kualitas pelatihan yang rendah maka pasca pelatihan, tidak menjamin mereka dapat mengelaborasi kurikulum baru.

Akhirnya kurikulum baru masih saja merupakan pelengkap proses pembelajaran. Oleh karena itu, selain menelurkan  kurikulum bermutu, PR untuk pemerintah adalah mewujudkan guru yang berkualitas. Sebab kurikulum yang bermutu harus dielaborasi guru yang berkualitas. (kpig1/aro)

Guru PAI di MAN Batang