MAKIN MAHAL : Pedagang telur di Pasar Peterongan, Agus Sudarmanto menunjukkan telur ayam yang harganya terus berubah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAKIN MAHAL : Pedagang telur di Pasar Peterongan, Agus Sudarmanto menunjukkan telur ayam yang harganya terus berubah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Kurangnya pasokan ayam dan telur di pasaran tak seimbang dengan tingginya permintaan masyarakat. Akibatnya, harganya merangkak naik.

“Setelah Syawal, banyak orang punya hajatan. Harga ayam dan telur jadi melambung tinggi. Harusnya setelah Lebaran, harga ayam turun, ini justru naik,” kata Sekretaris Paguyuban Pasar Unggas Nunik, kemarin.

Nunik menambahkan kenaikan harga ayam disebabkan banyak ayam yang sakit, akibat cuaca yang tak mendukung. Diperparah dengan keterlambatan memasukkan anak ayam sehingga membuat ayam langka. “Cuaca sekarang sulit diprediksi,” imbuhnya.

Untuk kenaikan harga ayam sudah berlangsung beberapa hari lalu dan kenaikan rata-rata mencapai Rp 2000 perhari. Kalau sebelumnya harga ayam per kilo hanya Rp 18 ribu, menjadi Rp 27 ribu untuk ayam hidup. “Harga ayam masih hidup Rp 27 ribu, tetapi kalau sudah dipotong dan dibersihkan mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu,” tambahnya.

Selain ayam, harga telur ayam juga menagalami kenaikan. Pedagang telur Pasar Peterongan, Agus Sudarmanto mengatakan harga telur semula Rp 18 ribu perkilo merangkak naik menjadi Rp 23 ribu dan satu minggu berikutnya menjadi Rp 28 ribu. “Harga telur di pasar tradisional berubah-ubah. Tapi kalau di pasar modern harganya stabil yakni Rp 28 ribu per paket,” katanya. (hid/ida)