Dukung 2019 Bebas Pasung

170
BEBAS PASUNG  : Seminar Keperawatan Manajemen Kegawatdaruratan Psikiatri dalam Penanganan Kasus Pasung guna Mendukung Program Indonesia Bebas Pasung 2019 yang diadakan oleh Prodi Profesi Ners Fikes UM Magelang, Sabtu (14/7). (DOK HUMAS UM MAGELANG)
BEBAS PASUNG  : Seminar Keperawatan Manajemen Kegawatdaruratan Psikiatri dalam Penanganan Kasus Pasung guna Mendukung Program Indonesia Bebas Pasung 2019 yang diadakan oleh Prodi Profesi Ners Fikes UM Magelang, Sabtu (14/7). (DOK HUMAS UM MAGELANG)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG-Pemasungan, apapun alasannya, merupakan tindakan merampas kebebasan dan hak asasi seseorang termasuk hak untuk medapatkan pelayanan kesehatan. Data epidemiologi dan laporan kasus pasung menyebutkan, gangguan jiwa berat atau psikotik dialami oleh 400.000 penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut lebih dari 57.000 orang mengatakan pernah dipasung.

Tindakan pemasungan tidak hanya berimbas pada pihak yang dipasung tetapi juga pada keluarga, antara lain terbatas dalam aktivitas keluar rumah, rasa bersalah serta iba yang berkepanjangan. Untuk mengatasinya, tindakan yang paling tepat dilakukan adalah terapi Keputusan Perawatan Tanpa Pasung (KPTP) dengan melibatkan pihak keluarga.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr Novi HC Daulima SKp MSc, akademisi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia yang concern melakukan penelitian secara intens tentang pasung, saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Seminar Keperawatan Manajemen Kegawatdaruratan Psikiatri dalam Penanganan Kasus Pasung guna Mendukung Program Indonesia Bebas Pasung 2019 yang diadakan oleh Prodi Profesi Ners Fikes UM Magelang, Sabtu (14/7).

Selain Novy, ada tiga pembicara lain dalam seminar yang diadakan di Hotel Safira Magelang dan diikuti oleh ratusan peserta baik internal maupun eksternal UM Magelang tersebut. Ketiganya yakni Ns Abdul Jalil MKep Ps KepJ yang merupakan praktisi keperawatan jiwa di RSJ Magelang, Sri Ratnani Khasanah AmMdKep, perawat yang menangani pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), serta Ns Sambodo Sriadi Pinilih MKep, akademisi Fikes UM Magelang.

Dalam acara yang dibuka oleh Rektor UM Magelang itu, Dekan Fikes UM Magelang Puguh Widiyanto MKep menyampaikan, seminar tersebut merupakan salah satu perwujudan visi Fikes UM Magelang yang memiliki keunggulan di bidang kegawatdaruratan di area manapun, termasuk di antaranya kesehatan jiwa. Puguh menyampaikan, dari hasil riset terdapat dua daerah istimewa di Indonesia dengan gangguan jiwa tertinggi, yakni Daerah Istimewa Aceh serta Daerah Istimewa Yogyakarta. “Konflik di bidang keamanan yang berkepanjangan menimbulkan tingginya gangguan jiwa pada masyarakat Aceh. Adapun masalah kultur orang Jawa yang cenderung memendam masalah menjadi salah satu pemicu tingginya gangguan jiwa di DIY,” papar Puguh. (vie/ton)