Diduga Kemplang Pajak Miliaran Rupiah

Pemilik Zeus Karaoke Dipolisikan Rekan Bisnis

459
CARI BARANG BUKTI: Aparat Polrestabes Semarang melakukan penyelidikan di Zeus Executive Karaoke setelah mendapat laporan dari Jeffry Fransiskus. (ISTIMEWA)
CARI BARANG BUKTI: Aparat Polrestabes Semarang melakukan penyelidikan di Zeus Executive Karaoke setelah mendapat laporan dari Jeffry Fransiskus. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pengusaha hiburan malam Zeus Executive Karaoke yang berlokasi di Hotel Grand Edge Jalan Sultan Agung,  Semarang, diduga telah melakukan penipuan dan penggelapan pajak mencapai miliaran rupiah.  Kasus ini mencuat setelah salah satu investor tempat hiburan malam tersebut melaporkan ke Polrestabes Semarang terkait dugaan penipuan dan penggelapan hasil keuntungan dari penanaman saham senilai Rp 2 miliar.

Pelapor atas nama Jeffry Fransiskus, 31, warga Villa Payung Indah A-83 RT 06 RW 05 Pudakpayung, Banyumanik. Sedangkan terlapornya Thomas, warga negara Korea yang tinggal di Dusun Srumbung Gunung RT 01 RW 1 Kelurahan Poncoruso, Bawen, Kabupaten Semarang. Jeffri melaporkan dugaan kasus ini di Mapolrestabes Semarang pada Sabtu (7/7) sekitar pukul 21.15.

Kepada polisi, Jefry Fransiskus mengatakan, kasus ini berawal saat ia bersama rekan bisnisnya, yakni Thomas, Handoko, Tommy dan Kristanto sepakat membuat usaha hiburan malam yang diberi nama Zeus Executive Karaoke yang berada di Hotel Grand Edge Jalan Sultan Agung Semarang pada April 2017. Masing-masing menanamkan investasinya dengan jumlah berbeda. Korban sendiri menanamkan Rp 400 juta atau 10 persen saham. Namun hingga Juni 2018, ia tidak pernah menerima keuntungan dari usaha tersebut.

“Pada September 2017, saya menerima BEP (Break Event Point)  saham Rp 400 juta (modal investasi), yang belum saya terima adalah keuntungan 10 persen dari saham yang saya tanam,” ungkap Jeffry Fransiskus saat dikonfirmasi, Minggu (15/7) kemarin.

Jeffry juga mengakui tidak pernah mendapat pemberitahuan terkait jumlah keuntungan perusahaan yang dikelola bersama tersebut. Hingga akhirnya berinisiatif menanyakan haknya kepada Thomas dan penanam saham lainnya terkait perolehan omzet maupun keuntungan.

“Hasilnya keuntungan bulanan saya tidak diberitahu, padahal nilainya cukup besar. Kalau namanya usaha bersama kan tidak seperti itu, harusnya kan cerita ini ada keuntungan 10 persen, lalu di-share,” keluhnya.

Namun upaya ini tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya ia berinisiatif melakukan investigasi untuk mengetahui nilai omzet bisnis tersebut. Dari hasil investigasi, Jeffry menyebutkan omzet Zeus Karaoke dari April 2017 sampai Mei 2018 mencapai puluhan miliar  rupiah.

“Ternyata temuan saya, omzet Zeus Karaoke dari April 2017 sampai Mei 2018 mencapai Rp 25 miliar. Tapi sepeserpun saya tidak pernah menerima keuntungan sesuai dengan saham yang saya tanamkan,” katanya.

Temuan yang lebih mencengangkan lagi, dari omzet sekitar Rp 2 miliar per bulan tersebut, Zeus Karaoke hanya membayar pajak ke Pemkot Semarang dengan jumlah antara Rp 4 juta sampai Rp 20 jutaan per bulannya. Padahal aturan Perda Kota Semarang, pajak hiburan yang harus dibayar seharunya 10 persen dari omzet per bulan. “Kalau omzet Rp 2 miliar per bulan, seharusnya perusahaan membayar pajak ke Pemkot Semarang senilai Rp 200 juta per bulannya, tapi ini hanya Rp 4 juta – Rp 20 jutaan,” bebernya.

Sedangkan sesuai investigasi, dari penghitungan, Jeffry menderita kerugian mencapai Rp 2 miliar. Jumlah tersebut adalah perolehan keuntungan yang seharusnya diterima per bulan dari 10 persen nilai sahamnya. “Uang hasil investasi dan keuntungan yang seharusnya saya terima senilai Rp 2 miliar,” katanya.

Atas temuan tersebut, pihaknya mendorong kepada Pemkot Semarang untuk turun ke lapangan melakukan pengecekan terkait dugaan penyelewengan penyetoran pajak. Menurutnya, adanya pihak yang sengaja membuat laporan pajak palsu dengan maksud supaya pajak yang disetorkan ke pemerintah tidak sesuai dengan omzet yang diperoleh.

“Pengusutan kami, diduga terlapor konspirasi dengan oknum konsultan pajak yang juga penanam saham, yakni Handoko, dengan membuat laporan pajak palsu supaya membayar pajak tidak sesuai dengan omzet yang sebenarnya,” bebernya.

“Kami harap Pemkot Semarang turun lapangan untuk investigasi, jangan membiarkan. Harus ditindak tegas juga, sebab dalam hal ini pemkot dirugikan mencapai miliar rupiah,” tambahnya.

Merasa geram lantas dicurangi dan ditipu, Jeffry melaporkan kasus ini ke Mapolrestabes Semarang. Laporan korban bernomor STTLP/19/VII/2018/Jtg/Restabes Smg. Pihaknya juga telah membeberkan semua temuan-temuan tersebut ke penyidik. “Karena saya merasa telah ditipu, makanya saya laporkan penipuan ke polisi,” tegasnya.

Jeffry juga membeberkan, bisnis karaoke tersebut diduga juga menjadi tempat praktik prostitusi terselubung. Bahkan pihak kepolisian sudah melakukan penggerebekan dan pemeriksaan serta mendapatkan dokumen berupa bill untuk dijadikan barang bukti. Dalam bill disebutkan tarif sekali kencan mencapai Rp 1,4 juta.  “Zeus Karaoke diduga menyediakan prostitusi yang pembayarannya masuk ke perusahaan. Perusahaan menyediakan wanita dan tempatnya,” jelasnya.

Pihaknya berharap pelaporan kasus ini ditangani secara tuntas. Selain itu, pelapor juga mendorong kepada penyidik agar terlapor segera diproses hukum. “Bukti prostitusi terselubung sudah didapatkan, dugaan penggelapan pajak juga sudah dikantongi penyidik, tapi kenapa polisi belum menetapkan tersangka,” katanya setengah bertanya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji kepada wartawan mengaku masih melakukan penyelidikan terkait pelaporan tersebut. Pihaknya juga akan melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi terkait kasus ini.

“Beberapa saksi sudah kita panggil, tapi banyak yang tidak datang, makanya Senin (16/7) besok (hari ini) kita panggil lagi. Karena kasus ini juga melibatkan pajak, kita butuh waktu untuk menuntaskannya,” ujarnya. (mha/aro)