Oleh: Fathul Huda  SPdI
Oleh: Fathul Huda  SPdI

RADARSEMARANG.COM – PENGUASAAN materi berbahasa arab dalam Alquran dan hadist pada siswa tingkat SD/MI memerlukan pembelajaran intensif, selain daya dukung kegiatan pembelajaran Madrasah Diniyah di lingkungan siswa tinggal. Banyak siswa masih terlihat kesulitan dalam me-recall memory/ingatan mereka terkait kutipan ayat Alquran dan hadist yang harus dipahami. Materi dalil dan hadist merupakan bagian tak terpisahkan dalam konteks cakupan materi pokok yang tentunya sangat mungkin muncul pada kegiatan ulangan harian maupun Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Perlu suatu tindakan sebagai langkah tepat agar para siswa tidak merasa kesulitan atau memandang soal berbahasa arab sebagaai momok dalam belajar. Penguasaan materi berbahasa arab ini memiliki minimal 3 prasyarat, yakni mengenal huruf hijaiyah yang sudah bergandeng, pemahaman tajwid terkait cara baca yang tepat, serta arti per kata maupun arti per ayat sebagai satu kesatuan.

Bagiamana guru mengatasi permasalahan ini? Siswa pada tingkat kelas VI akan menghadapi serangkaian ujian kelulusan terkait materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), baik ujian tertulis maupun ujian praktik. Tanpa melihat tinggi rendahnya level penguasaan materi menurut taksonomi bloom, situasi hafalan yang menjadikan siswa hafal materi sebagai langkah lanjut dari siswa telah memahami materi merupakan sesuatu yang mempunyai nilai lebih. Hal ini sangat diperlukan di saat siswa diminta secara langsung mempraktikkan untuk melafalkan ataupun menjawab lisan pada potongan ayat- ayat Alquran maupun hadist pada ujian praktik. Hal ini akan lebih mudah lagi jika siswa telah hafal semua materi terkait soal berbahasa arab pada ujian tulis.

Literasi kompilasi materi dalam hal ini diawali disusun oleh guru bersama siswa pada materi pokok yang ada dalam buku teks wajib Pendidikan Agama Islam. Materi berbahasa arab dijadikan kompilasi dan dibukukan, sehingga setiap siswa mendapat satu buku tersebut. Siswa akan merasa bangga dengan hasil kerja mereka. Lebih lanjut, buku kompilasi tersebut dibaca bersama setiap awal akan dimulai pelajaran sekolah. Ini dilakukan rutin setiap hari setelah doa bersama sebelum dimulai pelajaran setiap pagi. Kegiatan drill ini dilakukan 15 menit sebelum pelajaran. Hal ini cukup dilakukan pada semester pertama. Pada semester kedua, terlihat semua siswa sudah hafal baik tulisan maupun bacaannya dengan tepat. Suasana kolaboratif ini sangat membantu dalam pemahaman yang lebih baik pada pendalaman materi semester 2. Hambatan pemahaman bacaan materi Berbahasa Arab dari Alquran maupun hadist telah diantisipasi pada semester 1. Bahkan para siswa telah menguasai semua materi terkait. Teknik ini secara analog dapat diterapkan pada materi pelajaran lainnya baik materi berbasis hitungan matematika dan IPA serta Ilmu sosial.

Penerapan teknik pembelajaran ini ternyata dapat mendongkrak kompetensi siswa pada hasil akhir ujian sekolah di madrasah kami dengan capaian nilai yang memuaskan, baik pada capaian nilai USBN madrasah maupun Ujian Nasional (Unas). Semoga hal ini memberikan inspirasi positif untuk dapat diterapkan pada sekolah lain. Ini semata pengalaman riil yang dilaksanakan penulis di Madrasah Salafiyah 1 Gombong Batang. Selamat mencoba, semoga sukses bersama. (kpig1/aro)

Guru Mata Pelajaran PAI, Kepala Madrasah Salafiyah 1 Gombong, Batang