Ir Suhariyanto (DOKUMENTASI)
Ir Suhariyanto (DOKUMENTASI)
Mardha Ferry Yanwar (DOKUMEN PRIBADI)
Mardha Ferry Yanwar (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – BANYAKNYA kader partai politik yang berpindah-pindah parpol mengindikasikan ada yang tidak beres dalam kaderisasinya. Hal itu membuat, para kader partai menjadi berpikiran apatis dan tidak bisa komitmen untuk membesarkan partai. Terutama ketika masa-masa memasuki pemilihan legislatif (pileg).

“Banyak kader dan politisi yang menjadi kutu loncat ini mengindikasikan partai salah dalam mendidik dan mengader. Ini fenomena yang sampai saat ini masih terus terjadi,” kata Pengamat Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Joko Prihatmoko, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menambahkan, pertama hal itu menunjukkan adanya ideologi parpol yang mencair. Artinya, parpol sudah tak memiliki identitas dan ideologi yang kuat. Ujung-ujungnya, kader yang didik juga menjadi apatis dan ketika ada kader dari parpol lain mereka menerima dengan terbuka.

“Kader juga akhirnya hanya berpikiran sederhana bagaimana bisa maju dalam Pileg. Tidak lagi memperhatikan apakah parpol pengusung memiliki ideologi sama atau tidak,” ujarnya.

Joko Prihatmoko menilai, kondisi ini jika terus terjadi jelas tidak bagus. Karena parpol tak memiliki ideologi dan hanya mementingkan kepentigan kelompoknya. Satu sisi, para politisi-politisi juga tak akan memiliki identitas, karena sering berpindah-pindah dari satu parpol ke parpol lainya. “Ini harus menjadi warning, karena hampir semua partai mengalami hal serupa. Miskin kader akhirnya menerima siapa saja yang masuk. Bahkan, parpol yang berbasis kader saja bisa menerima orang non kader,” tegasnya.

Parpol harus bisa mengembalikan ideologinya agar bisa benar-benar berjalan sesuai visi-misi. Termasuk dengan benar-benar menyiapkan kader dari bawah agar memiliki integritas dan komitmen membesarkan partai. Dengan begitu, maka peran parpol sebagai bagian demokrasi benar-benar maksimal dan berbasis kepentingan masyarakat. “Jika yang masuk legislatif apatis, ya akan mementingkan kepentingan pribadi. Padahal mereka duduk di kursi itu sebagai representasi dari masyarakat Jateng,” katanya.

Kepentingan masyarakat harus diutamakan dibandingkan kepentingan pribadi. Parpol memiliki ideologi dan visi-misi kuat untuk kepentingan masyarakat umum. Selain itu, pengkaderan menjadi hal penting agar tak ada dinasti politik atau kepentingan pribadi.

“Kader banyak lompat sana-sini karena partai ya menerima dengan berbagai pertimbangan. Jika parpol ingin punya kader solid dan kuat, maka harus dibangun dari bawah,” ujarnya. (fth/aro)