Sukses Menegerikan Untidar

Prof Dr Cahyo Yusuf MPd, Mantan Rektor Universitas Tidar Magelang

328
HAK CIPTA : Prof Dr Cahyo Yusuf MPd menerima sertifikat pengakuan hak cipta karya akademik dosen Untidar. (Dokumen Untidar)
HAK CIPTA : Prof Dr Cahyo Yusuf MPd menerima sertifikat pengakuan hak cipta karya akademik dosen Untidar. (Dokumen Untidar)

RADARSEMARANG.COM – RASANYA sulit memisahkan antara Universitas Tidar (Untidar) Magelang dengan Prof Dr Cahyo Yusuf MPd. Mantan rektor ini merupakan tokoh di balik suksesnya perubahan status Untidar dari perguruan tinggi swasta menjadi negeri. Meski masih memungkinkan untuk kembali maju dalam pemilihan rektor periode 2018-2022, Cahyo memilih kembali menjadi dosen biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untidar.

Pilihan tak lagi maju kembali untuk mengikuti seleksi calon rektor 2018-2022, bagi Cahyo, adalah sebuah pilihan bijak dan tepat. Cahyo merasa perkembangan Untidar setelah menjadi negeri, membutuhkan rektor yang memiliki kemampuan akademik yang mumpuni dan mampu membawa Untidar menjadi universitas berbasis riset.

Baca Juga: Pikiran dan Waktu Adalah Untuk Sesama

“Terus terang saya menyadari bahwa Untidar membutuhkan sosok rektor yang menguasai kemampuan akademik di atas rata-rata, sehingga mampu membawa Untidar berlari cepat dengan perguruan tinggi negeri lainnya. Pertimbangan itulah yang membuat saya memilih untuk tidak mencalonkan lagi meski banyak desakan yang meminta saya ikut maju,” kata Cahyo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Cahyo sudah merasa bangga telah mampu membawa Untidar maju pesat dan menjadi universitas negeri. Selain itu, ia juga merasa bahagia karena telah meletakkan dasar administrasi dan manajemen kampus secara modern namun berdasar pada asas kebersamaan atau kekeluargaan.

“Terus terang, latar belakang Untidar sebagai universitas swasta pastinya menimbulkan riak-riak serta permasalahan, baik dengan pemilik yayasan maupun tenaga kependidikan. Namun, Alhamdulillah karena kebersamaan itulah maka riak-riak tersebut bisa diatasi dan bahkan sekarang semua merasa memiliki Untidar,” jelas pria yang 11 tahun menjabat sebagai Rektor Untidar ini.

Cahyo mengenang saat berjuang dan merumuskan langkah penegerian Untidar mulai 2005 silam bersama Wali Kota Magelang saat itu, Fahriyanto. Saat itu, Pemkot Magelang begitu membantu dalam upaya penegerian Untidar, bahkan menghibahkan tanah milik Pemkot di depan RSJ dr Soerojo Kota Magelang.

“Namun demikian, karena sesuatu hal dan dukungan pemerintah saat itu terbatas karena aturan, maka tahun 2005 kandas. Pada tahun 2007 kemudian wacana kembali namun kandas. Pun tahun 2009 diusulkan kembali namun kandas hingga berlanjut tahun 2010. Pada tahun 2010 inilah keinginan untuk penegerian Untidar semakin kuat disertai dengan persiapan matang,” tuturnya.

Saat menjabat sebagai rektor di tahun 2007-an, desakan penegerian menjadi semakin kuat. Pada saat itu, ia mengaku lebih berusaha secara maksimal bersama civitas Untidar. Cahyo kemudian memanfaatkan jaringan warga Magelang yang telah menjadi pejabat pemerintahan pusat.

“Saya kemudian ke Jakarta untuk menemui Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof Komarudin Hidayat yang punya akses lebih luas, untuk menyampaikan pandangan dan usulan Untidar menjadi universitas negeri. Prof Komarudin kemudian setuju dan berjanji akan membantu dengan mengajak para koleganya termasuk pada saat itu Pak Mardiyanto (Menteri Dalam Negeri, red),” imbuhnya.

Setelah dibantu oleh Komarudin bersama koleganya, proses penegerian Untidar mempunyai titik terang. Meskipun ia harus rela bolak balik Jakarta-Magelang untuk mengurus masalah proses penegrian Untidar. “Saya harus bolak balik konsultasi mengenai perkembangan proses penegerian. Bahkan saat itu, syarat menjadi negeri harus mempunyai lahan minimal 35 hektare, disuruh sambil melengkapi syarat lahan tersebut,” bebernya.

Setelah berusaha semaksimal mungkin, akhirnya Untidar berhasil memiliki lahan seluas 37 hektare yang dipersiapkan dalam proses penegerian. Kepastian status pergururan tinggi negeri menjadi terang pada akhir tahun 2013. Pada 1 April 2014, akhirnya Untidar resmi menjadi PTN dan surat peresmian diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada 2 April 2014.

“Alhamdulillah akhirnya saat itu Untidar resmi menjadi universitas negeri. Itu semua berkat perjuangan seluruh civitas kampus. Karena saat proses penegerian pun, secara bersama-sama bekerja mempersiapkan segala sesuatunya, terutama pihak yayasan yang akhirnya turut mendukung penegerian Untidar,” urainya.

Cahyo mengaku, penegerian Untidar membawa dampak dan tanggung jawab besar. Manajemen universitas dan kualitas dosen perlu ditingkatkan. “Saya mulai menerapkan pembelajaran komprehensif namun secara holistik (utuh), terlebih Untidar telah memantapkan diri menjadi Universitas berbasis riset dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kewirausahaan. Dosen jangan hanya menjadi penceramah di ruang perkuliahan namun justru mendorong mahasiswa lebih kreatif dan siap bersaing serta bersinergi di masyarakat,” jelasnya.

Cahyo berharap, Untidar akan semakin berkembang. Baik dalam segi adanya bangunan kampus, jumlah mahasiswa serta penambahan tenaga kependidikan. Rektor pengganti akan mengemban harapan ini.

 “Saya cukup kembali menjadi dosen pengajar di FKIP saja. Meski hanya dosen, saya tetap mengamati perkembangan Untidar karena masih ada di dalamnya. Saya sudah cukup bangga pernah tumbuh dan besar bersama Untidar,” tukas Cahyo. (had/ton)