Pikiran dan Waktu Adalah Untuk Sesama

193
BERSAMA KELUARGA : Prof Dr Cahyo Yusuf MPd bersama keluarga dan almarhumah istrinya, Hj Suwerli. (Dokumen Untidar)
Dokumen Untidar BERSAMA KELUARGA : Prof Dr Cahyo Yusuf MPd bersama keluarga dan almarhumah istrinya, Hj Suwerli.

RADARSEMARANG.COM – FALSAFAH hidup yang dipegang Prof Dr Cahyo Yusuf MPd inilah yang membuatnya bisa terus membaktikan dirinya di almameter tercinta, Universitas Tidar. Meski kesibukannya sangat cukup padat semasa menjabat sebagai rektor, waktu bersama keluarga merupakan ritual wajib. Selain mempunyai falsafah bahwa seluruh pikiran dan waktu adalah untuk sesama, Cahyo adalah sosok yang disiplin, teliti serta bertanggungjawab. Falsafah inilah yang membawanya mampu membawa perubahan dalam Untidar, yang semula universitas swasta menjadi universitas negeri.

“Karena dalam upaya menegerikan Untidar, semua pikiran dan waktu untuk sesama, dalam artian bahwa penegerian Untidar adalah kelak untuk sesama atau semuanya. Upaya penegerian ini juga didasari karena kedisiplinan, teliti dan bertanggungjawab. Hal ini yang kelak harus dipegang oleh seluruh civitas kampus setelah ada rektor yang baru,” bebernya.

Baca Juga: Sukses Menegerikan Untidar

Cahyo mengaku, masa-masa down pasti dialami manusia. Termasuk dirinya saat kehilangan istri tercinta yang meninggal pada Agustus 2016 silam karena penyakit kanker. “Normal karena adalah manusia, saya pernah mengalami masa-masa itu. Jabatan rektor merupakan tanggungjawab besar dan tidak ada pendamping hidup di samping saya. Saya sempat down namun bangkit karena ada tanggung jawab besar yang saya ambil. Terlebih ada dua anak saya yang terus mendorong saya untuk bangkit,” imbuhnya.

Cahyo mengaku, pernikahan keduanya bersama Sri Mujiati, seorang guru PAUD pada Mei 2018 lalu, telah memberikan semangat dalam menjalani dan menikmati hidup. Terlebih kini, ia hanya menjadi seorang dosen, sehingga lebih banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama keluarga. (agus.hadianto/ton)