Pendidikan Karakter dalam Pelajaran Seni Musik

73
Oleh: Elly Maharani Shakti, S.Pd
Oleh: Elly Maharani Shakti, S.Pd

RADARSEMARANG.COM – Pelajaran Seni musik di sekolah selain mengenalkan penggunaan alat musik atau olah vokal juga merupakan sarana pendidikan karakter pada peserta didik. Tidak semua peserta didik bisa mengikuti pelajaran seni musik dengan baik, khususnya untuk materi praktik. Namun paling tidak peserta didik dapat mengasah nilai-nilai karakter yang ada pada pelajaran seni musik.

Berdasar pada Permendikbud nomor 23 Tahun 2015, maka proses belajar di sekolah, selain mengutamakan penguasaan kompetensi akademik dan keterampilan, juga harus mampu menguatkan kompetensi kepribadian. Pengembangan pendidikan karakter dilaksanakan untuk mencapai kompetensi kepribadian para peserta didik. Kegiatan pengembangan pendidikan karakter disisipkan dalam kurikulum 2013 melalui proses belajar tanpa menambah mata pelajaran baru. Penyisipan materi pengembangan pendidikan karakter dilakukan pada mata pelajaran yang sudah ada dengan menambahkan penguatan-penguatan karakter yang akan dicapai melalui proses belajar.

Dalam mata pelajaran seni musik ada tiga nilai karakter dari delapan belas nilai karakter berlandaskan budaya bangsa yang dapat dikembangkan. Satu, karakter disiplin. Pelajaran seni musik identik dengan bermain alat musik atau olah vokal. Bermain alat musik atau olah vokal harus disiplin karena untuk mengalunkan nada yang merdu harus mematuhi notasi yang sudah diatur tinggi rendah nada. Tanpa adanya kedisiplinan dalam bermusik maka tidak akan tercipta harmonisasi nada-nada yang merdu untuk didengar. Karakter disiplin yang terdapat pada seni musik dapat dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti disiplin dalam mengerjakan tugas, tepat waktu dan tertib. Jika kedisiplinan dalam bermusik mampu menciptakan alunan lagu yang merdu, maka dalam kehidupan sehari-hari kedisiplinan akan menciptakan keteraturan yang memberikan rasa tentram layaknya sedang mendengar sebuah lagu yang merdu.

Dua, karakter toleransi. Dalam seni musik dapat dimaknai sebagai batas ukur notasi atau tinggi rendah nada dalam bermain musik. Ketika peserta didik sedang memainkan musik atau bernyanyi maka telinga sebagai indra pendengar adalah sebagai alat ukurnya. Ketika nada atau bunyi yang dihasilkan sesuai dengan ambang toleransinya maka akan terdengar nada-nada yang merdu namun bila melebihi atau kurang dari ambang toleransinya maka akan terdengar nada sumbang. Karakter toleransi juga muncul ketika ada sekelompok orang sedang bermain musik atau melantunkan lagu dalam sebuah kelompok vokal. Menepis keegoisan yang ada pada diri sendiri untuk tampil dominan, karena dalam bermain musik secara berkelompok dibutuhkan kerjasama yang mengedepankan toleransi. Karakter toleransi dalam seni musik harus dikembangkan oleh pengajar kepada peserta didiknya sehingga karakter tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu menumbuhkan rasa empati terhadap sesama seperti memberikan tempat duduk bagi ibu hamil atau manula pada fasilitas-fasilitas umum.

Tiga, karakter tanggung jawab. Karakter ini dapat ditemukan dalam seni musik ketika peserta didik harus menampilkan sebuah lagu baik secara individu maupun kelompok. Khusus pada penampilan kelompok, karakter tanggung jawab sangat menonjol karena dibutuhkan kerja sama. Kerja sama dalam sebuah kelompok akan terjalin jika tiap anggotanya melakukan peran dan tanggung jawabnya. Karakter ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik baik di lingkungan sekolah dan di lingkungan rumah dengan melaksanakan kewajibannya dengan baik sehingga akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab.

Pengajar seni musik harus mampu mengenali karakter yang ada pada peserta didiknya agar dapat mengembangkan potensi musik dalam diri peserta didiknya secara maksimal. Tanpa adanya pengembangan pendidikan karakter dalam proses belajar musik maka tidak akan tercipta talenta musik yang dapat membawakan sebuah lagu secara baik. (igi2)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga