SIMPAN MEMORI : Pengunjung berfoto di depan tempat tidur khas warga Peranakan Tionghoa yang dipamerkan di Semarang Contemporary Art Galery. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
SIMPAN MEMORI : Pengunjung berfoto di depan tempat tidur khas warga Peranakan Tionghoa yang dipamerkan di Semarang Contemporary Art Galery. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sejumlah benda-benda koleksi Peranakan Tionghoa Indonesia dipamerkan di Semarang Contemporary Art Galery. Mulai dari alat musik, meja kursi, furniture seperti ranjang berukir banji, tempat cuci muka, laci pakaian, tempat lilin, dan kotak bersusun penyimpan obat, semuanya dapat disaksikan di galeri yang terletak di kawasan kota lama Semarang ini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat membuka pameran ini mengatakan, adanya benda-benda ini membuat orang tahu sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia. Termasuk kontribusinya dalam perjalanan sejarah Indonesia. Baik dari sisi seni budaya, perdagangan dan hal lainnya.

”Dapat diambil pelajaran bahwa yang meyakinkan Bhineka Tunggal Ika itu ya seperti ini. Yang terpenting tidak rasis bahwa kami semua Indonesia,” jelas Ganjar, Jumat (13/7) malam.

Dari sekian banyak benda yang dipamerkan, ketertarikan Ganjar tertuju pada gamelan dengan desain akulturasi Eropa, Jawa dan Tiongkok. Selain alat musik dengan desain perpaduan, instrumennya juga tidak murni Jawa saja, melainkan ada unsur kebudayaan Tiongkok.

”Perkawinan adat, budaya dan orang ini sudah berlangsung lama. Ini menjadi artefak sejarah yang semuanya bisa disaksikan di sini,” ujarnya.

Keberadaan gamelan ini memang mengundang perhatian banyak orang, termasuk Cheka Sekonda. Memasuki galeri, perhatian pria asal Jogjakarta ini langsung tertuju pada alat musik yang dipajang di lantai satu, tidak jauh dari pintu masuk.

”Paling besar ya dari benda-benda lainnya. Kemudian bentuknya juga bagus. Saat masuk wanginya juga khas,” ujar pria 28 tahun yang datang bersama pasangannya ini.

Pemilik Semarang Contemporary Art Gellery, Chris Darmawan berujar bahwa benda-benda ini sangat langka. Ia menyebut, pameran seperti ini merupakan kali pertama diselenggarakan di Semarang.

”Sebenarnya budaya peranakan sangat lekat dengan kehidupan kita saat ini. Sayangnya kalau melihat benda-benda ini konotasinya itu selalu ke masa lalu,” jelasnya. (sga/ton)