Eksplorasi Kebisingan Musik Noise

1698
KOLABORASI: Grup musik Sambernyawa berkolaborasi dengan noise maker Tri Wahyuliyanto. (ISTIMEWA)
KOLABORASI: Grup musik Sambernyawa berkolaborasi dengan noise maker Tri Wahyuliyanto. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – MUSIK Noise boleh dibilang belum sepopuler genre musik-musik lainnya. Meski demikian, musik ‘bising’ ini belakangan mulai banyak dimainkan, bahkan dikolaborasikan dengan seni-seni lainnya.

Salah seorang noise maker, Tri Wahyuliyanto mengungkapkan, berbeda dengan lazimnya berbagai genre musik lain yang memiliki pola nada tertentu, musik noise lebih bebas. Suara yang dikeluarkan pun tidak melulu dari alat-alat musik yang lazim dikenal.

“Kita bisa merespon apapun yang ada di sekitar kita. Entah itu alat musik, synthesizer, suara mesin, suara gergaji, suara seng, suara keriuhan di jalanan, dan lain-lain bisa dimasukkan ke dalam noise, yang penting ada bisingnya,” ujar Tri.

Cowok dengan nama panggung Bedebah (Bermain Dengan Bahagia) ini tertarik untuk masuk ke genre tersebut karena dinilai cukup unik. Ia bebas memasukkan berbagai suara untuk berekspresi tanpa harus terpaku pada pakem tertentu.

Tapi, diakuinya juga, tidak semua orang bisa menerima aliran antimainstream tersebut. Mengingat kebisingan suara-suara yang dihasilkan. Penikmatnya pun masih tersegmen, belum sebesar aliran-aliran musik lainnya.“Saat di awal-awal saya memainkan musik noise pada 2015 lalu juga sempat diprotes warga, karena terlalu berisik,” ujarnya.

Sekarang, lanjutnya, sudah mulai beberapa kali diundang untuk memainkan musik noise. Semarang, Surabaya, dan Jogjakarta. Dalam aksinya, lelaki asal Pati ini kadang murni memainkan musik noise, kadang juga dikolaborasikan dengan seni lainnya.

“Biasanya saat diawal-awal saya bermain, banyak wajah-wajah penonton yang bingung, agak lama sedikit saya mulai membaca teks-teks Jawa Kuno. Jadi musik noise tadi menjadi latar dari teks-teks yang saya bacakan,”ujarnya.

Ya, musik noise kini juga banyak dikombinasikan dengan seni lainnya. Grup musik Sambernyawa, salah satunya. Grup musik dengan aliran eksprerimental ini menggunakan noise untuk mengisi pada bagian-bagian tertentu.

“Musik eksperimental bagi kami lebih luas, karena itu kerap dikombinasikan dengan berbagai hal, salah satunya musik noise. Sehingga menghasilkan suara yang lebih variatif didengar, di bagian-bagian tertentu noise ini menciptakan energi, karena pasti direspon oleh telinga,” ujar salah seorang grup musik eksperimental Sambernyawa, Riska Farasonalia. (dna/bas)