AKIBAT HOAX : Sejumlah wali murid datang ke SMP Negeri 3 Kota Semarang, Jumat (13/7) kemarin. Mereka datang setelah mendapatkan pesan singkat dari smartphone tentang sekolah kekurangan murid. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKIBAT HOAX : Sejumlah wali murid datang ke SMP Negeri 3 Kota Semarang, Jumat (13/7) kemarin. Mereka datang setelah mendapatkan pesan singkat dari smartphone tentang sekolah kekurangan murid. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Karut marut dunia pendidikan pada penerimaan siswa didik baru (PPDB), dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab menyebarkan hoax. Seperti Jumat (13/7) kemarin, tersebar isu beberapa SMP favorit kekurangan kuota dan masih membuka pendaftaran, SMP N 3, SMP N 13, SMP N 24, SMP N 25 dan SMP N 26 Semarang.

Akibat isu tersebut, banyak orang tua siswa mendatangi sekolah dan berharap anaknya bisa diterima di sekolah tersebut. Padahal pihak sekolah sendiri telah mengumumkan jumlah siswa yang diterima secara online bahkan telah melakukan daftar ulang.

“Tadi ada yang kesini (orang tua siswa, red) yang ingin mendaftar. Ternyata termakan isu hoax yang tersebar di sosial media (Sosmed), padahal kuotanya sudah terpenuhi,” kata Rudi, staf tata usaha di SMP 13 Semarang, Jumat (13/7) kemarin.

Ia menerangkan, Kamis (12/7) lalu, siswa yang diterima sudah melakukam daftar ulang. Bahkan Sabtu pagi (14/7) besok, siswa yang diterima akan mendapatkan arahan dan pembekalan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). “Jumlah siswa yang diterima kuotanya 287 siswa. Jumlah itu sudah memenuhi kuota. Bahkan kemarin pendaftar sampai 700 calon siswa,” tuturnya.

MPLS sendiri, rencananya akan dimulai Senin (16/7) mendatang. Dirinya menegaskan pihak sekolah tidak menerima siswa baru untuk kelas 7. Ia pun menyesalkan adanya berita hoax terkait sekolah kekurangan kuota yang menyebabkan banyak orang tua siswa tertipu alias kecele. “Sangat menyesalkan isu tersebut. Banyak masyarakat yang tertipu,” keluhnya.

Selain di SMP N 13 Semarang, SMP N 3 juga tercatut namanya. “Memang ada isu itu dan saya pastikan itu hoax,” kata Rohadi, ketua PPDB SMP N 3 Semarang.

Rohadi pun berpesan kepada masyarakat agar lebih teliti dan tidak mudah tertipu. Menurutnya dengan sistem online, pihak sekolah tidak bisa mengakali jika memang kekurangan kuota siswa. Selain itu, segala informasi terkait penerimaan siswa dan jumlah kuota juga telah ditampilkan pada situs ppd.semarangkota.go.id. “Kuotanya sudah terpenuhi, kemarin kami menerima 256 siswa baru,” tegasnya.

Jumlah Siswa Miskin Bertambah

Sementara itu, terkait permasalahan SKTM, Pattiro Semarang menemukan jika pengguna SKTM untuk mendaftar sekolah tingkat SMA/SMK di Jateng mengalami penambahan cukup signifikan. Yakni sebanyak 4.672 siswa miskin terbagi di SMA 585 orang dan SMK 4.087 orang.

Ketua Posko Layanan Pengaduan PPDB Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah, Pattiro Semarang  M Syofii menerangkan jumlah total 4.672 siswa tersebut terbagi menjadi beberapa daerah, terbesar adalah Kabupaten Tegal 1.134 orang, Kabupaten Sragen 779 orang, Kota Semarang 586 orang. Sedangkan 3 daerah yang berkurang cukup banyak adalah Kabupaten Grobogan 291 orang, Kota Tegal 93 orang, Kabupaten Boyolali 74 orang. “Jumlah ini meningkat karena pihak sekolah tidak maksimal ketika melakukan verifikasi faktual,” katanya.

Ia menerangkan, selain waktu yang mepet, banyaknya pengguna SKTM palsu dipengaruhi oleh pendeknya waktu untuk melakukan verifikasi faktual dengan waktu pengumuman dibandingkan jumlah pengguna SKTM yang sangat besar. Hal itu, tidak memungkinkan melakukan survei langsung ke rumah-rumah siswa. “Karena waktunya mepet pihak sekolah tidak maksimal. Apalagi SDM-nya terbatas,” ucapnya.

Fakta lainnya adalah, banyaknya orang tua siswa yang melakukan pencabutan berkas, kemudian kembali mendaftar dengan menggunakan SKTM dengan harapan bisa diterima di sekolah negeri. “Kami meminta agar Disdikbud Jateng memerintahkan sekolah untuk melakukan verifikasi faktual, walaupun siswa yang bersangkutan sudah diterima,” ucapnya.

Setelah siswa pengguna SKTM palsu dapat dilacak, lanjut dia, kemudian dilakukan pencoretan kepada siswa yang bersangkutan dan menggantinya dengan siswa yang benar-benar miskin. “Melakukan seleksi ulang secara transparan atas kursi kosong yang ditinggalkan siswa miskin yang menggunakan SKTM palsu,” tuturnya.

Meski dinilai merugikan, sejumlah SMA swasta merasa diuntungkan dengan banyaknya siswa yang tidak diterima di SMA negeri. Kini banyak siswa yang memiliki nilai tinggi, namun gagal masuk ke sekolah negeri, sehingga banyak yang memilih sekolah swasta. Misalnya saja di SMA Sultan Agung 01 Semarang yang tiba-tiba kebanjiran pendaftar.

“Sampai saat ini, pendaftar sudah mencapai 460 siswa, padahal tahun ini kami hanya menerima 365 siswa,” ucap Abdul Muis, ketua PPDB SMA Sultan Agung 01 Semarang.

Selain jumlah pendaftar yang meningkat, ia menyebutkan kualitas pendaftar tahun ini mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari nilai yang digunakan untuk mendaftar ada yang di atas rata-rata. “Dari segi nilai banyak yang bagus, bahkan mereka kebanyakan dari orang tua golongan mampu,” tambahnya. (den/ida)