SMA Negeri Kurang Siswa

Pasca Dicoretnya Pengguna SKTM Palsu

256
DAFTAR ULANG: Proses daftar ulang calon peserta didik baru yang diterima di SMA Negeri 1 Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DAFTAR ULANG: Proses daftar ulang calon peserta didik baru yang diterima di SMA Negeri 1 Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Pasca dicoretnya 36.016 calon peserta didik baru yang ketahuan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) palsu, menimbulkan persoalan baru. Yakni, jumlah siswa yang diterima di  SMA negeri di Jateng tidak memenuhi target kuota atau daya tampung.

Tercatat, dari daya tampung SMA negeri di Jateng sebanyak 113.325 kursi, hanya terpenuhi 113.092 pendaftar, atau seperti yang disebut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, SMA negeri kekurangan 233 siswa. Belum lagi ditambah jumlah siswa yang dicoret akibat diketahui menggunakan SKTM palsu, sebanyak 36.016 calon peserta didik. Praktis, hanya 77.076 kursi SMA negeri yang terisi dari daya tampung 113.325 kursi. Sehingga terjadi kekurangan sebanyak 36.249 siswa baru.

Meskipun tidak memenuhi daya tampung maksimal, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Gatot Bambang Hastowo menegaskan, bahwa tidak ada pendaftaran gelombang 2. Sebab, dikatakan dia, pendaftaran secara online sudah selesai. ”Tidak, tidak ada pendaftaran lagi. Jumlahnya ya seperti yang ada,” jelasnya.

Calon pesera didik yang telah didiskualifikasi, ujarnya, dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta.

Mengenai jumlah peserta didik, pengamat pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof Dr Masrukhi MPd, menjelaskan, dalam peraturan disebutkan bahwa jumlah siswa SMA dalam satu rombongan belajar (rombel) sekurang-kurangnya terdiri atas 20 siswa dan sebanyak-banyaknya 36 siswa. Sementara untuk SMK, sekurang-kurangnya 15 siswa dan sebanyak-banyaknya 36 siswa.  ”Sehingga sepanjang masih dalam rentang itu, saya kira masih normal,” jelas Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ini.

Senada dengan yang dikemukakan Ganjar, kekurangan siswa tidak terlalu menjadi persoalan. Semakin sedikit siswa, kata dia, justru lebih bagus dalam hal efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Sebab, semakin sedikit, maka siswa akan semakin terkonsentrasi pada proses pembelajaran.

Hanya saja, kata dia, kurangnya siswa akan berpengaruh terhadap pemasukan anggaran sekolah. ”Risikonya hanya masalah pemasukan sekolah saja,” katanya.

Seperti yang terjadi di SMKN 1 Purwokerto, Banyumas. Di sekolah ini tidak terjadi kekurangan siswa. Hanya saja, dari kuota sebanyak 72 siswa, semuanya diisi oleh siswa dari keluarga miskin. ”Jelas berpengaruh terhadap pengembangan sekolah. Tentu beban pemerintah akan semakin besar, karena tidak ada dana peran serta masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkan pengamat pendidikan Prof Mungin Eddy Wibowo, menjadi keprihatinan dalam dunia pendidikan di Jateng jika memang SMA negeri kekurangan siswa. Jika memang demikian, ia katakan, perlu dipertanyakan mengenai kualitas pendidikan dan manajemen penerimaan peserta didik baru di Jateng.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan, banyaknya pendaftar menggunakan SKTM di SMK dilihatnya sedikit wajar. Sebab, menurutnya, mereka yang tidak mampu memang berpikir untuk melanjutkan pendidikan di SMK, sehingga ketika lulus bisa langsung disalurkan ke dunia kerja.

Dengan banyaknya siswa miskin, Ganjar tidak mempersoalkan mengenai anggaran. Karena mereka akan dibantu dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). ”Anggaran akan dibantu dengan BOS. Yang miskin maupun yang nggak, semua kita bantu. Nanti yang khusus-khusus mendapatkan yang lain-lain kita siapkan,” jelasnya.

Sementara itu, ratusan calon peserta didik baru bersama orangtuanya yang diterima di SMA Negeri 1 Semarang kemarin melakukan pendaftaran ulang. Tercatat, sebanyak 324 siswa diterima di jurusan matematika dan IPA (MIPA) dan 108 di jurusan IPS.

Di SMKN 4 Semarang, sebanyak 605 siswa diterima di sembilan kompetensi keahlian. Tercatat, 300 siswa baru SMKN 4 diterima dengan modal SKTM, 10 di antaranya memiliki nilai di bawah 20.00. Artinya, 50 persen dari siswa baru berasal dari golongan tidak mampu.

Para calon peserta didik dan orangtuanya yang tidak diterima di SMK ini kemarin melakukan pencabutan berkas. Salah satunya Sigit Wibowo, warga Mijen. Ia mengaku kecewa, putranya tidak diterima masuk lantaran kalah dengan pendaftar lain yang menggunakan SKTM. Padahal putranya memiliki nilai yang relatif lebih bagus. “Nilai anak saya 26.00, tapi gagal. Yang di bawah 20.00 justru diterima. Tadi sudah saya daftarkan ke SMA swasta di Kedungpane. Sekarang tidak perlu anak pintar, kalau punya SKTM ya gampang,” keluhnya.

Kepala SMKN 4, Felix Yuniarto, mengaku banyak keluhan dan laporan dari para orangtua siswa terkait dengan sistem penerimaan peserta didik baru kali ini. Termasuk soal aduan surat keterangan tidak mampu dimiliki oleh seorang siswa dengan nilai ujian 9.00. Namun setelah menindaklanjuti kejadian tersebut dengan datang langsung ke alamat pihak terkait, memang benar bahwa anak tersebut berhak diterima di SMKN 4.

“Karena sistem sekarang memang prioritas untuk warga miskin, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi warga yang mampu dan memiliki nilai yang cukup, kami mohon maaf agar mendaftar di sekolah swasta,” jelas Felix.

Pihaknya mengaku khawatir peringkat sekolah bakal turun dan siswa dengan nilai rendah tidak bisa mengikuti  pelajaran dengan baik. “Kami bagian dari aparatur sipil negara, kami mau tidak mau mengikuti sistem yang sudah ditetapkan dan bersikap adil agar si anak juga bisa ikut berkembang,” katanya.

Orangtua calon peserta didik lainnya, Ny Agus, juga mengungkapkan kekecewaaannya lantaran anaknya gagal masuk di SMA negeri. “Anak saya mendaftarkan online pilihan pertama di SMAN 10, gak diterima. Pilihan kedua di SMAN 15 juga tidak diterima, ya terpaksa saya harus ke sekolah swasta. Padahal biayanya mahal,” keluhnya.

Ia juga geram dengan sistem zonasi yang telah menyingkirkan anaknya dari sekolah negeri, padahal nilai anaknya relatif bagus.

“Karena sistem zonasi ini membuat anak saya tersingkir dari sekolah negeri, kakaknya sekolah di negeri dan diterima dengan nilai 24, adiknya malah lebih karena ditambah piagam prestasi. Nilai anak saya kalau ditotal jadi 29.5, tapi ya itu gak diterima,” ucapnya kecewa.

Agus mengakui, selain masalah zonasi, anaknya juga kalah bersaing dengan pendaftar yang menggunakan SKTM. “Saya mendaftar sendiri ke sini (SMA Islam Sultan Agung 1) karena anak saya tidak mau diajak mendaftar sekolah swasta. Dia masih galau dan sedih di rumah,” tandasnya.

Di SMA Negeri 10 terdapat 322 siswa yang dinyatakan diterima. Meliputi 143 siswa jurusan MIPA dengan pengguna SKTM sebanyak 23 siswa, siswa berprestasi 11, dan luar zona 8 siswa. Untuk jurusan IPS menerima 143 siswa, dengan SKTM berjumlah  47 siswa, berprestasi 16 siswa dan luar zona 1 siswa. Sedangkan jurusan Bahasa dan Budaya menerima sebanyak 36 siswa dengan pengguna SKTM 10 siswa, berprestasi 2 siswa, dan luar zona 2 siswa.

Di SMAN 15 Semarang menerima 359 siswa. Sebanyak 251 memilih jurusan MIPA, dengan pengguna SKTM 23 siswa, berprestasi 28 siswa, dan luar zona 25 siswa. Sedangkan di jurusan IPS, pengguna SKTM sebanyak 32 siswa, berprestasi 12 siswa, dan luar zona 11 siswa.  (sga/mg12/mg13/mg8/mg14)

Silakan beri komentar.