Zonasi Ratakan Mutu Pendidikan

201
HALALBIHALAL : Wali Kota Semarang bersama Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang Prof Rasdi menghadiri halalbihalal MKKS Kota Semarang di Hotel Santika. (Ist)
HALALBIHALAL : Wali Kota Semarang bersama Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang Prof Rasdi menghadiri halalbihalal MKKS Kota Semarang di Hotel Santika. (Ist)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi salah satu upaya pemerataan mutu pendidikan.

“Dengan zonasi sekolah-sekolah ini kemampuan anaknya jadi merata. Yang pintar-pintar tidak hanya di SMP 2, SMP 3 saja, tapi bisa di SMP 24 atau SMP yang ada di Mijen,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, saat menghadiri halalbihalal dengan Keluarga Besar Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Kota Semarang di Hotel Santika, Rabu (11/7).

Selain itu, dengan sistem zonasi, khususnya di Kota Semarang, dapat mengurangi problematika kemacetan lalu lintas yang sering terjadi. “Coba dibayangkan kalau warga Gunungpati bersama-sama menyekolahkan anaknya di SMP 3, wah lewatnya jalur yang panjang bisa menimbulkan kemacetan,” kata Hendi, sapaan akrabnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin menambahkan, sistem zonasi berbasis tempat tinggal merupakan kebijakan pemerintah pusat yang baru dilaksanakan di tahun ini berdasar Permendikbud Nomor 14 tahun 2018. Bunyamin menghargai semuanya kemampuan, skill yang dimiliki siswa. Tidak ada yang tidak bisa dihitung untuk menambah nilai zonasi.

Bunyamin menambahkan, tahun ini mulai dibuka sekolah inklusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sehingga anak-anak tersebut akan bisa sekolah sama dengan anak-anak normal lainnya.

“Hal ini merupakan keberanian agar pendidikan bisa dirasakan untuk semua tanpa terkecuali,” tegas Bunyamin.

Sementara itu, terkait kegiatan halalbihalal Keluarga Besar MKKS SMK se-Kota Semarang, wali kota mendorong MKKS SMK mengatasi tantangan generasi milenial. Menurut Hendi, sapaan akrabnya, tantangan mendidik generasi milenial tidak hanya bagi anak mudanya tetapi juga para guru dan kepala sekolah. Butuh sinergitas ketiganya agar menghasilkan generasi yang berkualitas.

“Hal ini yang patut diperhatikan. Jika tidak diimbangi peran para guru dan Kepala Sekolah maka akan bisa terjadi gab knowledge dan gab informasi,” tutur Hendi.

Sedangkan tantangan selanjutnya adalah narkoba dan tawuran pelajar yang butuh pendekatan khusus dan sanksi yang tegas untuk mengatasinya. “Saya angkat jempol  yang dilakukan Kepala SMA 1 yang dengan tegas mengeluarkan siswa-siswanya yang memukuli juniornya meskipun dia di-bully,” tegas wali kota. (tsa/zal)

Silakan beri komentar.