Ujian di Kampung Mantyasih

210
LUWES : Para penari tampil memukau dalam Latar Seni Mantyasih (Latasih) di Pendopo Kampung Meteseh, Selasa (10/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
LUWES : Para penari tampil memukau dalam Latar Seni Mantyasih (Latasih) di Pendopo Kampung Meteseh, Selasa (10/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Sejarah dan budaya yang ada di Kampung Meteseh (Mantyasih) Kelurahan Magelang Kota Magelang selama ini, menarik minat mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bahkan, para mahasiswa ISI Surakarta menyajikan pementasan budaya bertema Latar Seni Mantyasih (Latasih), Selasa (10/7) malam lalu.

Ketua Panitia Latasih, Bagus Pulung mengatakan, sajian Latasih ini sebenarnya merupakan ujian mata kuliah manajemen seni pertunjukan. “Kami tertarik pentas di sini, karena selain Kampung Mantyasih yang bersejarah, juga ingin mengenalkan lebih luas lagi seputar kampung ini. Termasuk mengenalkan beragam jenis seni tari yang ditampilkan oleh kami mahasiswa dan murid-murid sanggar seni di Kota Magelang,” beber Bagus.

Bagus menuturkan, keberadaan Kampung Meteseh sangat penting bagi Kota Magelang. Kampung ini diyakini menjadi cikal bakal berdirinya Magelang, berdasarkan prasasti Mantyasih yang ditemukan di kampung ini.

“Terlebih sekarang berdiri panggung pertunjukan yang megah di kompleks pendoponya. Sebagai mahasiswa seni, kami tertarik untuk mendalami sejarah Kota Magelang dan tentunya ingin membuat pentas di sini,” ungkap Bagus.

Beragam jenis seni tari ditampilkan baik dari mahasiswa ISI Surakarta maupun anak-anak yang bernaung di sanggar-sanggar seni di Kota Magelang. Di antaranya, tari gambyong pareanom, gedrug, tari jaranan anak, tari klana raja, tari prawira watang, tari dewi bulan, tari lenggasor, dan tari pimpah othok. Kemudian tari satriya wanuda (prajurit wanita), tari rewanda kusuma, tari perang kembang, tari tanjung baru, tari jejer jaran dawuk, brondut, dan kelompok seni Kampung Mantyasih. Mereka satu per satu tampil di panggung dan halaman terbuka yang disaksikan ratusan penonton.

Budayawan Kota Magelang, Alit Maryono, mengapresiasi pertunjukkan Latasih yang digagas oleh mahasiswa ISI Surakarta. Alit mengungkapkan, dengan mengambil tempat di Kampung Mantyasih, berarti mereka turut mempromosikan kampung wisata sejarah ini ke masyarakat luas. (had/ton)