Setor Fee di Awal Agar Dapat Proyek

231

Kalau nggak kasih uang dulu,  nggak dapat proyek. Memang jadinya pekerjaan nggak sesuai spek.

Saksi
Sulkan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Mantan Calon Bupati Kebumen Khayub Muhammad Lutfi, diduga menerima uang pelicin untuk memuluskan proyek. Hal tersebut terungkap dalam sidang pemeriksaan sejumlah saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (11/7).

Para saksi yang diperiksa atas perkara dugaan suap yang diberikan Komisaris PT Karya Adi Kencana (PT KAK) untuk Bupati Kebumen nonaktif, Mohammad Yahya Fuad sebesar Rp 4,9 miliar itu, diantaranya; kontraktor atau pengusaha jasa kontruksi, Sulkan, Suwarno, Haryanto, Supriyadi Maksum dan dua lagi PNS yakni, Teguh Kristianto dan Edy Riyanto.

Dalam kasus dugaan korupsi proyek-proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten Kebumen Tahun Anggaran 2016 tersebut, saksi Sulkan, yang juga pemilik PT Cahaya Mulya mengaku menyetor uang di awal ke terdakwa sebesar Rp 800 juta sekaligus, agar bisa memperoleh proyek ruas jalan. Atas pekerjaan itu, sekalipun sudah dipotong setoran ia mengaku masih memperoleh keuntungan 5 persen.

“Kalau nggak kasih uang dulu,  nggak dapat proyek. Memang jadinya pekerjaan nggak sesuai spek,” kata saksi Sulkan, saat dicecar Penuntut Umum (PU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia sendiri mengaku, mendapat pekerjaan proyek Jalan Wonosari, Gunungsari, dan Selogiri. Kemudian proyek dari ABPD untuk renovasi kantor BLK. Namun untuk proyek keduanya ia menyetor uang ke Zaini Miftah (Ketua PKB Kebumen) bersama 3 rekan lainnya yakni, Damar, Lukman dan Imron, sebesar Rp 110 juta.

Setoran itu, kata Sulkan, karena awalnya dijanjikan ada proyek DAK Pusat,  ternyata proyeknya tidak keluar, pihaknya pun menagih uang yang dierahkan agar dikembalikan. Namun akhirnya diganti proyek lain dengan pagu anggaran Rp 3,9 millar. Namun ia harus menambah setoran  lagi sebesar Rp 220 juta.

“Tapi sebagai gantinya untuk Damar nggak dapat apa-apa, Lukman dapat proyek pengairan pagu anggaran Rp 1,2 miliar. Kemudian Imron dapat proyek pengadaan air bersih dengan pagu anggaran Rp 400 jutaan,” bebernya.

Sementara itu, Suwarno mengaku menyetor Rp 150 juta langsung diberikan ke Khayub. Kemudian setor ke Ibung untuk proyek puskesmas Rp 150 juta. Sedangkan saksi, Haryanto mengaku menyetor Rp 70 juta ke terdakwa, dari nilai kontrak proyek Rp 980 jutaan.

“Jadi penawarannya seolah-olah banyak yang ajukan,  padahal di skenario sendiri,  karena perusahaan-perusahaan rata-rata milik sendiri,” kata Haryanto, juga diamini saksi Supriyadi Maksum, yang juga mengaku mendapat proyek anggaran Rp 5,5 miliar untuk pembangunan gor Prembun, kemudian ia menyetor sebesar Rp 250 juta.  (jks/zal)