Jumlah Pecandu Narkoba di Jateng Masih Tinggi

158
JUMPA PERS: Kepala BNN Kendal, AKBP Sharlin Tjahaja Frimer Arie saat press release di Kantor BNN Kab. Kendal setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JUMPA PERS: Kepala BNN Kendal, AKBP Sharlin Tjahaja Frimer Arie saat press release di Kantor BNN Kab. Kendal setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Ketakutan akan dijerat tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) menjadi penyebab pecandu enggan melapor ke Badan Narkotika Nasional (BNN) di masing-masing kabupaten kota untuk selanjutnya melakukan proses rehabilitasi.

Demikian dikatakan Kepala BNN Kendal, AKBP Sharlin Tjahaja Frimer Arie pada acara persiapan peringatan Hari Anti Narkotika Indonesia (Hani) Rabu (11/7). Kesadaran para pecandu untuk sembuh menurutnya sudah ada, namun menurutnya mereka takut kalau dilaporkan ke pihak yang berwajib.

“Mereka menduga kami BNN ini akan menangkap dan melaporkannya ke pihak kepolisian. Padahal tidak seperti, justru mereka yang melapor akan kami lindungi dan direhabilitasi hingga mereka bisa sembuh dari ketergantungan narkoba,” katanya pada acara persiapan peringatan Hari Anti Narkotika Indonesia (Hani) di Kantor BNN Kendal, Rabu (11/7).

Diakuinya, di Kendal sepanjang 2017, BNN Kendal menerima 11 pecandu narkoba. Sedangkan hingga semester pertama 2018 tercatat empat pecandu yang secara sukarela dan sadar melapor ke BNN Kendal. “Mereka yang melapor ini karena ingin sembuh dari ketergantungan,” tandasnya.

Dikatakannya untuk membuat para pecandu ini sadar, menurutnya dibutuhkan peran aktif keluarga untuk mendukung dan memotivasi. Sehingga para pecandu merasa mendapatkan kepercayaan untuk berubah dan menjalani hidup baru tanpa narkoba. “Peran keluarga sangat dibutuhkan, proses rehabilitasi ini sangat sulit, tidak semudah seperti yang dibayangkan,” akunya.

Tingkat pecandu narkoba di Kendal sendiri diakuinya masih cukup banyak. Kebanyak pemakai narkoba ini adalah usia anak hingga dewasa. Yakni usia 10-59 tahun. Sedangkan untuk tingkat Jawa Tengah (Jateng), penyalah guna narkoba 1,16 persen dari total jumlah penduduk Jateng.

Dari data Badan Pusat Statistik Jateng 2017 jumlah penduduk di Jateng ada sebanyak 34.257.865 jiwa. Jika dihitung dari jumlah tersebut, maka pecandu narkoba di Jateng ada sebanyak 397.391 jiwa. “Jadi masih sangat tinggi sekali, jadi ada yang sampai over dosis dan meninggal dunia” akunya.

Makanya, BNN Kendal mengajak seluruh elemen di masyarakat Kendal untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Hal itu bertujuan mewujudkan masyarakat yang sehat tanpa narkoba.

“Jika mengetahui adanya penyalahgunaan narkoba, segera laporkan kepada kami. Sebab, informasi dari warga sangat kami butuhkan untuk memerangi narkoba di Kendal,” tandansya.

Upaya untuk membrantas narkoba mulai dilakukan 2016 dengan membentuk kampung antinarkoba. Di 2017 lalu, BNN juga membentuk kader pegiat dan relawan anti penyalahgunaan narkoba. ‘’Jumlah kader pegiat sebanyak 200 orang dan relawan lebih banyak lagi,” jelasnya.

Kasubag TU BNNK Kendal, Wahyu Ratriani, menambahkan puncak peringatan HANI 2018 di Kendal dilaksanakan Kamis (12/7) ini. “Acara berupa resepsi yang dilaksanakan di Pendopo Kendal. “Kami akan memberikan penghargaan kepada pegiat anti narkoba dari unsur pemerintah dan pendidikan,’’ imbuhnya. (bud/bas)