Tim Investigasi Tak Temukan Dugaan Plagiasi

253
BERIKAN BUKTI : Ketua tim investigasi Unnes, Prof. Mungin Edi Wibowo memberikan bukti terkait hasil investigasi dugaan kasus plagiasi yang menjerat Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERIKAN BUKTI : Ketua tim investigasi Unnes, Prof. Mungin Edi Wibowo memberikan bukti terkait hasil investigasi dugaan kasus plagiasi yang menjerat Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tim investigasi yang dibentuk Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk menyelidiki dugaan kasus plagiat yang menyangkut nama Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, menyatakan dugaan plagiat tidak terbukti.

Tim investigasi itu sendiri beranggotakan empat guru besar yakni Prof Soesanto, Prof Achmad Slamet, dan Prof Bambang Hariyadi dengan ketua tim investigasi Prof Mungin Edi Wibowo. Investigasi digelar selama hampir satu bulan. Tepatnya mulai 9 Juni kemarin. Hasil ini sendiri disampaikan kepada sejumlah wartawan di Gedung Rektorat Unnes Lantai ke-4 di kampus Unnes, Gunungpati, Semarang, Selasa (10/7).

Ketua tim investigasi Unnes, Prof Mungin Edi Wibowo, mengatakan, dari hasil investigasi dan penelitian yang dilakukan, menyimpulkan jika Fathur  tidak melakukan plagiasi. Proses ini  sendiri digelar setelah seorang guru besar Unnes, Prof Saratri Wilonoyudho, menghembuskan isu plagiat yang dilakukan petinggi Unnes menjelang pemilihan Rektor Unnes periode 2018-2022. Ia menghembuskan isu itu melalui media sosial Facebook dan majelis Profesor, 7 Juni lalu.

“Kami sudah melakukan penyelidikan, hasilnya Fathur Rokhman tidak melakukan plagiat. Memang ada kesamaan antara artikel Anif Rida dengan Fathur Rokhman,” katanya.

Menurut informasi yang dihimpun, Rektor Unnes, Fathur Rokhman dituduh melakukan plagiat dari hasil skripsi mahasiswa Unnes, Anif Rida, berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

Skripsi dari Anif Rida sendiri dipublikasikan pada Konferensi Linguistik Tahunan (Kolita) Atma Jaya, Februari 2003. Setelah terbit, ternyata mirip dengan artikel ilmiah karya Fathur Rokhman berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang diterbitkan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Liter Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004.

“Kami coba menelusuri fakta tersebut dan menemukan jika dokumen penelitian Fathur Rokhman pada tahun 2002 ada di arsip Unnes dan berupa hard copy, tabel paragrafnya sama dengan karya Anif Rida tahun 2003 dan milik Fathur Rokhman sendiri pada tahun 2004,” paparnya.

Atas temuan tersebut, lanjut Mungin, dugaan plagiat yang menjerat Fathur Rokhman tidak bisa dibuktikan. Pasalnya sumber artikel yang dikeluarkan tahun 2004 tersebut mengacu hasil penelitiannya sendiri pada 2002. Hasil penelitian berjudul Pilihan Ragam Bahasa Dalam Interaksi Sosial Pada Ranah Agama di Pesantren Banyumas: Kajian Sosiolinguistik itu tidak dipublikasikan dan tersimpan rapi di perpustakaan kampus.

“Prof Fathur Rokham terselamatkan dengan dokumen ini. Sementara, Anif Rida saat menulis skripsi melakukan bimbingan dengan Fathur Rokhman,” ujarnya,

Terpisah sekretaris tim investigasi, Prof. Achmad Slamet, mengatakan, hasil tim investigasi telah dilaporkan kepada Irjen Kemenristek Dikti  dan Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Prof Ali Gufron pada 4 Juli lalu. Hasilnya dikeluarkan klarifikasi terkait dugaan plagiatisme yang dilakukan Fathur Rokhman tidak terbukti. (den/zal)