Pemilu Generasi Milenial

158
Oleh: Arif Rohman, S.Pd.I.
Oleh: Arif Rohman, S.Pd.I.

RADARSEMARANG.COM – Tahun 2018 merupakan “pemanasan” menuju puncak tahun politik 2019 yang akan digelar Pileg dan Pilpres serentak untuk pertama kali di Indonesia. Nuansa politik, terutama di media sosial, sangat semarak. Namun, yang cukup menggelisahkan adalah banyak masyarakat akar rumput yang “buta” dengan kontestasi politik, bahkan yang tahu soal kontestan pilkada saja tidak banyak.

Tiga provinsi paling besar di Jawa (Jabar, Jateng dan Jatim) telah menggelar pilgub pada 2018 ini. Banyak pengamat menyebut tiga pilgub di provinsi paling padat di Indonesia ini akan menentukan konstelasi pemilihan presiden tahun 2019.

Berdasarkan hasil pleno penghitugan suara tingkat provinsi baru-baru ini, Pilgub Jawa Tengah dimenangkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin, unggul atas penantangnya Sudirman Said-Ida Fauziyah. Adapun pemenang Pilgub Jatim pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, unggul atas rivalnya Saifullah Yusuf-Puti Guntur Sukarno. Sementara Pilgub Jabar pemenangnya adalah pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mengalahkan ketiga kompetitornya, Tb Hasanuddin-Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Generasi milenial

Generasi milenial, yaitu mereka yang lahir tahun 1980-2000, tahun ini akan mengalami partisipasi pemilu untuk pertama kali, menjadi pemilih pemula. Mereka adalah “massa politik” yang cukup menentukan. Di Jawa Tengah, jumlah pemilih pemula mencapai 60-70 persen dari sekitar 27 juta warga Jateng.

Pilkada serentak 2018 mencatat 85 orang muda (17 persen) mengikuti kontestasi pilkada. Namun, berbanding terbalik dengan antusiasme generasi milenial sebagai pemilih. Mereka cenderung apatis. Apatisme ini selain karena faktor cenderung labil dalam menentukan pilihan politik mereka (Kompas, 26 Maret 2018), dilandasi dengan alasan geografis.

Generasi milenial merupakan mereka yang sedang dalam usia menempuh pendidikan dan bekerja. Seringkali mereka tinggal boro (merantau) di luar kota dan luar provinsi. Mobilitas (kepulangan) mereka hanya berlangsung pada momen-momen tertentu (libur semesteran kuliah dan hari besar keagamaan).

Pendidikan politik

Pendidikan politik adalah keniscayaan bagi generasi muda yang peduli dengan bangsa dan masyarakat. Selama ini banyak jalan untuk berkiprah di jalur politik. Mahasiswa berlatih sejak di organisasi kemahasiswaan, intra maupun ekstra. Masyarakat membangun karir politik lewat organisasi keagamaan, ormas, organisasi profesi, atau jalan “instan” melalui jalur pengusaha.

Memang banyak cara berjuang di masyarakat, namun berjuang di lahan politik, baik di legislatif, eksekutif, maupun eksekutif, tak bisa dihindari. Karena kebijakan (policy) adalah mekanisme untuk perubahan yang meluas di masyarakat. Tanpa kebijakan (undang-undang, peraturan pemerintah), perubahan berlangsung sporadis dan kemungkinan tanpa arah.

Bagaimana sebetulnya upaya kita untuk mengajak generasi milenial ini terlibat dalam pemilu, entah sebagai partisipan aktif atau sebagai pengawasan? Watak generasi milenial sesungguhnya adalah mereka yang memiliki kepedulian tinggi.

Generasi milenial menggenggam gawai canggih dan memuaskan hasrat narsis. Setiap aktivitas diunggah di media sosial. Potensi gaya generasi milenial dapat dimanfaatkan sebagai pengawas pemilu, misalnya, bisa dimasifkan. Kecurangan dalam APK (alat peraga kampanye) mudah dilaporkan.

Membiarkan generasi milenial apatis dengan politik adalah sama saja membiarkan “kegagalan” politik di Indonesia tetap berlangsung. Harus ada langkah radikal dari perguruan tinggi yang memiliki fakultas ilmu politik, penyelenggara pemilu, dan organisasi kemahasiswaan yang selama ini menyuplai calon-calon politisi.

Generasi milenial akan menjadi generasi tua yang akan mengisi pos-pos penting di birokrasi maupun partai politik di masa mendatang. Kita sangat berharap pada merekalah, politik Indonesia tampil dengan bersih, akuntabel, dan kepedulian pada masyarakat. (*)

Penulis adalah Divisi Pencegahan Panwascam Banyubiru Kabupaten Semarang

Silakan beri komentar.