Ditreskrimsus Gerebeg Penjual Kosmetik Ilegal

114
KOSMETIK ILEGAL : Anggota Direskrimsus Polda Jateng kembali mengamankan ratusan merek kosmetik yang tidak memiliki izin edar. Kosmetik tersebut dijual secara online dengan omzet mencapai Rp 300 juta perbulan. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
KOSMETIK ILEGAL : Anggota Direskrimsus Polda Jateng kembali mengamankan ratusan merek kosmetik yang tidak memiliki izin edar. Kosmetik tersebut dijual secara online dengan omzet mencapai Rp 300 juta perbulan. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebuah gudang penyimpanan obat dan kosmetik ilegal di Perum Permata Tlogosari, Kecamatan Pedurungan digerebeg aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng.

Petugas juga telah menetapkan satu orang tersangka bernama HN, warga Jakarta, pemilik barang ilegal tersebut. Selain itu, petugas juga mengamankan ribuan barang bukti terdiri dari 158 item, diantaranya adalah bedak, lipstik, masker, parfum, krim termasuk serum dan alat suntik.

Pengungkapan ini bermula saat petugas mendapat informasi peredaran kosmetik ilegal melalui media sosial di wilayah Jawa Tengah, April 2018 lalu. Dari penyelidikan ini petugas berhasil menemukan beberapa akun instagram yang menjual kosmestik ilegal tersebut. Para pembeli yang hendak memesan dan membeli barang diarahkan kepada nomor whatsapp tercantum.

“Penjualanya melalui media sosial instagram. Ada serum kecantikan, bisa membuat putih. Suplemen, ampul suntik, tidak terdaftar semua di BPOM. Kalau pemakaianya tidak sesuai dosis bisa berbahaya bagi konsumen,” tegas Direskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Hendra Suhartiyono, saat gelar perkara, Selasa (10/7).

Dari pengungkapan ini, petugas juga masih melakukan pengembangan asal muasal barang tersebut. Menurut Kasubdit 1 Indagsi Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egi Adrian Suez, pelaku menekuni bisnis ilegal ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun.

“Kalau omzetnya kisaran Rp 200 juta sampai 300 juta setiap bulan. Ini infonya barang dari Jakarta, nah dari sana kan masih harus dicari tahu apakah ini impor atau diracik sendiri. Ini ada yang sudah siap kirim, ke Jambi juga Kalimantan,” katanya.

Atas perbuatannya, tersangka setelahnya bakal diancam dengan Pasal 197 dan Pasal 106 ayat (1) Undang-undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan serta Pasal 62 ayat (1) dan Pasal 8 ayat (1) Undang-undang RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara. (mha/zal)

Silakan beri komentar.