Dari Cara Memasarkan Hingga Dites Membuat Jamu

Mengikuti Audisi Ratu Jamu Gendong Semarang

254
LUWES : Peserta menawarkan produk jamu yang dijual. (kanan) Peserta menunjukkan hasil jamu olahannya. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
LUWES : Peserta menawarkan produk jamu yang dijual. (kanan) Peserta menunjukkan hasil jamu olahannya. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Kontes Ratu Jamu Gendong berlangsung gayeng. Puluhan penjual jamu menunjukkan pengetahuan dan keahlian mereka dalam meracik hingga memasarkan jamu.

NURUL PRATIDINA

“JAMU, jamu, jamune Pak. Ada macem-macem, kangge nggreges-nggreges, pegel linu, nopo liyane,”ujar Mbak Sri menawarkan dagangannya. “Nek jamu sing nambah greng niku nopo Mbak?”timpal seorang calon pembeli. “Purwaceng niku Pak, ingkang diseduh Rp 6 ribu, menawi cair Rp 3 ribu mawon,”jawab perempuan asal Sukoharjo ini.

Percakapan tersebut merupakan bagian dari sesi ‘Lenggok-Lenggok’ dalam audisi Ratu Jamu Gendong yang diselenggarakan di Gedung Manunggal Jati Pedurungan, kemarin. Dalam sesi ini, para peserta yang telah lolos dari tes sebelumnya tampil di atas panggung. Keluwesan mereka dalam memasarkan produk serta pengetahuan seputar ragam jamu dinilai.

Sebagian penuh percaya diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh pembeli yang diperankan oleh MC. Sebagian lagi tersipu-sipu saat tidak bisa menjawab pertanyaan.

“Grogi-grogi aku grogi, agak lupa,”ujar salah seorang peserta kategori usia 22 – 35 tahun dari atas panggung sembari mengembangkan senyum.

Sementara di sisi lain gedung, peserta kategori di atas 35 tahun atau Jamu Gendong Teladan tengah meracik rempah-rempah untuk dijadikan jamu beras kencur. Bahan-bahan yang disediakan sama, namun komposisi dan cara pengolahan menjadi kunci citarasa. Resep-resep jamu tersebut rata-rata mereka dapat turun-temurun.

“Saya sudah 12 tahun bekerja sebagai penjual jamu. Dari meracik hingga menjual langsung. Keahlian ini saya dapat hasil belajar dari ibu dan budhe. Keluarga memang banyak yang berjualan jamu,”aku Sri Utami.

Perempuan 33 tahun ini mengakui, awalnya sedikit malu berjualan jamu. Namun setelah mengetahui, hasil yang didapat cukup lumayan, ia pun menikmati. “Saya sekarang jualan di Weleri, tidak lagi pakai gendongan, tapi pakai motor dari pagi sampai siang. Biasanya pagi perumahan, agak siang ngetem di pasar. Kalau belum habis, muter lagi di kampung,”kata ibu dua anak ini.

Selain Sri, ada juga Suminah. Perempuan 47 tahun ini telah 30 tahun berjualan jamu. Mulai dari memasarkan produk dengan berkeliling perumahan, hingga kini telah bekerjasama dengan penyedia jasa penjualan secara online dalam pemasaran jamu siap minum.

“Sudah puluhan tahun jadi penjual jamu, karena itu saat ditawari ikut ya penasaran ingin coba. Tadi kami juga dites bikin berbagai jamu. Saya kebagian bikin jamu wejahan. Ya, tidak bingung, karena memang sudah cukup lama menggeluti profesi ini, jadi sudah cukup hapal bahan-bahan dan cara membuatnya,”ujar warga Pedurungan ini.
Sebanyak 12 peserta yang lolos dites dalam sesi Lenggak-Lenggok dan Membuat Jamu. Dari situ dikerucutkan, 3 peserta dari ratu jamu dan 2 dari kategori jamu teladan. Mereka yang lolos akan berkompetisi tingkat nasional dengan para peserta dari daerah-daerah lain. Bila ditotal peserta mencapai 600-an penjual jamu. (*/aro)