Batang Siap Jadi Tuan Rumah

235
FOTO BERSAMA: Usai tampil di BIAPF, Penari Batik Gringsing dan Simo berfoto bersama dengan Bupati Batang Wihaji dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebusayaan Achmad Thofik Minggu ( 8/7) Malam. (Humas Batang for Jawa Pos RADAR SEMARANG)
FOTO BERSAMA: Usai tampil di BIAPF, Penari Batik Gringsing dan Simo berfoto bersama dengan Bupati Batang Wihaji dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebusayaan Achmad Thofik Minggu ( 8/7) Malam. (Humas Batang for Jawa Pos RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Bupati Batang Wihaji mendapat apresiasi dan kehormatan dari Kementerian Pariwisata karena kepeduliannya melestarikan seni dan budaya. Wihaji menjadi satu-satunya Bupati yang diundang secara resmi  pada penutupan Borobudur International Art Performance Festival (IAPF) 2018, digelar di kompleks candi Borobudur Kabupaten Magelang Minggu, (8/7) malam.

Penghormatan dan apresiasi ini merujuk  komitmen Bupati Batang Wihaji nguri-uri seni budaya di daerahnya. Salah satunya, agenda tahunan Batang Art Festival, yang setiap tahunya digelar bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Batang.

Pada ajang ini, ditampilkan seni rupa, seni tari budaya lokal, theater yang menghadirkan pelaku seni dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga tak heran jika Kabupaten Batang di tawari jadi penyelanggara IAPF 2019 oleh Kementerian Pariwisata.

“Kabupaten Batang siap menjadi tuan rumah IAPF 2019 karena. Karena kita juga memiliki pelaku seni yang berkarakter dan potensi wista yang luar biasa. Serta bentuk semangat promosi wisata dengan kemasan event tapi punya karakternya yang di hadiri oleh pelaku. seni internasional dari berbagai negara,” jelas Wihaji.

Lebih lanjut mengatakan, dalam penyelanggaraanya nanti kita akan koordinasikan dengan pelaku seni Batang dan dinas terkait agar peyelengaraan ini bisa dan Batang bisa terkenal sebagai pusat seni  dan budaya, pendidikan, investasi dan tahun kunjungan wisata 2022 bisa terwujud dengan tagline Heaven Of Asia.

“Akan kita kaji lagi, kira kira kekuatan dibatang itu apa. Barangkali bisa lau atau gunung. Kalau gunung kita ambil yang punya sejarah, misalnya kita punya Sojomerto barangkali itu bisa atau Pagilaran Festival atau bahkan laut dengan bahari festival,” tandas Wihaji.

Sementara itu itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Ahmad Taufiq, mengatakan terimakasih sekali kepada para penari baik penari Batik Gringsing maupun Penari Simo Gringsing yang sudah berpartisipasi dalam acara tersebut.

“Kedua tari tersebut mempunyai sejarah  dan memiliki karakter yang diciptakan diawal tahun 2018 dan pernah ditampilkan pada ulang tahun kabupaten Batang pada bulan April kemarin Sebagai ikon seni setelahbtari Babalu,” ucap Achmad Taufiq.

Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ikut berpartisipasi dalam memeriahkan event Borobudur IAPF, dengan membawa berbagai kesenian asal Batang.

Dalam penampilanya kedua tarian yang melibatkan 12 Penari Batik Gringsing dan 12 Penari Simo Gringsing beserta pengrawitnya sebanyak 36 orang dapat  memukau penonton IAPF, penampilan tari juga betkolaborasi dengan musik karawitan dengan musik modern. (han/bas)