Tawarkan Konsep Tradisional Agar Ingat Zaman Dulu

Mengunjungi Pasar Kumandang Desa Bojasari, Kertek, Wonosobo

232
TEMPO DULU : Suasana Pasar Kumandang Dusun Bongkotan Desa Bojsasari, Kertek, Wonsobo Minggu (1/7). Pasar ini menawarkan suasana sejuk di bawah pepohonan rindang. (Sigit Rahmanto/jawa Pos Radar Kedu)
TEMPO DULU : Suasana Pasar Kumandang Dusun Bongkotan Desa Bojsasari, Kertek, Wonsobo Minggu (1/7). Pasar ini menawarkan suasana sejuk di bawah pepohonan rindang. (Sigit Rahmanto/jawa Pos Radar Kedu)

Pasar Lawas Kumandang di Dusun Bongkotan Desa Bojasari Kecamatan Kretek Kabupaten Wonosobo menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan karena lengkapnya jajanan yang ditawarkan dan berbagai fasilitas yang ada. Namun, suasana pasar yang alami. Seperti kembali pada masa lalu.

SIGIT RAHMANTO, Wonosobo

RADARSEMARANG.COM – BERADA di atas bukit dan pohon-pohon menjulang, suasana yang sejuk dan damai langsung bisa kita temui saat berjalan menaiki bukit tersebut. Berada di wilayah seluas 20 Ha, lokasi ini dulunya adalah ladang milik warga setempat yang tidak terawat.

Hari Minggu pukul 06.30 para pedagang mulai bersiap menjajakan dagangannya di lapak yang telah disediakan. Konsep pasar tempo dulu ini yang hendak dimunculkan dalam Pasar Kumandang.

Adalah Sigit Buhdi Martono bersama para sahabatnya yang tergabung dalam tim 9 mencetuskan konsep Pasar Kumandang. “Konsep utamanya sebenarnya kita ingin memanfaatkan alam yang masih alami ini. Kemudian aset ini kita kelola agar bisa menjadi sesuatu yang unik. Alasan mendirikan di sini karena selain ingin menjadikan sebagai pusat interaksi, di satu sisi ingin memunculkan budaya Jawa kembali. Supaya generasi milenial lebih akrab dengan budaya nenek moyangnya,” papar Sigit.

Lanjut dia, pasar tradisional umumnya, orang membeli karena kebutuhan. Sementara pasar ini lebih menawarkan suasananya. “Jadi kita ingin mengajak orang untuk kembali mengingat pasar tradisional zaman dahulu. Bertempat di bawah pepohonan rindang mereka menggelar hasil buminya untuk ditawarkan pada para pembeli,” ungkapnya sembari menambahkan pasar ini akan terus dibuka secara berkelanjutan pada hari Minggu.

Agar para pengunjung semakin terbawa suasana pasar tradisional zaman dahulu, alat transaksi menggunakan koin kepeng. Terbuat dari kayu berbentuk bulat kecil. Pembeli bisa menukarkan uang Rp 2.000 untuk mendapatkan 1 kepeng.

Sebagian pengelola dan pedagang Pasar Kumandang ini adalah warga yang sehari-hari petani di Desa Bojasari. Di samping itu juga untuk meningkatkan interaksi dan taraf perekonomian warga setempat.

Meski Pasar Kumandang berbau tradisional tapi bukan berarti pengunjungnya dari kalangan lansia namun dari semua kalangan. Untuk itu di pasar ini disediakan fasilitas taman bermain anak sehingga pengunjung semakin tertarik untuk datang. Bahkan disediakan gazebo dan panggung kreasi bagi para seniman Wonosobo.

Sementara ini, dari jumlah 60 pedagang yang ada di pasar ini, paling banyak menyediakan makanan kuliner tradisional. Seperti tiwul, sego setaman, rujak bebek, megana.

”Karena ini masih tiga kali beroperasi, tentu masih banyak hal yang akan kami benahi. Agar semakin bervariasi, ke depan kita akan mengajak para perajin gerabah untuk ikut meramaikan pasar di sini,” ungkap Sigit.

Salah seorang pedagang, Ratna Suranti, 33, mengaku sangat bahagia bisa ikut berjualan di Pasar Kumandang. ”Awalnya saya sempat merasa gugup, karena belum pernah menjadi pedagang. Tapi setelah mengerti, rasanya bahagia sekali bisa bertemu orang-orang baru. Memberi senyum pada mereka dan berkomunikasi pada mereka,” ujarnya.

Dengan berdagang di pasar ini dia merasakan aktivitas baru selain bertani. Ratna tidak menyangka pengunjung pasar akan banyak sekali. “Dalam tiga kali pasar dibuka, rata-rata saya mendapatkan 350 koin,” imbuhnya.

Marlia, 48, salah satu pengunjung mengatakan suasana Pasar Kumandang menyenangkan, sejuk. “Anak-anak juga senang datang ke sini untuk bermain, “ akunya. (*/lis)

Silakan beri komentar.