RADARSEMARANG.COM – BEBERAPA waktu lalu seorang teman menyarankan agar saya menulis pengalaman menggunakan bandara baru Ahmad Yani Semarang. Baru kali ini saya memenuhinya. Kebetulan seminggu kemarin harus wira-wiri Surabaya – Semarang – Kudus dan sebaliknya.

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di bandara itu adalah luas dan lapang. Tidak sesak dan sumpek seperti bandara lama. Saking leganya, saya bisa berlari dari pintu masuk sampai ruang tunggu. Para penumpang pesawat lainnya bisa berjalan santai tanpa senggol-senggolan.

Sabtu malam minggu kemarin kebetulan waktu saya sangat sempit. Untung, pengantar saya sangat cekatan menerobos padatnya lalu lintas, menyalip deretan angkutan berat, dan ‘’melompati’’ lubang jalan yang kadang menganga. Dia menjemput saya di Kaligawe, pertigaan menuju Terminal Terboyo yang mestinya sudah ditutup.

Jarak Bandara Internasional Ahmad Yani dengan Terminal Terboyo 13 kilometer. Dari Stasiun Tawang malah 6,8 kilometer atau 21 menit berkendara dan dari Stasiun Poncol hanya 4,8 kilometer. Namun belum tersambung dengan moda transportasi masal seperti bus maupun kereta.

Dari pusat kota, Simpang Lima, hanya 6,3 kilometer. Kalau tidak macet cukup 20 menit berkendara. Lokasinya di dekat bandara lama. Dari mana pun, dari arah Kudus, Jakarta maupun kota harus melewati jalan utama di depan PRPP (Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan) Jawa Tengah. Semacam TMII di Jakarta yang sangat terkenal. Jalannya dua arah, lebar, dan mulus.

Ketika saya melintas, baik saat berangkat maupun pulang, jalan utama itu lancar. Tapi saya mengkhawatirkan, kalau di PRPP ada kegiatan, jalanan itu macet. Apalagi bila berbarengan bubaran kegiatan PRPP dan mendaratnya beberapa pesawat besar. Mudah-mudahan sudah diantisipasi.

Tiba di bandara sudah melewati pukul 20.00. Padahal, jadwal pesawat take off pukul 20.30. Saya langsung melesat ke ruang check in. Melewati ruang dan lorong. Di tempat pemeriksaan pertama saya diloloskan tanpa melewati x-ray. Kebetulan saya tidak membawa apa-apa, kecuali laptop yang saya bawa ke mana-mana.

Itu berbeda dengan bandara lama. Di sana, begitu tiba di gedung bandara langsung dihadapkan pada berjejalnya orang di teras. Menjinjing atau menyeret koper sering kesulitan. Mesti berkali-kali menabrak orang. Harus berhati-hati supaya tidak kena marah.

Di bandara baru, penumpang bisa melenggang di teras. Berhenti sambil berswafoto pun tidak menggangggu penumpang lain yang lewat. Bahkan selfi berkelompok pun bisa.  Ada latar belakang bagus. Di depan teras sudah disiapkan taman lengkap dengan kolamnya. Belum jadi, tapi sudah kelihatan bentuknya. Di belakang teras sebelum melintasi pintu masuk juga ada kolam.

Sayang, saya tak bisa menikmati semuanya. Waktu saya betul-betul sempit. Konter check in pesawat Citylink sudah tutup. Layar monitor sudah mati. ‘’Pak Baehaqi ya. Cepat Pak, lari,’’ kata seorang pegawai yang masih di mejanya. Dia sudah menyiapkan boarding pass untuk saya. Saya semakin tergopoh-gopoh. Saya lari menuju gate 3B seperti yang diperintahkan.

Gate-nya tidak banyak. Di ruang tunggu domestik hanya ada tiga. Namun sangat lega dan nyaman. Kursi-kursinya berwarna hijau muda persis seperti ujung sandaran kursi pesawat Citylink yang saya tumpangi. Ada yang berbentuk bulat. Artistik. Jarak antara satu deretan kursi dengan lain masih menyisakan ruang untuk orang berjalan. Bahkan penunggu bisa berselonjor kaki tanpa bersentuhan dengan kaki penumpang di kursi depannya. Luas ruang tunggu ini 58 ribu meter persegi atau 9 kali luas ruang tunggu bandara lama yang hanya 6000-an meter persegi.

Ketika menuju ruang tunggu, ada eskalator. Saya lihat berhenti. Saya injak saja. Ternyata bergerak. Rupanya waktu itu stand by karena tidak ada orang yang menggunakan. Turun eskalator saya lari lagi melewati lorong. Kanan-kiri masih tertutup kertas. Kelak akan menjadi deretan toko suvenir.

Pemeriksaan x-ray sebelum memasuki ruang tunggu berjalan cepat. Maklum, penumpang tidak banyak. Saya tak bisa menikmati ruang tunggu. Harus langsung masuk ke pesawat. Alhamdulillah masih diperbolehkan. Saat itu pramugari sudah mengucapkan selamat datang kepada para penumpang disertai pemberitahuan lain. Pintu pesawat segera ditutup.

Saya lihat di sekeliling apron sudah agak sepi. Hanya ada lima pesawat parkir termasuk pesawat yang saya tumpangi. Apron itu mampu menampung 13 pesawat berbadan lebar dan kecil. Dilengkapi tiga belalai gajah. Apron ini memang masih jauh lebih kecil dibanding Bandara Juanda. Apalagi Soekarno Hatta.

Kelancaran di bandara pada malam Minggu itu menghapus nervous saya tiga hari sebelumnya di Bandara Juanda Surabaya. Saya kena cegat di pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu. Gara-gara saya membawa bor. ‘’Masak direktur tidak boleh membawa bor,’’ pikir saya. Tapi bukan itu masalahnya. Bor dan peralatan metal lainnya seperti peniti, gunting kuku, dan pemotong jenggot, harus masuk bagasi. Tidak boleh dibawa ke kabin pesawat.

Kenyamanan juga saya rasakan ketika mendarat. Waktu itu saya naik Wing Air. Karena pesawat kecil berbaling-baling, turun pesawat tidak menggunakan belalai gajah. Tetapi tidak perlu berjalan jauh. Sepanjang perjalanan menuju bagasi juga lega.

Saya dan penumpang lain memang sempat terkecoh. Di ruang bagasi ada dua ban berjalan. Satu beroperasi. Pada layarnya tertulis Garuda dari Jakarta. Yang satu tertulis Citylink. Masih kosong. Bagasi saya dari pesawat Wing Air ternyata keluar lewat ban berjalan yang tertulis Citylink itu. Rupanya petugas kurang teliti. Maklum bandaranya masih baru.

Dari tempat bagasi masih harus melewati ruang tunggu penjemput. Sangat lega juga. Saya sama sekali tidak kesulitan menemukan penjemput saya Pundhi Samara dari Radar Semarang. Tidak seperti di bandara lama. Para penungggu berjejal di teras. Apalagi ketika jamaah umrah tiba yang kadang-kadang dijemput orang ‘’sekampung’’.

Saya tidak mau dijemput dengan mobil merapat di teras bandara seperti kebanyakan penumpang. Saya ingin merasakan berjalanan kaki di pelataran parkir meski cukup jauh. Tempat parkir ini belum sempurna. Namun kelak akan jauh lebih baik dibanding bandara lain termasuk Juanda dan Cengkareng. Di Ahmad Yani disiapkan bangunan tiga lantai khusus parkir. Sekarang masih tahap finishing. Kelak tempat parkir akan menjadi semakin lapang.

Bandara Ahmad Yani yang baru memang belum sempurna. Namun sudah dioperasikan 6 Juni 2018, menjelang Lebaran lalu. Seluruh pesawat penumpang sudah berpindah ke bandara baru itu. Kelak bandara lama akan difungsikan untuk kargo

Bandara itu bisa melayani 69 penerbangan setiap hari, baik yang datang maupun pergi. Bisa menampung 7 juta penumpang setahun. Itu berarti 9 kali lebih besar dibanding bandara lama yang hanya berkapasitas 800 ribuan penumpang per tahun.

Sekarang  jumlah penumpang yang menggunakan Bandara Ahmad Yani sekitar 5 juta orang per tahun. Jadi, memang masih lega. Namun mepetnya range antara kondisi penumpang sekarang dan kapasitas, dalam beberapa tahun saja kemungkinan sudah penuh. Bandara Juanda Surabaya dan Soekarno-Hatta Jakarta dulu juga begitu. Bandara lama Surabaya akhirnya dioperasikan lagi untuk penerbangan sipil. Demikian juga Bandara Halim Perdana Kusuma. (hq@jawapos.co.id)