Hasilkan 200 Album dan 1.700 Lagu, Raih Rekor Leprid

60 Tahun Kiprah Maestro Keroncong Waldjinah

98
LEGENDARIS: Waldjinah saat menerima penghargaan Leprid sebagai Maestro Keroncong. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEGENDARIS: Waldjinah saat menerima penghargaan Leprid sebagai Maestro Keroncong. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sudah 60 tahun, maestro keroncong tanah air, Waldjinah, berkiprah. Hingga saat ini, si Walang Kekek ini sudah menelorkan 200 album, dengan total lagu mencapai 1.700-an.

EKO WAHYU BUDIYANTO

RADARSEMARANG.COM – WAJAH Waldjinah berbinar. Di usia 72 tahun, wanita asli Solo ini masih tampak cantik. Mengenakan busana muslim merah maron dipadu hijab merah muda, penyanyi keroncong dan langgam Jawa ini selalu menebarkan senyum. Ya, Minggu (8/7) kemarin, wanita kelahiran 7 November 1945 ini meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid). Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Direktur Leprid, Paulus Pangka kepada Waldjinah di Balemong Resort Ungaran.

Pemberian penghargaan tersebut tak lepas dari kiprah penyanyi yang melambung dengan lagu Jangkrik Genggong dan Putri Solo ini.

“Beliau layak dikatakan sebagai maestro musik keroncong Indonesia dan dunia, karenanya penghargaan kami berikan,” kata Paulus.

Paulus menjelaskan, penghargaan kepada seorang yang disebut maestro dalam hal ini mencakup beberapa ketentuan. Di antaranya, Waldjinah telah menunjukkan komitmen dan loyalitas serta kontinuitas sebagai seorang penyanyi lagu keroncong. Di mana loyalitas tersebut ditunjukkan selama 60 tahun lebih Waldjinah selalu mengampanyekan dan melestarikan musik asli Indonesia tersebut.

Waldjinah terhitung mulai aktif menyanyi keroncong sejak 1958 di mana saat itu ia masih berusia 13 tahun. Hingga saat ini, Waldjinah sudah menelorkan 200 album, dengan total lagu sebanyak 1.700.

“Ibu Waldjinah juga telah mendapat pengakuan dan memiliki kualitas dalam menyanyi keroncong. Serta mendapat penghargaan dari tingkat nasional dan internasional. Selain itu, Ibu Waldjinah juga memiliki kontribusi positif bagi generasi muda dan masyarakat,” paparnya.

Kontribusi positif tersebut juga ia lakukan dengan aktif dalam Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI). “Ibu Waldjinah juga membuka kursus menyanyi keroncong di rumahnya,” katanya.

Dikatakan Paulus, pihaknya mencatat prestasi tersebut sebagai maestro keroncong wanita Indonesia dan dunia pada urutan rekor ke-362. Menurutnya, kontribusi Waldjinah dalam dunia musik keroncong sangatlah positif. Di mana ia juga sebagai sumber referensi bentuk musik keroncong asli Indonesia.

“Pakemnya musik keroncong memang berkiblat ke beliau. Beliau masih mempertahankan bentuk musik keroncong yang masih original,” ujarnya.

Waldjinah yang menerima langsung penghargaan tersebut mengaku bangga. Menurutnya, musik keroncong yang asli Indonesia memang harus tetap dilestarikan. “Saya akan menjunjung tinggi musik keroncong sampai tutup usia,” kata ibu dari Bambang Hery Santoso, Harini Dwi Hastutiningsih,   Erlangga Tri Putranto,  Ari Mulyono  dan Bintang Nurcahya ini.

Pada kesempatan itu, ia juga menceritakan sedikit bagaimana ia memulai karir sebagai penyanyi keroncong. Di usia yang terbilang masih kecil, ia sudah aktif membawakan musik keroncong dari kampung ke kampung.

“Pernah juga memperoleh penghargaan dari Pak Karno (Presiden Pertama RI Soekarno, Red), dan diundang untuk menyanyi di istana negara, tahunnya berapa itu lupa,” kenangnya.

Di usianya yang masih belia tersebut, ia harus mengorbankan pendidikannya karena kecintaannya pada musik keroncong. Karena kontribusi dan prestasi Waldjinah tersebut menginspirasi salah satu mahasiswi asal Amerika Serikat, Hannah Standiford, 29, untuk melakukan penelitian terkait musik keroncong.

Hannah yang juga hadir dalam penyerahan penghargaan tersebut mengaku tertarik dengan musik asli Indonesia tersebut. “Saat itu, pada 2015, saya mulai tertarik keroncong saat mengunjungi Solo,” kata Hannah. Mulai dari itulah, ia selalu aktif meneliti dan belajar bagaimana musik keroncong di Solo. (*/aro)

Silakan beri komentar.