Ada yang Serius, Ada  yang Hanya ‘Boneka’

Syarat 30 Persen Caleg Perempuan

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

RADARSEMARANG.COM – Pendaftaran Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota, sudah dibuka sejak 4 Juli sampai 17 Juli mendatang. Keterwakilan perempuan 30 persen menjadi syarat mutlak, karena merupakan amanah dari undang-undang. Jika tidak terpenuhi, maka akan ditolak Sistem Informasi Pencalonan (Silon).

Sejumlah parpol pun ramai-ramai terus mencari sosok perempuan agar bisa lolos pendaftaran. Ada yang memang sengaja dipasang untuk bertarung di Pileg 2019, tetapi tetap saja ada yang sengaja dipasang sekadar untuk menggugurkan kuota 30 persen perempuan. Kerja keras dibutuhkan, agar target 30 persen kuota perempuan bisa tercapai. Apalagi sejumlah parpol  baru yang memang masih belum memiliki kursi wakil rakyat di periode sekarang.

Ditambah lagi, adanya perubahan daerah pemilihan (dapil) di Jateng. Sesuai dengan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2017 pasal 188 ayat 2 huruf d yang menyatakan bahwa provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta jiwa memperoleh alokasi 120 kursi.  Khusus di Jateng, pada Pileg nanti, DPRD Provinsi Jateng mendapatkan alokasi 120 kursi yang terbagi menjadi 13 dapil. Kondisi itu membuat sejumlah parpol di Jateng harus kerja keras.

Selama ini, masih terjadi problem yang mendasar dari parpol pada kaderisasi, khususnya dalam menciptakan kader-kader perempuan. Dominasi laki-laki dalam kepengurusan pun terlihat dari struktur organisasi partai politik. Sangat jarang perempuan menempati posisi strategis dalam organisasi parpol. Hal itu yang membuat kuota 30 persen hanya berlaku saat mendaftar dalam Pileg. Sementara hasil di lembaga legislatif tergantung kekuatan masing-masing calon yang diusung partai politik.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jateng, Sriyanto Saputro, tidak menampik, untuk memenuhi kuota 30 persen perempuan bukanlah persoalan mudah. Sebab, bukan  rahasia lagi jika untuk benar-benar terpilih menjadi anggota legislatif membutuhkan modal, baik materi maupun modal sosial. Di sisi lain, banyak kader perempuan yang militan masih belum banyak terlihat kiprahnya. “Saya kira semua partai sama kesulitan, itu kenyataan. Karena realitasnya banyak kader perempuan gagal bertarung,” ucapnya.

Meski begitu, ia memastikan kuota 30 persen akan terpenuhi. Kader-kader perempuan yang potensial benar-benar diopeni agar bisa bersaing, dan terus membesarkan partai. Untuk pendaftaran caleg, melalui proses yang cukup lama sampai tingkat DPP. Tetapi ia juga memastikan Gerindra terbuka untuk umum dan siapapun bisa masuk. “Tentunya memiliki visi misi yang sama dan sama-sama untuk mengabdi demi kepentingan masyarakat. Kami terbuka tidak hanya kader, tetapi juga masyarakat umum,” tambahnya.

Kaderisasi juga terus dilakukan, agar suara partainya terus meningkat di Jateng. Perubahan dapil di Jateng dari  10 menjadi 13 dapil juga menjadi perhatian serius. Artinya, pihaknya harus menambah kader-kader potensial agar kursi di 13 dapil se-Jateng bisa diraihnya. Pileg 2019 menjadi ajang pembuktikan Gerindra di Jateng untuk bisa menjadi lebih besar. “Tahun ini kami ada 11 kursi di DPRD Jateng, Pileg 2019 optimistis setiap dapil ada perwakilan Gerindra. Semua all out untuk bisa menang,” tambahnya.

Aturan 30 persen kuota perempuan membuat sejumlah partai ada yang asal pasang. Selain karena minim kader perempuan, posisi perempuan di politik masih sulit untuk diangkat. Bahkan, sejumlah parpol tidak memiliki kader perempuan di kursi legislatif. “Ya, berbicara perempuan tetap ada yang disiapkan untuk benar-benar bertarung. Ada yang memang untuk memenuhi kuota 30 perempuan. Karena kader perempuan memang tidak sebanyak kader laki-laki,” kata Sekretaris DPD Partai Demokrat Jateng, AS Sukawijaya.

Yoyok Sukawi –begitu sapaan akrabnya– mengaku tidak risau dengan aturan tersebut. Karena selain kader internal, partainya juga membuka untuk masyarakat umum maupun tokoh masyarakat yang ingin bergabung dan berpolitik. Ia memastikan semua kader yang diusung akan didukung all out agar bisa mendapatkan suara banyak. “Alhamdulillah kuota bisa tercapai. Kami optimistis dari 13 dapil, nanti semua ada yang mewakili. Ini pembuktian setelah Pilgub Jateng,” tambahnya.

Ketua DPW PKS Jateng, Abdul Fikri, mengatakan, PKS Jateng memastikan jumlah caleg yang diusung di Jateng sudah tercapai. Termasuk dengan adanya aturan harus memenuhi kuota 30 persen perempuan. Ia mengaku semua terwujud karena kaderisasi sudah dilakukan sejak lama dan semua kader harus militan serta solid. “Jumlah caleg perempuan kami sudah siap, bahkan sudah 36 persen dari keseluruhan,” katanya.

Ketua DPW PPP Jateng, Masruhan Syamsurie, optimistis PPP akan mampu meraih posisi tiga besar pada Pileg 2019 mendatang. Hasil monitoring yang dilakukan, minat kalangan muda, khususnya di perdesaan dan kalangan santri yang tergabung dengan PPP menunjukkan kenaikan yang signifikan. Apalagi dengan kemenangan kader PPP dalam Pilgub Jateng jelas akan mendongkrak suara partai. “Kami optimistis bisa lebih besar. Kader-kader potensial juga sudah disiapkan untuk Pileg, baik laki-laki maupun kader perempuan,” tambahnya.

Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPW PKB Jateng, Benny Karandi, mengungkapkan tak risau dengan aturan 30 persen perempuan. Sebab, PKB bisa mengambil kader internal yang memang sudah dipersiapkan sejak awal. Termasuk menggandeng kader perempuan di lembaga NU Jateng. “Insya’Allah 30 persen terpenuhi, kader internal yang sudah disiapkan,” katanya.

Anggota DPRD Kota Semarang dari Fraksi PDIP, Dyah Ratna Harimurti, mengatakan adanya kuota tersebut belum cukup mangakomodasi wanita untuk duduk di kursi legilatif ataupun terjun partai politik. “Kalau secara pribadi belum cukup, diharapkan bisa lebih,” ujarnya.

Ia menerangkan, setiap kader yang ingin nyaleg, harus melalui penjaringan yang dilakukan oleh partai politik. Misalnya, DPC untuk tingkat kabupaten/kota, setelahnya nanti akan dilakukan test internal partai dan dilakukan verifikasi. “Jadi, harus ada survei elektabilitas dari bakal caleg ini, tidak bisa sembarangan,” jelasnya.

Komitmennya duduk sebagai wakil rakyat adalah mengawal suara rakyat agar tersampaikan dengan baik. Wanita yang akrab disapa Detty ini mengaku tertarik ke dunia politik sedari muda, tepatnya sejak SMA. “Awalnya saya bekerja sebagai staf Fraksi PDIP Provinsi Jateng, kemudian 2014 lalu mencalonkan diri sebagai caleg,” ucapnya. Terkait dana kampanye untuk pencalonan, lanjut Detty, ia mengaku tidak menyediakan secara khusus. Satu hal yang perlu dilakukan adalah meyakinkan masyarakat dalam memilih wakilnya.

Berbeda dengan Detty yang menjadi caleg karena komitmen kepada rakyat dan partai sekaligus mengisi kuota 30 persen, Vanessa (bukan nama sebernanya) malah menjadi ‘boneka’ untuk mengisi kekosongan kuota 30 persen untuk perempuan di salah partai politik Pileg 2014 lalu.
“Dulu ada yang minta tolong, ya saya iyakan. Prosedurnya sama. Tes kesehatan, psikolog, tes tertulis, dan penetapan daerah pilih. Dulu saya dapat dapil 10 Jateng, nggak tahu alesannya apa, dapat dapil tersebut,” ucapnya.

Wanita berambut panjang ini padahal bukan dari kader partai tersebut. Ketika sudah ditetapkan sebagai caleg, ia pun tidak bisa maksimal mendekati masyarakat untuk kampanye ataupun meraih suara. “Dulu sih karena sibuk kerja, kampanyenya hanya weekend aja, namun saat itu saya dapat kira-kira 2 ribuan suara,”  tuturnya.

Meski sudah hampir 5 tahun berlalu, dirinya belum berpikir untuk terjun total ke dunia politik. Alasannya karena memang bukan bidang pekerjaan yang disukai.  “Kalau next belum kepikiran, yang jelas saya tidak tertarik, dulu hanya dimintai tolong,” tambahnya.

Bendahara DPD Partai NasDem Kota Semarang, Budiharto mengaku,  kuota perempuan untuk Bacaleg partainya sudah terpenuhi di semua dapil di Kota Semarang. Ia mengatakan, partainya telah mendorong Bacaleg perempuan untuk bisa memaksimalkan potensi dirinya dalam pertarungan 2019 mendatang.

Ia menilai, Bacaleg perempuan mempunyai karakteristik unik dan nilai jual tersendiri untuk bisa dipilih oleh masyarakat. Sedangkan  terkait fenomena asal comot untuk memenuhi kuota perempuan, dinilainya mungkin ada di beberapa parpol lain, namun di partainya semua Bacaleg baik laki-laki atau perempuan sudah melewati beberapa tahapan seleksi agar bisa mendaftrkan diri sebagai Bacaleg.

Ketua DPW Perindo Jateng, Siswadi Selodipuro mengaku, untuk Perindo dari 35 DPD kabupaten /kota di Jateng sudah ada 21 DPD yang terpenuhi 30 persen kuota perempuan. Sedangkan  untuk DPD lainnya hanya kurang 1 atau 2 orang perempuan saja. Untuk itu, pihaknya, akan memberikan pembekalan baik dari aspek organisasi pemerintahan, politik, dan ideologi kepada para Bacaleg setelah DCT (daftar calon tetap).

Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang, Chairul Basar, mengaku partainya sudah terpenuhi kuota perempuannya. Namun demikian, diakuinya, memang sempat mengalami kendala, sekalipun sejak awal sudah maksimal melakukan sosialisasi terutama untuk kaum perempuan.  “Terutama bagi perempuan usia produktif (mahasiswi, Red) yang sangat banyak sekali bersikap apatis terhadap parpol, bahkan lebih ekstrim dari masyarakat biasa, Kami sudah mencoba memberikan argumen yang konstruktif ala anak muda, namun sudah untuk mengubah sikap mereka,”kata Chairul Basar.

Ketua DPD Partai Berkarya Kota Semarang, Eko Teguh Winarto, melalui Wakil Bendaharanya,  Sari Mulyani, mengatakan,  partainya tidak begitu kesusahan untuk memenuhi kuota perempuan 30 persen. Kendalanya hanya memastikan partainya telah diisi oleh kader-kader yang paham organisasi dan selalu dekat dengan rakyat. “Bacaleg perempuan banyak mendaftar di saat menjelang akhir,” ujarnya.  (fth/den/jks/aro)

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Random News

Petani Krisan Waswas Cuaca

BANDUNGAN — Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah—salah satunya Kabupaten Semarang—membuat sejumlah petani bunga Krisan. Mereka khawatir bunga-bunga yang siap panen rusak, karena tersapu...

Inovator Penting di Era Global

SALATIGA — Seorang inovator menjadi penting di era globalisasi saat ini. Perusahaan membutuhkan orang yang berbeda. Yakni, orang yang punya pengalaman organisasi, berwawasan...

Empat Parpol Merapat ke Pasangan Wali

SAMBUT RIUH : Simpatisan paslon Wali menyambut riuh ketika KPUD Kendal mengumumkan Wali mendapatkan nomor urut 1. KENDAL—Pasangan Calon (Paslon) Bupati (Cabup)- Calon wakil Bupati...

Curi Helm di Sekolah, Dimassa

KAJEN - Seorang pemuda babak belur dihajar massa lantaran mencuri helm di tempat parkir SMK Gondang Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan. Pemuda bernama Novi Prasetyo,...

More Articles Like This

- Advertisement -