Warga Patungan Beli Cat, Gelar Acara Tiap Minggu

Abadikan Budaya Lokal Lewat Mural di Lorong Kampung Batik Tengah

280
BERI PENJELASAN : Sekretaris RT Ignasius Luwiyanto menunjukkan mural dan spot selfie yang dibangun warga secara swadaya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)  
BERI PENJELASAN : Sekretaris RT Ignasius Luwiyanto menunjukkan mural dan spot selfie yang dibangun warga secara swadaya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)  

Langkah warga Kampung Batik Tengah, RT 4 RW 02, Kelurahan Rejomulyo, Kota Semarang patut diapresiasi. Mereka mempercantik kampungnya dengan batik, pewayangan dan sejarah Kota Semarang dalam bentuk mural.

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.COM – HASRAT ingin mempercantik tempat tinggal di tengah gencarnya promosi kampung tematik, warga Kampung Batik Tengah menginisiasi pembuatan Kampung Jadoel dengan dana swadaya warga.

“Wilayah yang berdekatan dengan kami, dijadikan Kampung Tematik sebagai Kampung Batik. Warga sini pun ingin ada nuansa tematik yang mendatangkan manfaat bagi wisatawan,” kata Sekretaris RT 4 RW 2. Ignasius Luwiyanto.

Akhirnya warga bahu membahu mempercantik kampong. Mereka sepakat menggambar tembok kampung atau mural bertema Adeging Kuta Semarang. Warga menuangkan sejarah berdirinya Kota Semarang di jalanan kampung 3 dimensi agar lebih unik dan menarik. “Proses muralnya pada Februari tahun 2017 lalu sampai April. Total panjangnya 46 meter di 24 tembok rumah,” paparnya.

Gambar mural tersebut, menggunakan wayang beber sebagai tokoh sentral. Harapannya, wayang-wayang tersebut mampu menjelaskan terjadinya Kota Semarang dengan singkat dan jelas. Secara detail digambarkan di antaranya Pulau Tirang di Bergota, mendaratnya Laksamana Ceng Ho di Simongan, Kota Lama, Proklamasi, Tugu Muda, Kauman, termasuk juga potensi-potensi yang ada di Semarang.

“Di sini warga patungan membeli cat untuk menggambar wayang beber. Wayang tersebut saat ini mulai terlupakan. Kami berharap, generasi muda bisa mengenal budaya asli Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, warga mengadakan pelatihan batik bagi wisatawan yang datang, menghadirkan permainan tradisional, dan menyediakan kuliner khas Semarang. Warga juga membangun spot selfie bagi wisatawan, dengan menekankan kebudayaan.

“Kami juga ingin menghilangkan image negatif kampung yang dulu sering banjir, bisa dijadikan kampung wisata dan guyub. Selain itu, menciptakan keamanan kampung yang dulu sempat dikenal tidak aman,” paparnya.

Untuk memperkental nilai kebudayaan, di tengah kampung dibangun spot pagelaran wayang mini. Sementara warga juga menjual batik sebagai pusat oleh-oleh di rumah sederhana yang disulap sebagai galeri. Totalnya ada sekitar tiga gerai batik, ada pula rumah yang menjual kuliner dan kerajinan tangan lainnya.

“Hasilnya setiap akhir pekan ramai wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk belajar membatik, selfie ria, dan tour wisata,” ucapnya.

Terpisah, Dwi Kristiyanto sebagai Ketua RT 04 setempat mengungkapkan untuk mendatangkan wisata, warga setiap Minggu pagi menggelar berbagai kegiatan, seperti pasar batik, pelatihan batik dan bazar kuliner. “Kami juga menjual paket wisata, misalnya perkenalan kampung batik, sejarah Semarang, tentang batik, workshop, kuliner tempo dulu, dan permainan anak,” tambahnya. (*/ida)