Pengusaha Katering Pakai SKTM

Tim Verifikasi Temukan SKTM Abal-Abal

330
HARAP-HARAP CEMAS : Suasana ruang pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN 1 Magelang tampak lengang di hari terakhir pendaftaran, Jumat (6/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
HARAP-HARAP CEMAS : Suasana ruang pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN 1 Magelang tampak lengang di hari terakhir pendaftaran, Jumat (6/7). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Tim verifikator Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN 1 Magelang menemukan penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) abal-abal oleh calon siswa. Tim verifikator saat mendatangi rumah calon siswa mendapati tempat tinggal mereka masuk kategori bagus dan mewah.

“Dari 19 calon siswa yang terdaftar menggunakan SKTM pada hari pertama hingga ketiga, kami verifikasi. Sebanyak enam calon siswa dalam verifikasi kami, ternyata memiliki rumah yang cukup bagus dan terhitung mewah serta memiliki penghasilan yang cukup. Empat calon siswa kami nilai tidak layak dalam SKTM sedang dua siswa mengundurkan diri mencabut berkas SKTM,” kata Wakil Kepala Urusan Kurikulum Sumarsono, Jumat (6/7).

Beragam cara digunakan untuk mengelabuhi syarat SKTM. Ada calon siswa yang memakai alamat rumah neneknya dalam proses pendaftaran, termasuk yang dicantumkan dalam SKTM. Tim verifikasi yang datang ke alamat tersebut mendapatkan informasi dari tetangga bahwa calon siswa tidak tinggal bersama neneknya.

“Kami kemudian diberikan alamat asli calon siswa tersebut. Saat kami datangi, ternyata calon siswa tersebut merupakan pemilik usaha persewaan tenda dan katering,” jelas Sumarsono. Calon siswa yang terbukti memakai SKTM abal-abal langsung dihubungi agar mencabut berkas SKTM dan bersaing secara sportif.

Kepala SMAN 2 Magelang Agung Mahmudi juga menemukan penggunaan SKTM abal-abal yang digunakan calon siswa. “Tim kami ada lima tim yang terdiri dari masing-masing dua guru, menemukan empat calon siswa yang menggunakan SKTM tidak semestinya. Saat kami verifikasi dan wawancara yang bersangkutan, akhirnya bersedia mencabut berkas SKTM dan mau bersaing secara sportif,” tegas Agung. Agung memastikan, pihaknya sangat tegas dalam penggunaan SKTM abal-abal yang tidak tepat penggunaannya.

Penggunaan SKTM juga dikeluhkan oleh salah satu orangtua calon siswa, Yulianingrum, warga Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang yang mendaftarkan anaknya di SMA 3 Magelang dengan pilihan lain SMA 2 Magelang, SMA 5 Magelang, dan SMA 1 Mertoyudan.

Yulianingrum mengaku mendaftarkan anaknya dengan nilai murni sebesar 296,5. Namun, anaknya harus terlempar dari persaingan di SMA 3 Magelang, karena tergeser oleh pendaftar pemegang SKTM. Yulianingrum pun harus menunggu dengan harap-harap cemas nasib anaknya di SMA 2 Magelang jurusan IPS, yang juga bersaing dengan calon siswa pembawa SKTM.

“Kalau dengan nilai, anak saya bisa bersaing. Tapi, di sini yang saya keluhkan, yakni calon siswa yang NEM-nya jauh di bawah anak saya tetap bertahan di posisi atas, karena memakai SKTM,” ungkap Yulianingrum.

Yulianingrum menyebutkan, sebenarnya SKTM bagus untuk membantu siswa dari keluarga miskin. Tapi, sebaiknya SKTM digunakan untuk membantu secara finansial saja, bukan fasilitas masuk ke sekolah dengan mudah. “Kalau bantu masuk ke sekolah, apalagi favorit seperti SMA 1-3, tentu tidak fair dong dengan anak yang nilainya bagus. Masa anak pemegang SKTM yang NEM-nya di bawah 20 bisa diterima di SMA favorit. Apalagi, kalau SKTM itu hanya akal-akalan saja,” sesal Yulianingrum. (had/ton)

Silakan beri komentar.