GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jenjang Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Semarang yang dimulai Minggu (1/7) lalu, telah memasuki tahap pendaftaran ulang. Namun, sejumlah sekolah ternyata masih banyak yang mengalami kekurangan siswa.

Berdasarkan data yang dihimpun dari website ppd.semarangkota.go.id, Kota Semarang sedikitnya ada 327 sekolah. Dari jumlah itu, diketahui jumlah pendaftar mencapai 30.276 anak. Secara rinci, sekitar 23.545 pendaftar pada Zona I, 5.845 pendaftar Zona II, dan 886 pendaftar dari Luar Zona. Sementara daya tampung dari 327 sekolah itu yakni sekitar 14.244 peserta didik yang kemudian dibagi ke 516 kelas yang tersedia.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang melalui website ppd.semarangkota.go.id, Jumat (6/7) malam, ada beberapa sekolah yang mengalami kekurangan siswa bahkan tidak mencapai separuh dari daya tampung siswa. Seperti di SD Bugangan 01 yang berdaya tamping 28 siswa, baru menerima 9 siswa.

Nasib serupa dialami beberapa SD lainnya seperti SD Karangkidul yang baru menerima 8 siswa, padahal daya tampung sekolah mencapai 56. Kemudian SD Karanganyar 02 yang berdaya tampung 54 siswa dan baru menerim 23 siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin ketika dikonfirmasi hal ini mengaku masih melakukan evaluasi. Sebab, proses pendaftaran ulang masih akan berlangsung hingga Sabtu (7/7) hari ini. Namun, Bunyamin memastikan Disdik Kota Semarang akan segera melakukan pembenahan.

“Nanti akan kami lakukan evaluasi setelah selesai semua. Karena ini, belum selesai daftar ulangnya. Belum ada jumlah pastinya,” ungkap Bunyamin ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Tak sampai disitu, Bunyamin menegaskan masih menunggu seluruh proses pendaftaran berakhir dan seluruh hasil rekap terkumpul, baru akan memetakan sekolah mana saja yang mengalami kekurangan siswa. Kemudian melakukan pendekatan terhadap orang tua.

“Kami akan melakukan pendekatan, mana kala ada orangtua yang anaknya belum mendapat sekolah dan mau mengisi di tempat yang kekurangan siswa. Karena nggak mungkin kalau yang kosong di Tugu, terus orang Pedurungan mengisi. Logikanya tetap daerah sekitar yang mengisi,” jelasnya.

Kendati demikian, Bunyamin masih menunggu hasil laporan yang diberikan oleh masing-masing sekolah kepada Disdik Kota Semarang. “Memang ada beberapa sekolah yang kekurangan, saya yang tahu di daerah Gunungpati itu ada. Tetapi pastinya saya belum cek satu persatu,” imbuhnya.

Bunyamin menjamin, pemerintah akan hadir langsung. Pada prinsipnya, sekolah pemerintah hadir untuk melayani rakyat. “Kalau rakyatnya belum dapat sekolah tentu dibantu,” katanya.

Terpisah, Pengamat Pendidikan Ngasbun Egar mengatakan, terjadinya sekolah sepi pendaftar ini bisa disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya adalah lokasi, seperti sekolah yang tidak strategis atau jauh dari jangkauan calon peserta didik. “Hal itu bisa menyebabkan masyarakat atau orangtua jadi enggan menyekolahkan anak-anaknya ke satuan pendidikan tersebut,” tuturnya.

Faktor kedua adalah mutu sekolah. Menurutnya, sekolah dengan mutu pembelajaran baik, kegiatan ekstrakurikuler yang baik, mutu lulusan baik, ketertiban baik, hingga sekolah yang memiliki ciri khas yang baik, akan banyak menarik minat masyarakat menyekolahkan anak-anaknya ke sana.

“Masyarakat akan berbondong-bondong, bahkan ngotot agar anaknya bisa diterima di sekolah itu. Meskipun sekolah tersebut jauh dari jangkauan tempat tinggalnya,” imbuhnya.

Faktor ketiga adalah kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Satuan pendidikan yang telah dipercaya oleh masyarakat, betapapun dari kegiatan akademik bisa jadi biasa-biasa. Sekolah tersebut tetap akan menyedot perhatian masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke situ.

“Biasanya sekolah semacam ini memiliki kekhasan atau keunikan dibanding sekolah-sekolah lain. Misalnya keunikan dalm kegiatan ektra kurikuler tertentu, atau umumnya anak di sekolah tersebut memiliki karakter yang sangat bagus,” bebernya.

Faktor lain, kata Ngasbun, bisa jadi adanya kemudahan yang diperoleh anak. Kemudahan mulai dari ketersediaan buku-buku hingga penggunaan sarpras seperti ketersediaan internet misalnya, dan faktor kemudahan lain.

Menanggapi kasus kurangnya siswa, Ngasbun menyebut ada sejumlah hal yang dapat dilakukan. Misalnya memindahkan anak dari sekolah lain yang relatif dekat tempat tinggalnya. Bisa juga dengan melakukan merjer atau penggabungan dengan sekolah lain yang berdekatan jika memnuhi syarat.

“Jika sekolah sepi pendaftar karena mutu yang rendah atau kekurangpercayaan masyarakat, maka dinas bisa melakukan pembenahan terhadap mutu sekolah tersebut. Misalnya dengan melengkapi sarprasnya, mengirimkan kepala sekolah dengan kompetensi bagus, dan strategi lainnya,” tandasnya. (tsa/ida)