Dibekuk, Dua Tahun Sodomi Siswa SMA

222
KELAINAN: Tersangka Triworo Budi Santoso saat digelandang petugas Polres Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KELAINAN: Tersangka Triworo Budi Santoso saat digelandang petugas Polres Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Perbuatan Triworo Budi Santoso, 27, sungguh bejat. Warga Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini nekat menyodomi korban berinisial AK, 17 hampir setiap minggu sekali. Yang mencengangkan, tindakan pencabulan itu dilakukan tersangka sejak korban masih SD kelas IV hingga kini sudah duduk di bangku SMA kelas XII (kelas III).

Kasus sodomi ini terbongkar berawal pada Senin (18/6) lalu. Bermula saat korban bercerita kepada pamannya kalau telah disodomi tersangka. “Kejadian tersebut terjadi sejak korban awal masuk SD, dan perbuatan itu dilakukan tersangka hampir setiap minggu,” kata Wakapolres Semarang Kompol Cahyo Widyatmoko kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (5/7).

Sebelum diringkus pihak berwajib, tersangka terakhir melakukan aksinya Kamis (14/6) lalu sekitar pukul 22.00 di rumahnya. “Atas kejadian, korban melaporkan ke Polres Semarang,” ujarnya.

Dikatakan Cahyo, saat melapor ke Mapolres Semarang, korban didampingi keluarganya. Saat bercerita di kantor polisi, korban mengaku jika aksi pencabulan oleh tersangka sudah sering dilakukan sejak masih duduk di kelas VI SD.

“Pencabulan dilakukan dengan memainkan alat kelamin, kemudian mengulum alat kelaminnya dan sebagainya. Dan itu berjalan sekitar kurang lebih 4 tahun. Nah saat korban duduk di kelas I SMA, mulailah tindakannya meningkat, yakni adanya tindakan sodomi yang dilakukan tersangka,” katanya.

Sehari-hari tersangka adalah karyawan sebuah perusahaan swasta di Kabupaten Semarang. Ia mengenal korban sejak masih duduk di bangku SD. Keduanya saling kenal karena teman bermain yang hanya beda dusun.  “Kejadian tersebut dilakukan kurang lebih 2 tahun, yang bersangkutan tersangka hampir melakukan setiap satu minggu sekali terhadap korban,” katanya.

Kemudian, ketika korban menginjak kelas III SMA, korban mulai menghindar. Namun tersangka selalu merayu dengan iming-iming memberikan uang dan handphone kepada korban. “Tersangka memberikan handphone kepada korban supaya mau  melayani perbuatan bejatnya,” ujarnya.

Selain mengamankan tersangka, pihak kepolisian menyita barang bukti antara lain handphone baik milik korban dan tersangka. Saat ditanya petugas, tersangka mengaku jika baru melakukan aksi sodomi terhadap satu orang, yakni AK.  “Korbannya baru satu orang berdasarkan jejak di handphone,” tutur Cahyo.

 

Triworo mengaku jika ia memiliki kelainan orientasi seksual karena lebih tertarik dengan sesama jenis.  Awalnya, korban sering main dan tidur di rumahnya, kemudian muncul hasrat untuk berbuat asusila. “Ya, kadang kita kayak spontan begitu. Nah, mungkin saya punya naluri kelainan, saya lampiaskan kepada dia (korban, Red),” kata Triworo.

Dikatakan, jika aksi sodomi dilakukan baru beberapa waktu terakhir. “Nggak seminggu sekali kok, cuma saat mau-mau aja. Dia (korban, Red) juga tidak pernah menolak,” akunya.

Ia juga mengakui jika sudah melakukan aksi pencabulan terhadap korban sejak duduk di bangku kelas II SMP. “Perbuatan ini, kami lakukan di kamar tidur,” tuturnya.

Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Yusi Andi Sukmana menambahkan, perbuatan tersangka akan dijerat pasal 76 E jo Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Adapun ancaman hukumannya paling sedikit 5 tahun penjara,” kata Yusi. (ewb/aro)