HENING: Suasana Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Tengah di Jalan Sriwijaya, Jumat (6/7) pagi.(SULISTIONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HENING: Suasana Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Tengah di Jalan Sriwijaya, Jumat (6/7) pagi.(SULISTIONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANGDi tengah suasana hening ruang baca Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Jawa Tengah, Raditya, 20, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di kota Semarang, tampak bersungut-sungut. Ia tampak galau, ketika usahanya untuk mendapatkan buku sebagai bahan referensi penelitiannya, tidak ada di Perpusda yang berlokasi di Jalan Sriwijaya itu.

 Nggak ada mas, kata petugasnya tadi, belum punya buku yang saya maksud. Padahal, penting sekali tambahan bahan penelitian,” ungkap Raditya yang saat itu datang bersama dua temannya.

Kondisi serupa juga dialami Neny Ratnaningsih. Ia tengah mencari buku untuk bahan referensi tugas akhir kuliahnya. Neny terpaksa gigit jari, karena buku referensi yang hendak dipinjamnya,tidak dimiliki Perpusda. “Terpaksa cari yang (isinya) mirip, karena tidak ada di sini,” tutur mahasiswi asal Pati itu.

Tidak up to datenya buku bacaan di Perpusda, Plt Kepala Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Lestari Handayani. Untuk mendapatkan buku terbaru yang diinginkan pengunjung perpustakaan, pihaknya baru bisa memenuhinya setahun kemudian,menunggu anggaran pengadaan tahun berikutnya.

“Ini yang menjadi kendala kami, karena harus melalui anggaran dan lelang. Kami tidak bisa membeli dengan cepat buku yang dicari pengunjung,” ungkap Sri Lestari.

Sri menambahkan, terbatasnya anggaran pengadaan pembelian buku baru, juga membuat pihaknya tidak bisa menyajikan buku-buku dengan maksimalPada 2018 ini, misalnya, Perpusda mendapat anggaran sebesar Rp 1,5 miliar. Jumlah sebesar itu tidak mencukupi untuk membeli buku-buku yang diharapkan.

“Kami dibatasi untuk setiap pembelian satu buku maksimal Rp 45 ribu. Padahal, kita tahu buku-buku bagus, harganya sudah di atas seratus ribu rupiah, kata  Sri LestariPembatasan juga membuat pihak rekanan pengadaan kesulitan memperoleh buku yang diinginkan. Kondisi ini memaksa Perpusda  melakukan pengadaan buku “seadanya”,

“Ya, kalau ada istilah, sing penting ono, ya seperti itu kondisinya. Kuantitas yang penting terpenuhi dengan anggaran sebesar itu, pungkas Sri Lestari. (AE1)