Tak Hanya Memainkan, Tapi juga Merakit Barongsai

Perkumpulan Barongsai Nacha Dharma Gisikdrono, Semarang

651
BIKIN BARONGSAI: Anggota Sasana Nacha Dharma saat merakit kerangka barongsai. (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BIKIN BARONGSAI: Anggota Sasana Nacha Dharma saat merakit kerangka barongsai. (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Perkumpulan barongsai Sasana Nacha Dharma tak hanya diajarkan atraksi dalam memainkan barongsai. Tapi, juga wajib memiliki skill dalam merakit barongsai.

TRIAWANDA TIRTA ADITYA

RADARSEMARANG.COM – SASANA Barongsai Nacha Dharma terbentuk pada 2014 silam. Saat ini, perkumpulan pemain barongsai ini memiliki 25 anggota yang kebanyakan adalah kalangan pelajar. Mereka diajari memainkan barongsai, serta merakit berbagai bentuk barongsai. Di antaranya, barongsai berjenis Hoksan (bebek), Foxsan (kucing) dan Dragon (naga).  Hampir setiap hari,  mereka merakit barongsai di base camp sekaligus rumah pendiri perkumpulan ini, Budi Pribowo, di Kelurahan Gisikdrono, Semarang Barat.

“Jika teman-teman di sini sudah bisa beratraksi, maka mereka juga harus punya keterampilan untuk merangkit barongsai. Saya selalu berusaha untuk membuat semua anggota lebih produktif dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Budi Pribowo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengatakan, sebagian besar anggotanya adalah pelajar. Ada pula yang sudah bekerja dan berumah tangga. Bahkan beberapa anggotanya adalah anak-anak yang telah putus sekolah.

“Awal terbentuk, hanya 10 anggota, kini sudah ada 25 anggota dari berbagai kalangan.  Di perkumpulan kami yang terpenting adalah solidaritas dan saling menghargai satu sama lain,” katanya.

Diceritakan, perkumpulan ini bermula dari ide sang istri, Siti Nuraini, yang kesulitan mencari pemain barongsai. Dari situlah akhirnya dibentuk perkumpulan para pemain barongsai yang diberi nama Sasana Nacha Dharma. Nama perkumpulan itu diambil dari nama anak pasangan Budi dan Siti, yakni Nasya.

“Awal kami merintis usaha ini, saya dan suami sampai menjual motor untuk modal usaha, yang akhirnya menghasilkan 2 barongsai yang bisa kami gunakan untuk pertunjukan,” kenang Siti Nuraini.

Ia menambahkan, para pemain barongsai di perkumpulan ini berlatih secara otodidak. Agar bisa mahir dalam pertunjukan, terkadang mereka belajar dari YouTube dan mengomparasikannya saat latihan.

Ada 3 jenis produk yang dijual di perkumpulan ini, yakni kerangka barongsai, kepala barongsai yang sudah dihias, dan full set barongsai yang siap main. Harganya bervariasi bergantung jenisnya. Misalnya, untuk kerangka barongsai dijual kisaran Rp 300 ribu, kepala barongsai kisaran Rp 2,5 juta, dan barongsai full set kisaran Rp 4 juta-Rp 5 juta. “Biasanya harga bisa juga disesuaikan dengan kebutuhan dan budget konsumen,” katanya.

Untuk pemasarannya, produk dari perkumpulan ini sudah menyebar hingga ke sejumlah kota. Seperti, Temanggung, Purbalingga, Pontianak, bahkan Bali.

Budi menambahkan, Sasana Barongsai Nacha Dharma tidak hanya menggelar pertunjukan pada Sabtu atau Minggu di Kelenteng Sam Po Kong. Namun mereka juga kerap mengisi acara-acara lainnya. Seperti saat menyambut Presiden Joko Widodo di Kendal Industrial Park, arak-arakan konco/makco, acara pernikahan, serta acara ulang tahun. Perkumpulan ini juga kerap diundang ke luar kota, seperti Jogja, Solo, Lasem, Rembang, Cilacap, hingga Jakarta. “Sasana Barongsai Nacha Dharma menargetkan bisa ikut serta dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan datang,” ujar Budi Pribowo optimistis.

Salah seorang anggota Sasana Barongsai Nacha Dharma, Ravenda, mengaku dirinya terpaksa berhenti sekolah saat kelas 4 SD lantaran tak memiliki biaya. Selanjutnya, ia bergabung dengan perkumpulan tersebut untuk membantu perekonomian keluarga sekaligus menyalurkan hobi. Pemuda 16 tahun ini menambahkan, sejak bergabung dengan Sasana Barongsai Nacha Dharma, ia jadi memahami apa itu arti persaudaraan dan kekompakan. “Suatu saat saya juga ingin membuka sasana sendiri, dan membuka usaha seperti ini,” harapnya. (*/aro)