Dorong IKM Perluas Akses Pasar

459
WORKSHOP : Direktur IKM LMEA Kementerian Perindustrian, Endang Suwartini dalam Workshop e-Smart bersama 50 UKM di All Stay Hotel Semarang, Rabu (4/7) kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
WORKSHOP : Direktur IKM LMEA Kementerian Perindustrian, Endang Suwartini dalam Workshop e-Smart bersama 50 UKM di All Stay Hotel Semarang, Rabu (4/7) kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Kementerian Perindustrian RI menargetkan sebanyak 4.000 pelaku usaha skala industri kecil dan menengah (IKM) menjadi peserta e-Smart IKM. Dari jumlah tersebut, diharapkan ada 12 ribu produk yang dipromosikan melalui e-commerce.

Hal ini disampaikan oleh Direktur IKM LMEA Kementerian Perindustrian, Endang Suwartini saat membuka Workshop e-Smart dengan jumlah peserta sebanyak 50 UKM dari berbagai sektor mulai dari logam, mesin, elektronika hingga alat angkut.

Endang mengatakan, program e-Smart IKM yang diluncurkan sejak 27 Januari 2017 ini tercatat telah menggaet 2.630 peserta dan membukukan nilai transaksi online hingga Rp 600 juta. Menurut Endang, sudah saatnya produk IKM dikenal masyarakat melalui e-commerce.

“Pesertanya ini adalah pelaku industry. Jadi produknya dijamin produk lokal. Mereka akan mendapatkan keuntungan karena pelatihan ini bermanfaat untuk pengembangan usaha,” jelasnya di All Stay Hotel Semarang, Rabu (4/7).

Ia mengatakan, pelatihan yang dilakukan ini memang menyasar produk lokal karena tujuannya meningkatkan pangsa produk lokal. Dalam workshop, materi yang diberikan antara lain strategi pemasaran, pembukuan hingga pengembangan produk.

Endang menuturkan, menjadi IKM di zaman sekarang harus update dengan teknologi. Apalagi pemberdayaan IKM melalui teknologi digital merupakan salah satu prioritas dalam peta jalan Indonesia menuju era industri ke-4. Kata Endang, dengan keikutsertaan pelaku IKM dalam e-Smart akan memudahkan pembinaan yang dilakukan pemerintah. “Kan ada pendataan dan cluster usaha. Kebutuhan apa, solusinya bagaimana, mesin yang apa, akan teridentifikasi sehingga masalah usaha tertanggulangi,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, Arif Sambodo menambahkan, pemerintah mencoba membuka ruang promosi untuk pelaku usaha. Harapannya, satu dari persoalan industri, yakni pemasaran, bisa teratasi. “Persoalan lain adalah modal, skill dan ketersediaan tenaga kerja, proses produksi, dan pasar atau pemasaran,” paparnya.

Meski demikian, Arif menilai masalah pengembangan industri kecil saat ini sudah teratasi. Ia mencontohkan, adanya pinjaman lunak dan CSR perusahaan untuk masalah permodalan. Sedangkan masalah tenaga kerja, banyak pelatihan dan produksi, ada mesin tepat guna. “Terpenting adalah hasil produksi dari IKM ini memenuhi standarisasi. Kami terus melakukan pendampingan, setidaknya setiap tahun ada lima yang mengurus SNI,” paparnya. (tsa/ida)