Berawal Melampiaskan Hobi, Kini Jadi Pekerjaan Utama

Wahyu Juskitama Guru sekaligus Pendongeng dan Pesulap

288
BERAKSI – Wahyu saat mendongeng dan bermain sulap di hadapan anak-anak. Selain aktif berkomunikasi dengan penonton juga memberi hadiah langsung. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
BERAKSI – Wahyu saat mendongeng dan bermain sulap di hadapan anak-anak. Selain aktif berkomunikasi dengan penonton juga memberi hadiah langsung. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

Bermain sulap awalnya hanya aktivitas iseng bagi seorang Wahyu Nur Waskito atau dikenal dengan nama Wahyu Juskitama atau Pak Wahyu. Namun, kini justru menjadi pekerjaan utama untuk menghidupi keluarga, disamping masih meneruskan profesinya sebagai guru. Bagaimana kisahnya?

LUTFI HANAFI, Pekalongan

RADARSEMARANG.COM – Wahyu yang tinggal di Kota Pekalongan ini menyukai permainan sulap mulai sekitar tahun 2004, ketika masih duduk di bangku SMA. Berbagai trik sederhana sudah dipelajari. Dari awalnya hanya hobi, diteruskan dengan memberanikan diri ikut kompetisi sulap baik tingkat daerah maupun nasional sering menjuarai kompetisi sulap.

Alhamdulillah sering ikut lomba sulap, sering juga dapat juara lumayan,” ucapnya kepada Radar Semarang.

Diceritakan, pada 2012, Wahyu mendapatkan juara sekaligus Best National Performer Magician di salah satu ajang lomba sulap. Setelah itu, perlahan job manggung terus berdatangan. Dari bermain di ulang tahun anak, hingga bermain di sekolah hingga bermain untuk acara berbagi even orang dewasa.

Dari sekadar bermain sulap, lambat laun pria yang setiap pagi mengajar di salah satu sekolah Islam ini menjadi pendongeng untuk anak-anak. Tidak hanya mendongeng, materi bernuansa religi pun menyertainya.

“Untuk kebiasaan mendongeng religi karena pekerjaan utama saya sebagai guru, dengan mendongeng anak bisa lebih mudah memahami materi yang disampaikan,” ucapnya.

Tidak sekadar mendongeng, di sela-sela menceritakan kisah-kisah islami selalu diselingi dengan trik sulap agar anak tidak merasa jenuh dan lebih bersemangat. Bahkan sesekali diberi hadiah menarik, dari doorprize hingga uang tunai langsung dari dompet.

“Kenapa saya sering bawakan kisah religi atau islami, supaya anak selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-harinya dari kisah yang saya bawakan,” ucapnya saat ditanya alasan kenapa mendongeng islami.

Sejak menjadi pendongeng, nama panggilan panggung pun didapatnya. Pak Wahyu, nama panggung barunya. Nama tersebut digunakan, karena mendongeng lebih banyak dilakukan kepada anak-anak, dan dirinya sering berperan sebagi guru daripada pendongeng.

Agar tidak membosankan, Wahyu juga menyelingi atraksi mendongeng dengan boneka yang bisa ngomong. Menggunakan teknik suara perut, tokoh yang dibawakan adalah Ciko. Boneka tangan tersebut, Wahyu mendapat inspirasi saat sering mendongeng ke anaknya menjelang tidur.

“Awalnya boneka hanya untuk menghibur anak sendiri sebelum tidur. Ada 4 boneka yang saya gunakan. Yang diberi nama oleh anak saya, ciko, cika, tom, momo. Kadang bergantian mereka saya ajak main,” ungkapnya.

Disinggung penghasilan, Wahyu mengakui dari manggung lebih besar dibanding sebagai guru. Berprofesi sebagai guru menurutnya hanyalah panggilan jiwa, karena dia suka mendidik anak.

“Penghasilan utama saya dari bermain sulap dan mendongeng, alhamdulillah tercukupi,” jelasnya.

Ke depan Wahyu masih berambisi ingin tetap berkarya dan selalu menghibur semua, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan menciptakan berbagai trik sulap baru dan beragam teknik mendongeng yang baru. Agar dunia hiburan dan cara mendidik akhlak anak dengan mendongeng juga semakin gencar. Karena lewat hiburan akan lebih mudah memasukkan nilai-nilai edukasi yang tepat dan baik. (*/lis)