Dari Produksi Fashion hingga Repaint Wajah Boneka

Lebih Dekat dengan Semarang Dolls Lovers (SDL)

375
HOBI: Sejumlah anggota Semarang Dolls Lovers dan contoh koleksinya. (DOKUMEN PRIBADI)
HOBI: Sejumlah anggota Semarang Dolls Lovers dan contoh koleksinya. (DOKUMEN PRIBADI)

Komunitas Semarang Dolls Lovers (SDL) menjadi wadah bagi para kolektor boneka. Sejumlah kegiatan digelar komunitas ini guna memantik produktivitas para anggotanya, baik dari segi kreativitas maupun peluang bisnis.

NURUL PRATIDINA

RADARSEMARANG.COM – BEBERAPA boneka tertata rapi di salah satu stan pameran yang digelar di pusat perbelanjaan, baru-baru ini. Tapi jangan salah, stan ini tidak menjual boneka, melainkan memamerkan sejumlah koleksi dari Komunitas Semarang Dolls Lovers. Penataan dan tampilan beda dari boneka-boneka tersebut cukup mencuri perhatian para pengunjung. Mulai dari tampilan wajah hingga fashion yang dikenakan. Ken, misalnya. Boneka pria ini tampil dalam balutan batik. Ada juga boneka yang tampil anggun dalam balutan cheongsam dress.

“Ini yang menjadi salah satu alasan saya mengoleksi sejumlah boneka. Karena saya memiliki banyak kain perca di rumah, dan kain-kain tersebut bisa dibikin replika beragam desain baju, kemudian dikenakan ke boneka-boneka koleksi,”kata ketua sekaligus salah satu pendiri SDL, Elkana Gunawan.

Elkana mengungkapkan, berbeda dengan para kolektor yang mungkin telah bertahun-tahun mengoleksi boneka. Ia justru baru mulai mengumpulkan sejak April 2016. Berawal dari salah seorang rekan yang memasukkannya ke dalam grup sosial media yang berisi tentang fashion untuk boneka.

Media sosial tersebut membawanya berkenalan dengan sejumlah dolls lovers di Semarang yang kemudian kopi darat di salah satu pusat perbelanjaan di Semarang. Tercetuslah ide untuk membentuk komunitas, dan akhirnya SDL terbentuk pada 26 Juli 2016. “Tujuan kami ingin kumpul-kumpul tapi yang produktif. Berbagi pengalaman, berbagi kesenangan, serta berbagi ilmu,”ujarnya.

Karena itu, berbagai kegiatan diadakan. Di antaranya, pertemuan rutin bulanan. Di sini para anggota membahas berbagai informasi seputar koleksi. Mungkin ada boneka keluaran terbaru, bisa beli di mana, dan lain-lain. Kemudian pameran secara periodik serta mengikuti maupun menyelenggarakan lomba.

“Beberapa lomba tematik tersebut di antaranya saat Hari Kartini, kami bikin lomba Kebaya for doll. Kegiatan ini meskipun peserta tidak terlalu banyak, tapi kelasnya nasional. Ada juga lomba Hollywood Style for Doll, di momen Imlek ada Cheongsam for doll. Kemudian pada Hari Batik kami pamerkan boneka-boneka yang didandani dengan batik,”kata pria yang berprofesi sebagai desainer ini.

Bahkan, lanjutnya, baru-baru ini ia juga telah mendaftarkan SDL ke Bekraf sebagai komunitas yang produktif. Ya, sebagian anggota memang tidak hanya mengoleksi, tapi mereka juga bisa memproduksi benda-benda terkait boneka.

“Salah satu anggota ada yang memproduksi sepatu khusus boneka, dan ternyata peminat produknya cukup banyak. Ada juga yang hobi merajut kemudian bikin produksi sweater untuk boneka. Bahkan ada yang menerima repaint wajah boneka. Jadi, wajah dihapus sampai bersih, kemudian digambar ulang sesuai permintaan. Ini adalah kegiatan-kegiatan kami yang cukup produktif, dan ke depan kami berusaha akan terus kembangkan,”ungkapnya. (*/aro)