33 C
Semarang
Rabu, 15 Juli 2020

Nihi Sumba Dunia

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Oleh: Dahlan Iskan

Tidak berhenti-berhenti saya berpikir: apa ya yang membuat villa Nihi Sumba di Nihi Watu ini hebat? Terpilih sebagai hotel terbaik dunia? Tahun 2016 dan 2017?

Setelah satu malam di villa itu saya ambil kesimpulan. Atas penilaian saya sendiri. Apalagi setelah dua kali turun ke pantainya: ketika senja tiba dan ketika fajar menyingsing. Juga setelah makan malam dan makan pagi di resto alaminya.

Inti penilaian saya: hotel ini memiliki bukit, memiliki hutan dan memiliki pantai sekaligus. Tiga-tiganya dalam satu kesatuan.

Bukit biasanya jauh dari pantai.  Bukit yang dekat laut biasanya menghasilkan cliff. Tebing. Tidak punya pantai. Seperti di Uluwatu, Bali, itu. Atau di sepanjang Tapak Tuan, Sumut.

Pantai biasanya tidak punya tebing. Seperti pantai Kuta. Atau pantai Sanur. Atau pantai Copacabana dan Ipanema di Rio de Jaenero. Atau pantai di Hawaii. Atau pantai di Sanya, Hainan. Atau Atlantic City Virginia, AS. Atau Nantes, di Prancis. Jangan masukkan  Pantai Indah Kapuk di Jakarta.

Nihi Sumba, di Sumba Barat Daya itu, tiga-tiganya bisa dipadu. Bukitnya di bibir pantai. Pantainya di pangkuan bukit. Di dekat paha bukit itu lebat hutannya.

Pantainya pun lengkap. Lengkungnya 2,5 km. Pasirnya putih. Bersih. Tidak ada kiriman sampah. Atau plastik. Yang kalau di Kuta menjadi gangguan yang serius. Kuta-nya Lombok juga indah. Tapi bukitnya agak jauh.

Di ujung kiri lengkung pantai itu ada tambahan keindahan. Bukit batu. Yang menyebul dari laut. Beberapa. Mirip di Pantai Kuta Lombok.

Manusia lantas membuatnya lebih indah. Dibuatkan jalan turun dari bukit ke pantai. Jalan itu dibuat natural. Belok-belok. Turun tajam. Dirindangi hutan. Tidak hanya satu. Ada beberapa ‘lorong’ hijau menuju pantai itu.

Restorannya dibuat di ketinggian. Di lereng bukit. Bisa pilih tempat duduk yang menghadap laut. Bisa mengintip pantai dari sela-sela dedaunan. Indah sekali. Malam hari, sambil makan malam, bisa melihat bintang.

Kebetulan bulannya mendekati purnama. Sinarnya menyorot ke pantai. Membuat kilauan putih: pasir, buih dan gelombang yang menabrak pantai. Suara deburannya seperti misteri alam yang lagi wirid.

Villanya sendiri dibangun di lereng-lereng itu. Satu villa terpisah dari lainnya. Ada 32 villa di sana. Saya menempati yang dua tingkat. Kosong bagian atasnya. Bisa untuk empat orang sebenarnya.

Di depan tempat tidur ada kolam renang privat. Sambil berbaring di ranjang pun bisa melihat kolam itu dengan background hutan dan laut. Suara deburan ombak menjadi musik alami.

Senja hari ada atraksi alam. Bisa berkuda di pantai itu. Kuda Sumba. Sekitar 40 ekor tersedia. Bisa juga bertanding kuda di pantai itu. Atau melihat bagaimana kuda dipacu di atas air laut.

Malam itu ada pemutaran film di pantai. Di layar yang disiapkan sejak senja. Tapi saya pilih disettingkan tv untuk menonton live Piala Dunia: Inggris menang 6-1.

Untuk ke Nihi Sumba ini sebetulnya saya hanya spekulasi. Saya tahu: villa ini  selalu penuh. Kalau mau ke situ harus booking dulu.  Setahun sebelumnya. Tidak pernah ada tamu yang walk-in. Seperti saya ini. Apalagi di musim bagus seperti ini: Juni-Juli-Agustus. Saat udara dingin di Australia ikut menyejukkan Sumba.

Saya benar-benar hanya berspekulasi: dapat kamar alhamdulillah, tidak dapat kamar ya lebih alhamdulillah. Yang penting saya sudah ke Nihi Sumba.

Karena itu ketika petugas sibuk bagaimana harus memperlakukan kedatangan saya yang mendadak itu saya parkir mobil. Lalu menyelinap ke pantai. Keliling komplek villa itu. Saya tahu: belum tentu satu jam bisa ketemu jalan untuk mencarikan kamar saya. Berarti saya punya waktu untuk merekam Nihi Sumba.

Waktu satu jam cukuplah. Saya pernah ke Pantai Waikiki di Hawaii. Tidak sampai setengah jam sudah meninggalkan pantai itu.
Sayangnya: saya dapat kamar.

Entah bagaimana. Satu-satunya villa yang bisa. Yang taripnya Rp 25 juta itu. Itu pun hanya satu malam. Pagi-pagi harus pergi.

Belum jam 5 pagi saya sudah ke pantai lagi. Merekam fajar menyingsing. Menyimak ufuk memerah. Mendengar debur gelombang pagi.

Saya tidak malu lagi. Di Amerika nanti. Sudah ke bagian terindah negeri sendiri: Nihi Sumba ini. (dis)

Photo courtesy of nihi.com

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Yunus dan Agung Rawan Absen

SEMARANG – Dua pemain gelandang PSIS Semarang, M Yunus dan Ahmad Agung dalam kondisi rawan absen lantaran hukuman akumulasi mengingat saat ini masing-masing telah...

KPU Bahas Aduan, Panwas Walk Out

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Salatiga menyimpulkan hasil pemeriksaan internal bahwa tiga orang Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang dilaporkan Panwas ke...

Sang Wagiman, Kini Berpulang

SEMARANG - Puluhan karangan bunga berjejer di sepanjang sisi kanan-kiri jalan menuju rumah mantan Wali Kota Semarang, Kol (Purn) Soetrisno Soeharto di Jalan Wologito...

Persikama Takluk di Kandang Persik

MUNGKID— Ujicoba perdana Persikama Kabupaten Magelang melawan tim selevel, belum memuaskan. Tim kebanggan warga Kabupaten Magelang, dipaksa kalah 2-0 dari tuan rumah Persik Kendal. Bertanding...

Anak Difable Bagikan Takjil

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Puluhan anak berkebutuhan khusus asyik membaur dengan ratusan anak lainnya, di Musala Al Fikr, Dusun Jetis Pancuran Mas, Kecamatan Secang, Kabupaten...

Bulan Madu Tunggu Selesai Hukuman 2 Tahun

RADARSEMARANG.COM - Pernikahan adalah momen sakral yang selalu dikenang. Tapi, bagaimana jika momen pernikahan itu digelar di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas)? Setidaknya itu yang...