Harga Rumah Naik 5 Persen

1600
PROPERTI NAIK : Salah satu pameran yang digelar REI Jateng di salah satu pusat perbelanjaan Semarang. Di semester II 2018, harga rumah rata-rata naik 5 persen. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
PROPERTI NAIK : Salah satu pameran yang digelar REI Jateng di salah satu pusat perbelanjaan Semarang. Di semester II 2018, harga rumah rata-rata naik 5 persen. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pertengahan tahun ini harga rumah mengalami kenaikan hingga 5 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan dipicu oleh meningkatnya harga tanah dan harga komponen bangunan.

“Untuk rumah subsidi dari yang Rp 123 juta jadi Rp 130 juta, begitu juga dengan rumah-rumah komersial yang rata-rata kenaikannya sekitar 5 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, Prijanto, baru-baru ini.

Kenaikan tersebut utamanya dipicu oleh kenaikan harga tanah yang dinilai semakin melambung. Menurutnya, harga tanah per tahun bisa meningkat hingga dua kali lipat, terlebih bila tak jauh dari lahan mulai dibangun perumahan.

“Tanah ini yang makin kejar-kejaran. Dari yang 100 jadi 200, apalagi setelah kita bangun satu lahan maka lahan sebelah harganya langsung naik berlipat,” ujarnya.

Selain harga tanah, beberapa komponen bangunan juga berkontribusi dalam mendorong kenaikan harga jual rumah. Khususnya, komponen-komponen yang terpengaruh oleh nilai tukar rupiah terhadap nilai dolar amerika.

“Salah satunya besi yang sangat terpengaruh bila dolar naik. Padahal, kontribusi besi untuk pembangunan beton mencapai 40 persen. Sehingga kalau harga besi naik ya biaya melonjak cukup besar. Terlebih kalau bangun apartemen ,ya kaget sekali,” katanya.

Begitu juga untuk rumah subsidi, beberapa waktu lalu ditetapkan aturan untuk diameter besi diperbesar. Yaitu dari diameter 8 cm menjadi 10 cm. Dengan harga besi normal, perubahan diameter ini kira-kira menambah dana sekitar Rp 2 juta.

“Kalau dolar naik ya tambah lagi. Padahal kenaikan hanya 5 persen atau Rp 7 juta. Sudah dipotong penambahan diameter, kenaikan harga komponen akibat menguatnya dolar plus harga tanah yang harus dikejar,” ujarnya. (dna/ton)