Kematian Ibu Melahirkan Capai 10 Orang

Bupati Perintahkan Bidan Rutin Nginceng Orang Hamil

287
SERAHKAN : Bupati Batang Wihaji secara simbolis menyeraham SK Bidan Delima Kabupaten Batang, pada Sabtu (30/6). (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERAHKAN : Bupati Batang Wihaji secara simbolis menyeraham SK Bidan Delima Kabupaten Batang, pada Sabtu (30/6). (LUTFI HANAFI /JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, BATANG-Kematian ibu melahirkan meninggal dunia di Kabupaten Batang masing cukup tinggi. Tercatat, tahun 2017 mencapai 16 orang dan 2018 sampai Juni sudah  10 orang. Jumlah itu masih akan terus bertambah. Untuk itu, Bupati Batang Wihaji memerintahkan para bidan di Batang ‘Nginceng’ (melihat, red) secara rutin ibu-ibu yang sedang hamil di Batang.

“Saya sudah memerintahkan ke bidan-bidan desa mengintensifkan program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng untuk nginceng orang hamil. Mengamati ini penting, untuk mengantisipasi permasalahan pada ibu hamil,” kata Bupati Batang Wihaji usai menghadiri Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Batang ke-67, pada Sabtu (30/6).

Menurutnya, saat ini setiap desa sudah memiliki bidan desa yang siap membantu mendeteksi permasalahan ibu hamil dan melahirkan. “Saya berharap jangan sampai ada kematian ibu gara-gara melahirkan. Apabila ada, harus bersinergi dengan Puskesmas dan rumah sakit,” harap Wihaji.

Wihaji juga menyinggung permasalahan bayi lahir dengan kondisi kurang gizi atau stunting yang cukup banyak di Batang. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat yang salah. Banyak orang hamil karena tradisi menghindari atau melarang makan, seharusnya asupan makanannya banyak dan bergizi.

“Ada persepsi masyarakat yang masih salah melarang ibu hamil memakan makanan tertentu, padahal banyak gizinya. Oleh karena itu, harus terus dilakukan sosialiasi baik oleh bidan desa maupun Puskesmas,” jelasnya.

Ketua IBI Kabupaten Batang, Yayan Nuryanah mengatakan bahwa untuk mengurangi kematian ibu melahirkan dengan sosialisasi pengetahuan tentang pentingnya nutrisi makanan ibu hamil. Karena di pelosok-pelosok desa masih ada pantangan makanan. Misal, setelah melahirkan hanya diperbolehkan makan nasi dan krupuk usek atau ngasrep.

Dijelaskan juga, penyebab kematian ibu melahirkan selalu disertai penyakit penyerta yang tidak terdeteksi sejak awal dan bayi yang disebabkan lahir prematur. “Kami berupaya dengan penyuluhan gizi seimbang pada ibu hamil, untuk meningkatkan kesehatan ibu dan kesehatan bayinya,” jelasnya.

Jumlah bidan di Kabupaten Batang, lanjutnya, ada sebanyak 540 bidan yang terdiri atas PNS, CPNS, PTT, Wiyata Bhakti dan magang dan pensiunan, namun yang masuk menjadi anggota IBI baru 517 bidan. “Rasio jumlah bidan dengan masyarakat serta jumlah desa sebanyak 428 desa sudah mencukupi. Cuma kalau ada Puskesmas Bersalin masih butuh tenaga bidan,” jelasnya.

Ia berharap untuk lebih memaksimalkan pelayanan kesehatan, semua Puskesmas memiliki PONED (Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar) yang siap 24 jam sebagai rujukan sehingga pasien atau ibu melahirkan ada pengawasan intensif oleh dokter, bidan, perawat dan tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih. “Saya harap Puskesmas di Kabupaten Batang bisa memiliki pelayanan PONED semua. Yang sekarang hanya ada 4 puskesmas,” tandasnya. (han/ida)