RADARSEMARANG.COM – CALONE loro sing menang siji. Ini guyonan politik. Saya mendengarnya sebelum pemilihan kepada daerah berlangsung. Namun, baru berani menuliskannya di sini sekarang. Kalau saya tulis saat itu, bisa-bisa kena semprit.

Guyonan itu sebenarnya faktual. Calon Gubernur Jateng memang dua. Ganjar Pranowo dan Sudirman Said. Yang akan memenangkan pertarungan juga hanya satu. Bisa Sudirman Said, bisa juga Ganjar Pranowo. Namun, kalau guyonan itu disampaikan di tempat umum bisa dianggap tendesius.

Kalau disampaikan saat kampanye bisa dianggap memprovokasi untuk memenangkan calon tertentu. Apalagi kalau yang menyampaikan pihak Ganjar Pranowo yang memakai nomor satu (siji). Belum lagi kalau ditambahi guyonan lainnya: calone loro sing dicoblos siji. Bisa-bisa panitia pengawas (panwas) meradang.

Kalimat senada sering digunakan untuk berkampanye pada zaman Orde Lama. Belakangan dianggap tidak cerdas dan tidak mendidik. Namun tak bisa dihentikan total. Saat masa kampenya pilkada serentak, masih sering terdengar guyonan itu. Bagi saya menarik. Kalangan politikus sering menjadikannya bahan candaan. Dan, suasana menjadi segar.

Pak Ganjar juga menangkap candaan seperti itu. Saya diceritai saat berkunjung ke rumah kontrakannya beberapa waktu sebelum pemilihan gubernur berlangsung. Dia menyampaikannya kepada saya dengan tertawa. Saya bersama seluruh pimpinan Radar Semarang juga tertawa.

Guyonan itu kebetulan bertuah. Ganjar Pranowo yang bernomor satu memenangkan pertarungan. Angkanya cukup meyakinkan. Dia yang berpasangan dengan Taj Yasin mendapat 58,79 persen. Sedangkan Sudirman – Ida Fauziyah meraih 41,21 persen. Angka itu real count KPUD Jateng. Ganjar hanya kalah di empat kabupaten.Yaitu, Brebes, Purbalingga, Kebumen, dan Kabupaten Tegal.

Di satu sisi Ganjar hebat. Bayangkan serangan yang ditujukan kepadanya bagai angin lesus. Itu berulang-ulang. Ganjar dituduh terlibat kasus maha besar e-KTP. Dia sudah beberapa kali diperiksa KPK meskipun hanya sebatas saksi. Bahkan sehari setelah pencoblosan, dia diperiksa lagi.

Calon dari PDIP itu sempat kewalahan menghadapi serangan. Berbagai alasan sudah diungkapkan. Berbagai fakta (menurut dia) telah disampaikan. Semuanya mental. “Terus aku kudu piye?” ujarnya bernada tanya. Pertanyaan itu dijawab sendiri. “Ya, barangkali kita gunakan kampanye model wong ndeso saja.” Kampanye model ndeso itu, ya, itu tadi. Calone loro sing dicoblos siji. Calone,loro sing menang siji. Tentu Ganjar goyonan.

Strategi Ganjar jitu. Dia memilih pasangan Taj Yasin. Putra kiai besar Maemun Zubair. Orang agamis yang dijamin  bersih. Bisa mendukung jargon politik Ganjar. Ora ngapusi, ora blenjani, ora korupsi. Mudah-mudahan Pak Ganjar jujur. Ini terlepas dari hasil pemeriksaan KPK yang kita semua belum tahu.

Pemilihan Taj Yasin itulah yang menurut saya mendukung kemenangan Ganjar. Sebab, PDIP sendiri kelihatan mulai terseok-seok di berbagai daerah. Di Kudus, misalnya, jago PDIP keok. Masan yang merah dikalahkan M Tamzil yang hijau. Padahal, Tamzil pernah dijebloskan ke bui. Hebatnya, di kabupaten ini, Ganjar berjaya dengan meraih angka sekitar 76 persen dibanding lawannya yang hanya sekitar 23 persen.

Yang agak mencengangkan adalah di Kabupaten Rembang, tempat Taj Yasin berasal. Ganjar menang tetapi tidak terlalu heboh. Perbedaan angkanya dengan Sudirman Said hanya sekitar 10 persen. Sudirman – Ida Fauziyah juga mencatat hasil luar biasa. Mereka adalah new comer. Tetapi bisa mendulang angka yang cukup signifikan. Kekalahannya memang telak. Tetapi mendulang sekitar 40 persen suara itu luar biasa. Barangkali mereka kalah hanya karena Ganjar petahana yang telah menginjakkan kaki di mana-mana. Ganjar juga memiliki retorika yang atraktif yang sulit membuat orang tidak percaya.

Kini pemilihan gubernur telah selesai. Kita tinggal menunggu pengumuman resmi KPUD dan pasangan Ganjar-Taj Yasin dilantik. Yang kita harapkan adalah mereka menepati janjinya. Angka kemiskinan mesti diturunkan. Tingkat kesejahteraan harus ditingkatkan. Pembangunan fisik dilaksanakan dengan jujur.

Masyarakat betul-betul menunggu. Pak Ganjar Pranowo dan Pak Taj Yasin ora ngapusi, ora blenjani, lan ora korupsi. Kalau tidak terbukti masyarakat yang akan memberi sanksi. (hq@jawapos.co.id)