Akurasi Capai 99 Persen, Peci Tetap Nyaman Dipakai

Tiga Mahasiswa Polines Ciptakan Peci Penunjuk Arah Kiblat Bagi Tunanetra

167
KREATIF: Fajar Kurniawan, Riadlotul Itqoh dan Febi Nur Chusnaeni menunjukkan peci penunjuk arah kiblat buatannya. (kanan) Ujicoba Perak Gatra dengan mata tertutup. (ISTIMEWA)
KREATIF: Fajar Kurniawan, Riadlotul Itqoh dan Febi Nur Chusnaeni menunjukkan peci penunjuk arah kiblat buatannya. (kanan) Ujicoba Perak Gatra dengan mata tertutup. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Prihatin terhadap kondisi penyandang tunanetra yang seringkali kesulitan dalam menentukan arah kiblat, salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Politeknik Negeri Semarang (Polines) membuat terobosan baru berupa peci penunjuk arah kiblat. Namanya Perak Gatra.

AFIATI TSALITSATI

TIM PKM Polines ini diketuai Fajar Kurniawan, dengan anggota Riadlotul Itqoh dan Febi Nur Chusnaeni. Ketiganya berhasil membuat alat bantu penunjuk arah kiblat sederhana yang dapat dengan mudah dipakai penggunanya. Mereka merancang sebuah alat bantu yang diberi nama Peci Penunjuk Arah Kiblat bagi Tunanetra dengan Keluaran Suara atau Perak Gatra.

Menurut Fajar Kurniawan, ide membuat Perak Gatra tersebut muncul saat dirinya berada di suatu tempat asing dan  mengharuskannya untuk mencari arah kiblat untuk menunaikan ibadah salat. Saat itu, Fajar mengalami kesulitan dalam menentukan arah kiblat, sementara mau bertanya tidak ada orang.

Tentunya hal ini juga terjadi pada kebanyakan orang, terlebih lagi kepada para penyandang tunanetra. “Dari situlah saya mulai berniat untuk membuat alat bantu yang memudahkan dalam penentuan arah kiblat. Kemudian mengajak dua teman saya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alat ini, lanjut Fajar, memanfaatkan sensor kompas yang diselipkan pada peci dan menggunakan arduino nano sebagai pengolah data. Suara penunjuk terdiri tas delapan arah mata angin dan satu suara jika sudah menghadap arah kiblat. Suara tersebut dapat didengar menggunakan headset spiral, sehingga hanya pengguna yang bisa mendengarkannya.

Output suara ini dipilih untuk mendukung kondisi tunanetra, sehingga pengguna tidak akan kesulitan dan merasa sakit saat memakainya,” imbuhnya.

Karena komponen yang dimasukkan ke dalam peci relatif tipis serta penempatan komponen yang diletakkan pada area yang tidak mengganggu penggunanya, sehingga peci tetap nyaman digunakan.

Fajar menjelaskan, Perak Gatra telah diujicobakan terhadap 10 partisipan dengan hasil menunjukkan tingkat akurasi yang baik. Ia juga mengakui alat yang dibuatnya sejauh ini sudah menunjukkan progres yang diharapkan.

Alhamdulillah, hasil dari uji coba awal terhadap 10 orang normal yang ditutup matanya menghasilkan nilai akurasi mencapai 99 persen terhadap sudut asli arah kiblat,” katanya. (*/aro)

Silakan beri komentar.