Murid SLB Olah Botol Bekas Jadi Lampu Hias

300
MEMPU BERSAING: Lampu hias hasil kreasi murid SLB B YPPALB Kota Magelang dipamerkan pada LKSN ABK. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)
MEMPU BERSAING: Lampu hias hasil kreasi murid SLB B YPPALB Kota Magelang dipamerkan pada LKSN ABK. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Bekas botol minuman dari plastik maupun bahan lainnya biasanya langsung masuk tempat sampah. Tapi, di tangan murid SLB B Yayasan Pendidikan dan Penyantunan Anak Luar Biasa (YPPALB) Kota Magelang, sampah botol plastik itu diolah menjadi barang berharga.

Di sekolah, mereka diajari membuat kerajinan dari limbah plastik. Tak heran, saat lomba keterampilan siswa nasional (LKSN) anak berkebutuhan khusus (ABK) tingkat Jateng yang digelar beberapa waktu lalu, karya murid difabel tersebut meraih juara I untuk kategori pemanfaatan barang bekas.

“Sejak beberapa tahun lalu kami memang berkonsentrasi mengajarkan pada siswa untuk memanfaatkan barang bekas. Sebab, sekolah kami berada di perkotaan banyak sekali limbah plastik yang kami temui,” beber guru pendamping SLB B YPPALB Budi Susilo ditemui di sela-sela kompetisi.

Hasil kerajinan murid difabel tersebut antara lain membuat lampu hias dan lampion dari plastik bekas botol minuman. Sedangkan bodi mesin cuci bisa didaur ulang menjadi miniatur taman yang sangat cantik. “Sudah ada pangsa pasarnya meski produksinya belum banyak,” sambung Budi.

Karena produknya memiliki nilai ekonomis, murid SLB setempat menerima semacam honor. Keuntungan dari mengolah barang bekas cukup lumayan. Untuk lampu hias misalnya, dengan modal kurang dari Rp 20.000 bisa dihasilkan lampu hias senilai Rp 75.000. Hal itu diharapkan dapat memotivasi para murid memperkaya kemampuan personalnya sehingga ke depan bisa hidup mandiri.

Pelatihan mengolah barang bekas tersebut dilakukan selama sebulan dengan dua kali pertemuan per pekan. Tidak butuh waktu lama bagi para murid menguasai teknik pemotongan hingga merangkai bahan dasar.

“Jika sudah terbiasa, satu lampu bisa bikin dalam waktu tiga jam,” terang Fajar Luthfi, murid peserta LKSN ABK.

Menurut Fajar, pelatihan yang dilakukan relatif mudah karena sekolah memiliki alat untuk berkreasi, yakni alpobotik atau alat potong botol plastik yang merupakan hasil inovasi guru sekolah setempat. Alat tersebut lebih cepat untuk pemotongan sekaligus memberikan tekstur pada plastik yang dipotong. “Potongan plastik dengan alat tersebut lebih alami dan tidak menggores tangan,” pungkasnya. (aya/wa)