Konversi Nilai Masih Diburu

Meskipun Sudah Bukan Lagi yang Utama

255
TAMBAH PELUANG: Antrean konversi nilai di kantor disdik Surakarta. Pemandangan serupa diprediksi terjadi hingga Sabtu (30/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
TAMBAH PELUANG: Antrean konversi nilai di kantor disdik Surakarta. Pemandangan serupa diprediksi terjadi hingga Sabtu (30/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Dinas pendidikan (Disdik) Surakarta menjadwalkan konversi nilai prestasi atau piagam kejuaraan pada penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2018 pada Senin-Sabtu (25-30/6). Konversi itu bisa digunakan untuk menambah nilai peserta dalam PPDB online yang dibuka mulai 3 Juli.

Meski demikian, Sekretaris Disdik Surakarta Unggul Sudarmo menegaskan,  nilai sudah tidak lagi menjadi prioritas utama. “Sekarang nilai sudah bukan prioritas, bukan lagi yang utama. Karena sudah menerapkan sistem zonasi. Nilai sekarang nomor dua, nomor satu tetap zonasi tempat tinggalnya. Tapi, masih banyak murid yang rela mengantre mengonversi nilai,” bebernya kemarin (27/6).

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, Selasa (26/6), antrean masyarakat untuk mengonversi nilai di kantor disdik mengular. Pemandangan serupa diprediksi terjadi hingga Sabtu (30/6).

Alur konversi nilai yang dilakukan peserta diawali dengan mengumpulkan sejumlah berkas persyaratan. Yakni piagam penghargaan asli, fotokopi piagam penghargaan yang telah dilegalisir, surat pernyataan sekolah asal yang menerangkan bahwa pelajar bersangkutan adalah benar murid dari sekolah tersebut yang memperoleh penghargaan sesuai piagam, dan fotokopi kartu keluarga (KK).

Proses selanjutnya, petugas memverifikasi berkas dan menentukan jumlah nilai prestasi sesuai tingkat kejuaraan. Data diinput dilanjutkan dengan pencetakan nilai prestasi. Usai dicetak, peserta dipersilakan mengambil nilai prestasi yang sudah dikonversi.

“Konversi nilai dipilah dari kejuaraan akademik, seni, olahraga, dan lain sebagainya sesuai dengan petunjuk teknis (juknis). Konversi nilai ini kami berikan kepada masyarakat yang menghendaki dan berharap ada nilai tambah setelah ikut lomba sesuai bidang masing-masing,” ungkap Kepala Bidang Sekolah Menengah Dasar (SMP) Disdik Kota Surakarta, Bambang Wahyono.

Ditambahkan dia, pihaknya memberikan konversi nilai bagi siapapun dan untuk bidang apapun selama ada di dalam juknis. Meskipun murid berasal dari luar daerah, asal penghargaannya didapatkan di Kota Solo, Disdik bersedia memberikan legalitas.

“Tapi tidak bisa mendaftar sekolah di sini, karena Solo sudah menerapkan zonasi,” tegasnya.

Salah seorang orang tua murid, Vera Rusitawati mengatakan, dirinya tetap mengonversi nilai anaknya meskipun PPDB kali ini sudah menerapkan sistem zonasi. Menurutnya, tambahan nilai tersebut tetap bermanfaat jika kuota zonasi sudah penuh.

“Piagam anak saya ada empat, semuanya bidang olahraga. Kalau dihitung, bisa menambah tiga poin. Lumayan, biar kalau dilihat nilainya bisa diprioritaskan. Rencananya, anak saya mau daftar ke SMPN 2 sesuai zona. Tempat tinggal saya di Pajang,” beber Vera.

Vera mengungkapkan, dirinya setuju diterapkan sistem zonasi. Sebab, selain untuk pemerataan pendidikan, sistem zonasi memudahkan dirinya agar tidak terlalu jauh mengantar sekolah anaknya.

“Saya setuju zonasi, areanya tidak terlalu jauh. Anak saya tiga dan harus diantar semua. Dengan sistem zonasi ini, saya jadi tidak capek karena sekolahnya dekat dengan rumah,” pungkasnya. (aya/wa)