Peluang Petahana Lebih Besar

1284
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – SIAPA yang akan memimpin Jawa Tengah hingga lima tahun yang akan datang, akan ditentukan hari ini. Di atas kertas, pasangan nomor urut 1 Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen bakal menang. Apalagi dari 8 hasil survei, 7 di antaranya mengunggulkan calon gubernur petahana ini.

Pengamat Politik Universitras Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono mengatakan, peluang petahana dalam pertarungan memperbutkan kursi Jawa Tengah 1 lebih besar. Hal ini didasarkan sejumlah faktor, di antaranya dari peta dukungan partai politik pengusung, faktor incumbent, jaringan, dan lamanya membangun komunikasi dengan para pemilih.

”Dilihat dari sejumlah faktor ini, peluang incumbent untuk memenangi kontestasi menjadi lebih besar. Ini sebagaimana di-launching oleh banyak lembaga survei,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Terlebih secara intensitas, Ganjar juga dinilai lebih aktif dalam menggunakan media sosial. Hal ini, menurutnya, juga mempengaruhi para pemilih di Jawa Tengah yang aktif menggunakan sosial media dalam berkomunikasi atau akrab dengan sebutan pemilih milenial. ”Di Jawa Tengah, pemilih milenial jumlahnya pun lumayan, hampir 2,5-3 persen,” katanya.

Tapi harus diingat pula, kata dia, bahwa pemilihan gubernur ditentukan pemilih ketika berada di dalam TPS. Sehingga sebelum ada perhitungan suara (baru survei), tidak ada yang bisa mengklaim bahwa dirinya menang atau kalah. Menang atau kalah yang sebenarnya, menurut Teguh, adalah dukungan politik secara riil dalam bentuk coblosan di lapangan.

Ia menjelaskan, fenomena yang menyatakan si  A si B menang adalah dugaan atau prediksi dengan segala asumsi. Tapi politik bersifat dinamis. Asumsi dan suasana bisa berubah kapan saja. ”Kemenangan kandidat akan dibuktikan di TPS. Bahwa walaupun incumbent berpeluang menang besar, tapi pasangan calon nomor 2 juga berpeluang menang, kalau perilaku politik di TPS berubah,” tandas dosen Undip ini.

”Secara teoritis, meskipun berpeluang lebih besar, incumbent tidak selalu menang. Artinya, calon nomor urut 2 memiliki peluang mengejar kemenangan di dalam TPS,” ujarnya menegaskan.

Peluang nomor urut 2 untuk menang disebabkan karena beberapa pertimbangan. Di antaranya, dalam praktik di lapangan, pemilih bisa saja merubah pilihannya. Selanjutnya, ada pula kemungkinan pemilih untuk berpikir bahwa perlu memiliki pimpinan baru. Sehingga mencoba untuk mengganti pemimpin saat berada di dalam TPS. ”Semangat pembaharuan misalnya. Ditambah pengaruh isu yang mampu mempengaruhi pemilih,” kata dia.

Disinggung mengenai pengaruh wakil gubernur dalam kemenangan dalam pertarungan ini, ia mengatakan bahwa wakil tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemenangan calon. Sebab, pertarungan di Jateng, ia katakan, adalah pertarungan antar partai pengusung dan juga figur. ”Sehingga dalam kontestasi di Jawa Tengah, figur wakil hanya melengkapi saja. Faktor wakil tidak besar pengaruhnya di Jawa Tengah,” tandasnya.

Survei Meleset

Terpisah, Pengamat Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Joko J Prihatmoko, menyatakan,  pada Pilgub Jateng lima tahun lalu (2014), beberapa lembaga survei yang memiliki nama besar sekalipun, di Pilgub Jateng meleset total. Meski metodologi, jumlah sampel dan waktunya hampir sama.  “Tapi, apakah ini akan terjadi hal serupa atau hasilnya benar-benar valid, kami tidak tahu. Karena kondisi tahun lalu dengan sekarang juga berbeda,” katanya.

Pada akhirnya, lembaga survei tersebut menutup kelemahan hasil survei dengan exit poll quick count. Dengan quick qount pasti valid. “Sedangkan survei yang presisi atau mendekati hasil valid, membutuhkan teknik yang tepat, dengan metode multi stage random sampling saat elektabilitas tak bergerak atau waktunya tak terlalu jauh dari pelaksanaan pilgub. Semoga survei kali ini, tak seperti tahun lalu,” ujarnya. (sga/ida/aro)