Syawalan Gunungan Megono Mengecewakan

249
BEREBUT : Ratusan pengunjung menjarah gunungan pada acara tradisi Syawalan Gunungan Megono di objek wisata Linggo Asri, Kajen, padahal acara belum dimulai. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
BEREBUT : Ratusan pengunjung menjarah gunungan pada acara tradisi Syawalan Gunungan Megono di objek wisata Linggo Asri, Kajen, padahal acara belum dimulai. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Perayaan tradisi Syawalan Gunungan Megono di objek wisata Linggo Asri, Kecamatan Kajen, Sabtu (23/6) kemarin,  berlangsung ricuh. Pasalnya 19 gunungan Syawalan aneka hasil bumi dari 19 kecamatan, sudah dijarah pengunjung sebelum acara dimulai.

Bermula saat gunungan dengan nomer urut 17 dari Kecamatan Kedungwuni, yang berisi pakaian, aneka jajanan pasar, dan buah-buahan, diarak keliling lokasi wisata Linggo Asri, ketika baru sampai di lokasi acara langsung dijarah oleh pengunjung, dengan mengambil bungkusan pakaian dan aneka jajanan yang ada di gunungan. Padahal 18 gunungan lainnya belum masuk ke area lokasi acara.Tak berselang lama, setelah 18 gunungan lainnya diletakkan berjajar di depan panggung acara untuk dinilai oleh dewan juri, kembali dijarah warga.

Ratusan warga tetap nekad menjarah 18 sisa gunungan, meski panitia mengimbau agar pengunjung tertib, namun imbauan tersebut tidak terlalu digubris. Hanya gunungan megono, yang dijadikan simbol tradisi Syawalan Gunungan Megono tersebut yang tidak dijarah. Ternyata gunungan megono dengan ukuran 1,5 meter dengan diameter 40 sentimeter, yang berisi nasi megono mulai basi. Harusnya gunungan tersebut bisa diambil para warga setelah acara selesai atau sebagai penutup acara.

Sukendar,34, warga Desa Galangpengampon, Kecamatan Wonopringgo, yang ikut menjarah gunungan mengaku kecewa dengan acara tersebut, karena tarif masuk yang mahal namun tidak ada hiburan yang sesuai dengan harapan.

Menurutnya sepanjang sejarah tradisi Syawalan Gunungan Megono di objek wisata Linggo Asri, hanya tahun ini yang pelaksanaannya tidak seperti tahun sebelumnya, gunungan megononya kecil, nasinya sudah tidak bisa dimakan.

“Banyak yang tidak tahu kalau hari ini (Sabtu) Syawalan Gunungan Megono. Biasanya tujuh hari setelah Lebaran, makanya kok sepi, acaranya pun tidak ada yang menarik, hanya penyanyi dangdut kampung saja,” ungkap Sukendar.

Sementara  itu, Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti, ketika dikonfirmasi mengaku kecewa dengan pelaksanaan tradisi Syawalan Gunungan Megono  tahun  ini. Tidak semeriah tahun sebelumnya, bahkan jumlah pengunjungnya sangat sedikit, jika dibanding tahun lalu.  “Saya akan evaluasi kegiatan ini,” kata Arini.(thd/zal)