Akan Diberlakukan Tes Psikologi

244

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Aturan baru dalam pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) akan diberlakukan dalam waktu dekat. Yakni, pemberlakuan tes psikologi bagi para pemohon pembuatan maupun perpanjangan SIM. Hal ini dilakukan untuk menekan angka kejadian kecelakaan lalulintas.

Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi, mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sosialisasi rencana penerapan aturan tersebut. Meskipun belum diketahui secara pasti jadwal pelaksanaannya, namun hal ini merupakan perintah langsung dari Mabes Polri.

“Yang pasti, kami akan mengikuti petunjuk dari Mabes Polri, dalam hal ini Korlantas terkait pemberlakuan tes psikologi dalam pembuatan SIM. Kami sudah diperintahkan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (23/6).

Ardi menjelaskan, di Undang-Undang Lalulintas Nomor 22 Tahun 2009, aturan untuk melaksanakan tes psikologi dalam pembuatan SIM sudah diamanatkan. Sehingga dengan adanya wacana penerapan tes psikologi ini, merupakan langkah yang bagus dalam berkendara di jalan raya.

“Mengingat dalam mengemudi tidak hanya diperlukan skill dan pengetahuan tentang lalulintas, tapi juga faktor psikologis harus diperhatikan. Orang yang emosional, gampang stres mudah marah, sangat membahayakan baik bagi dirinya maupun pengguna jalan yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya tes psikologi, juga bertujuan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dalam mendapatkan SIM harus melalui tahapan yang ketat. Sebab, hal ini berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan, dan sudah terdapat di dalam amanat undang-undang.

“Dengan adanya tes psikologi, nantinya pemegang SIM bisa diketahui orangnya seperti apa? Apakah orang yang tergesa-gesa, mudah marah, atau memang cuek? Sehingga orang-orang dengan kepribadian yang dianggap berbahaya saat mengemudi nanti bisa berkurang,” katanya.

Pada penerapan aturan ini, Satlantas Polrestabes Semarang juga akan dibantu oleh Korlantas Mabes Polri terkait dalam menyediakan sumber daya manusia (SDM).  “Karena tes psikologi harus dilakukan ahlinya, nggak bisa sembarangan, karena itu suatu profesi yang khusus,” tegasnya.

Ardi menyampaikan, pengendara yang mengalami kecelakaan sejauh ini baru bisa diketahui kondisi psikologinya setelah dilakukan pemeriksaan. Namun pihaknya menyebut pengendara yang terlibat kecelakaan mayoritas disebabkan faktor kelelahan atau adanya pelanggaran lalulintas.

“Kecelakaan yang disebabkan pengemudi kelelahan bisa dikarenakan murni faktor fisik, namun juga bisa karena faktor psikologi. Misalnya, orang normal saat lelah dia tahu harus menepi istirahat. Namun orang yang selalu cemas, terburu-buru, ndak sabaran, biasanya enggan beristirahat dan cenderung melanjutkan perjalanan dan akhirnya ngantuk, dan kecelakaan. Nah itu juga bisa disebabkan kecelakaan yang diakibatkan faktor psikologi,” jelasnya.

Ardi menegaskan, kecelakaan yang berkaitan dengan faktor psikis orang memang tidak terlihat. Namun, diakui, tidak sedikit kejadian laka lantas yang disebabkan faktor psikologi. Seperti halnya faktor lain tentang kecelakaan yang diawali dengan pelanggaran lalulintas baik yang disengaja maupun tidak atau kurang memperhatikan rambu dan sadar melanggar, namun tetap dilakukan.

“Sengaja melanggar itu faktor psikisnya kenapa? Bisa karena dia cuek, kalo orang Jawa bilang ngeyelan, angel dikandani, nah kalau sikap seperti itu dibiarkan mengemudi di jalan kan membahayakan,” ujarnya.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Rosyidi Siswanto, berharap penerapan tes psikologi ini tidak menyebabkan biaya pembuatan SIM semakin membengkak. “Kalau tujuannya memang bagus. Tapi, kalau nanti menyebabkan naiknya biaya pembuatan SIM ya menurut saya justru akan menyusahkan,” katanya.

Hal sama juga diungkapkan Renaldi Siregar. Ia mengaku tidak keberatan jika nanti saat melakukan perpanjangan SIM harus melalui tes psikologi. Menurutnya, beberapa faktor psikologi memang mempengaruhi pengguna jalan saat mengendarai motor maupun mobil.  “Kalau memang alasannya untuk kebaikan pengguna jalan ya nggak masalah. Katanya kan untuk mengurangi angka kecelakaan, ya bagus itu,” tegasnya. (mha/aro)