RADARSEMARANG.COM – PUKUL 13.38 sebuah mobil sedan hitam berbelok ke Museum Jenang di Jalan Sunan Muria Kudus. Semua tempat parkir telah penuh. Petugas mengarahkan ke depan pintu masuk. Saya mengamatinya sambil duduk santai di kafe di lantai dua museum itu.

Hari itu adalah Hari Raya ketupat. Tradisi pesta di hari keenam pasca Idul Fitri. Biasanya banyak orang memanfaatkan untuk berwisata. Saat itu, Museum Jenang pun ramai pengunjung. Termasuk saya yang datang bersama tiga wartawan muda Jawa Pos Radar Kudus: Faruq Hidayat, Noor Syafaatul Udhma, dan Diyah Ayu Fitriyani.

Museum Jenang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Pemiliknya Muhammad Hilmi kreatif. Dia bisa menjadikan museum yang biasanya berisi barang-barang old menjadi gaul. Banyak anak-anak muda  menikmati. Bahkandi ke ruang Gusjigang yang filosofis. Saat saya masuk ke sana, ada tiga pasang muda-mudi yang berfoto ria. Malah ada juga dua anak seusia SMP.

Ruang Gusjigang adalah bagian terbaru dari Museum Jenang yang dibangun oleh Mubarok Food. Isinya, filosofi ajaran Sunan Kudus Syeh Djakfar Sodiq. Gus adalah wong bagus akhlaqnya (budi pekerti). Ji berarti pandai mengaji. Gang bisa berdagang (berwiraswasta atau enterpreneur). Syeh Djakfar Sodiq mengajarkan agar kira menjadi pribadi yang berbudi luhur, terus belajar, dan mandiri dalam ekonomi.

Semua itu tercermin dalam pribadi pimpinan Mubarok Food dan keluarganya. Mulai dari generasi pertama H. Mabruri, generasi kedua H. Sochib, sampai generasi ketiga H. Muhammad Hilmi. Mereka adalah santri-santri Kudus asli yang mengembangkan jenang di Kaliputu, Kudus. Awalnya, bermerek Sinar 33 karena terletak di Jalan Sunan Muria 33. Kemudian menjadi perusahaan Mubarok Foood Cipta Delicia dengan berbagai brand dan produk.

Hilmi yang memegang kendali Mubarok Food sekarang tak sekadar mewujudkan Gusjigang. Dengan caranya dia ingin ajaran Sunan Kudus itu melekat di hati masyarakat. Maka dibuatlah museum yang mengawinkan sejarah jenang dengan kebudayaan. Di dalamnya berisi diorama pembuatan jenang dari zaman kakeknya yang sangat tradisional sampai kini yang modern.

Meski dinamakan Museum Jenang, bagian terbesar di dalamnya berkaitan dengan kebudayaan. Ada rumah  adat yang terbuat dari kayu jati berukir. Meski tidak sebesar aslinya, bisa dipergunakan untuk duduk bersantai. Ada tiga set meja-kursi. Saya sempat menikmatinya. Rasanya seperti di rumah asli pemilik jenang Sinar 33 tak jauh dari museum itu yang sampai kini juga dilestarikan.

Di tembok sebelah rumah adat terdapat gambar bupati pertama sampai terakhir Musthofa. Beberapa hari menjelang puasa di ujung deretan foto bupati itu terdapat kotak kosong. Di depannya ada satu kursi. Pengunjung bisa duduk di kursi itu. Kalau difoto lantas wajahnya persis di kotak seolah menjadi bupati terakhir. Saya telah mencobanya. Menarik. Namun setelah Lebaran kotak kosong itu telah dihilangi.

Pada bagian tembok lain dipajang foto-foto jadul. Berisi bagian Kota Kudus yang memorabel. Ada alun-alun zaman dulu, kantor polisi, stasiun kereta api, gedung bioskop, dan lainnya. Tiga wartawan yang saya ajak berkunjung ke museum itu tertarik terhadap foto-foto itu. Mereka merasa diajak ke Kota Kudus tempo doeloe.

Bagian penting untuk menangkap Kota Kudus adalah kompleks Masjid Menara Kudus. Meski hanya maket, cukup membuat pengunjung tercengang di masjid yang dibangun Sunan Kudus di Kudus Kulon. Malah, di kompleks masjid yang asli tidak terlihat maket seperti itu.

Maket itulah yang mengarahkan pengunjung menuju bangunan baru X Building yang berisi konsep Gusjigang. Bangunan ini gemerlap. Dipenuhi warna emas. Kaligrafi raksasa yang diletakkan persis di tengah ruangan malah terbuat dari kuningan. Kalau tersorot lampu tentu saja gemerlap. Dinding sekelilingnya juga kaligrafi warna emas.

Di ruang itu saya merasa dibawa ke alam lain. Alam Sunan Kudus. Memang belum ada fotonya. Saya malah menyarankan kepada Hilmi agar dibuatkan patung Sunan Kudus. Pengunjung pasti senang. Bisa berfoto dengan pujaannya. Namun Hilmi belum berani. Belum ada kesepakatan di antara budayawan mengenai sosok tubuh Sunan Kudus sendiri. ‘’Mungkin nanti kami buatkan,’’ ujarnya.

Di ruang itulah konsep Gusjigang dijabarkan. Ada banyak puisi mengenai ajaran Sunan Kudus dari para budayawan. Antara lain, Emha Ainun Najib, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, A.S. Laksana, dan Nujumullaily. Yang saya sebut terakhir itu adalah istri Hilmi.

Nujumullaily yang cantik itu jugalah yang mewarnai perjalanan Mubarok Food, termasuk konsep Museum Jenang. Kesenimanannya tidak diragukan lagi. Main teater, drama, sampai mencipta dan membaca puisi. Darah Nujumullaily menurun kepada tiga anak perempuanya. Beberapa kali mereka ditampilkan dalam acara-acara resmi Mubarok Food. Salah satu adalah Binta yang pernah menjadi finalis dai cilik tingkat nasional.

Ada yang baru ketika saya masuk ke ruang itu kali kedua. Yaitu, foto-foto para Ketua PB NU dan Muhammadiyah. Mulai dari K.H. Hasyim Asyari sampai Said Aqil Siroj. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan sampai Haedar Nashir. ‘’Ruangan ini belum sempurna dan masih akan terus berkembang,’’ kata Hilmi. Meski demikian sudah dikunjungi Menristek Dikti Muhammad Nasir dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Di ruangan itu serasa sangat filosofis. Itulah nyang diinginkan Hilmi. Museum Jenang menjadi museum kebudayaan. Kelak kalau ada akademisi atau siapapun yang ingin mendalami ajaran Sunan Kudus,  mereka harus ke Museum Jenang.

Tekad Hilmi itu luar biasa. Museum adalah konsep jadul. Gusjigang adalah filosofi hidup. Semula saya menilai cukup tinggi untuk ditangkap masyarakat awam. Tetapi, Hilmi bisa menjadikannya gaul dan populer. Belakangan dihiasi pula motor-motor gede hasil modifikasi anak-anak Kudus. Museum itu telah menyedot banyak pengunjung. Di situlah terselip visi bisnis Mubarok Food.

Hilmi mengawinkan konter jualan jenangnya dengan museum. Terjadi sinergi yang saling menguntungkan. Ketika saya ke sana beberapa hari menjalang Idul Fitri dan Hari Raya ketupat keempat kasir penjualannya tidak pernah berhenti melayani pembeli. Bahkan di lantai dua, tempat penjualan suvenir dan kafe. Semuanya tak pernah sepi pengunjung.

Kini, Museum Jenang telah menjelma menjadi museum kebudayaan yang layak dikunjungi. (hq@jawapos.co.id)