RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Kota Semarang mengamankan Siswanto, 44, warga Jalan Perbalan Purwosari III RT 5 RW 02 Purwosari, Semarang Utara.  Pria yang sehari-hari menjadi juru parkir (jukir) liar itu diamankan terkait dugaan kasus pungutan liar (pungli) yang terjadi di kawasan Stasiun Poncol Semarang.

Penangkapan tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat yang merasa keberatan dengan perbuatan Siswanto. Sebab, yang bersangkutan telah menarik parkir secara paksa kepada penjemput penumpang kereta api di Stasiun Poncol. Dari laporan tersebut, petugas melakukan penyelidikan, dan mengamankan Siswanto di Jalan Imam Bonjol, Sabtu (23/6) sekitar pukul 02.30.

“Pelaku ditangkap atas informasi warga yang merasa dirugikan lantaran pelaku mengutip uang saat korban sedang menjemput keluarganya di Stasiun Poncol,” ujar Ketua Tim Saber Pungli Kota Semarang AKBP Enrico Silalahi, kemarin.

Pria yang menjabat Wakapolrestabes Semarang ini menambahkan, dalam penindakan tersebut, petugas saber pungli menyita barang bukti uang tunai Rp 61 ribu dari Siswanto. Hingga kemarin, yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan di ruang Unit Tipikor Polrestabes Semarang untuk proses lebih lanjut.

“Ini bukan masalah besar kecilnya uang, tapi memberi rasa aman kepada masyarakat dan ingin membuktikan bahwa tim ini tidak main-main dengan namanya pungli di Kota Semarang,” katanya.

Penyidik Tipikor Polrestabes Semarang yang juga anggota Tim Saber Pungli Kota Semarang, AKP Ahmad, menjelaskan, perbuatan Siswanto dinilai sangat meresahkan masyarakat. Menurutnya, perbuatan itu tergolong aksi premanisme. “Itu premanisme. Dia itu kan meminta paksa kepada masyarakat yang berkunjung ke situ. Ada pengunjung mau jemput saudaranya terus ditarik uang, dikasih Rp 5 ribu gak mau. Mintanya lebih,” bebernya.

Bahkan, Ahmad juga menyebut profesi Siswanto bukanlah seorang juru parkir. Dari keterangan yang diperoleh saat dilakukan pemeriksaan, Siswanto tidak memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) juru parkir. “Dia tidak punya KTA, di situ juga tidak punya lahan parkir. Jadi, kalau ada orang menaikkan penumpang ya ditarik, diminta paksa,” tegasnya.

Atas perbuatan tersebut, Ahmad mengatakan sanksi tegas yang diberikan adalah Tindak Pidana Ringan (Tipiring).  “Ada unsur premanisme juga, sanksinya ya kita jerat pasal tipiring,” katanya. (mha/aro)