RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kecelakaan lalulintas terjadi di Jalan Brigjend Sudiarto, depan Rumah Sakit Amino Gondoutomo (RSJ) Semarang, Sabtu (23/6) sekitar pukul 09.30. Seorang pembonceng sepeda motor tewas setelah terlindas roda Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang melaju di sampingnya.

Korban tewas diketahui bernama Theodora Esti Astuti, 61, warga Sendangmulyo, Tembalang. Nyawanya tidak tertolong saat dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang guna mendapat pertolongan.

Sedangkan pengendara yang memboncengkan korban, Yohanes Debrito Rudilan, 67, selamat dalam kejadian tersebut, dan hanya mengalami luka yang diduga patah kaki. Selanjutnya korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang guna mendapat pertolongan.

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi menjelaskan, kecelakaan tersebut terjadi antara sepeda motor Suzuki bernopol H 6451 UG yang dikendarai Yohanes Debrito Rudilan dengan bus Hino BRT Trans Semarang bernopol H 1418 AW yang dikemudikan Sukemi Kamdani, 46, warga Bongsari, Semarang. Dua kendaraan tersebut melaju bersamaan dari arah barat ke timur atau Simpang Lima ke Pedurungan.

“Diduga kurang waspada pandangan samping kanan, sehingga body kanan depan BRT membentur stang sepeda motor korban yang berjalan searah di samping kanannya,” jelasnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (23/6).

Akibat benturan itu, sepeda motor oleng hingga pengendara dan pemboncengnya jatuh tersungkur. Nahasnya, pembonceng motor, Theodora Esti Astuti, jatuh masuk ke kolong BRT dan langsung terlindas. Nyawanya tidak terselamatkan saat perjalanan menuju RS Bhayangkara Semarang guna mendapat pertolongan.

“Satu orang korban meninggal dunia dan satunya masih dalam perawatan di rumah sakit. Sementara kami masih melakukan pemeriksaan terhadap sopir BRT, yang nanti bisa menjelaskan kronologis terjadinya senggolan tersebut,” katanya.

Terkait adanya informasi dugaan sepeda motor yang dikendarai korban lebih dulu bersenggolan dengan Mobil Grand Livina hingga terjatuh dan pembonceng masuk ke kolong BRT, Ardi menyampaikan akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu.

“Yang jelas penyebab kecelakaan itu senggolan dengan BRT, bukan dengan Grand Livina,” tegasnya.

Kepala Divisi Operasional Trans Semarang, Stefanus Kusdiyarto, menjelaskan, BRT yang mengalami kecelakaan bernomor lambung I nomor 024. Dari keterangan saksi yang ada di lapangan, Stefanus menyebutkan lokasi kejadian berada di depan RSJD Amino Gondo Utomo.

“Dari keterangan saksi yang ada situ diperoleh informasi di seberang RSJD Amino Gondo Utomo yang arah ke Penggaron, di situ kan ada putaran. Armada kami sudah di sebelah kiri, dan posisi melaju juga pelan. Kemudian di sebelah kanan ada mobil Grand Livina yang mau putar balik. Tahu-tahu di bagian belakang samping kanan bus itu terdengar suara benturan,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Stefanus mengakui, begitu ada suara tersebut, BRT tidak langsung berhenti, dengan alasan posisi dalam keadaan melaju. Kemudian, warga sekitar yang mendengar dan mengetahui kejadian ini langsung berteriak-teriak ke pengemudi BRT untuk menghentikan armadanya.

“Ternyata ada pembonceng motor yang masuk kolong dan secara tidak sengaja terlindas oleh BRT. Tapi setelah dicek di lokasi kejadian itu, Grand Livinanya itu juga langsung belok nyeberang dan pergi. Kami (BRT) berhenti,” tegasnya.

Menurut  Stefanus, saat dilakukan pengecekan di body armada BRT tidak terdapat bekas adanya benturan. Namun berdasarkan keterangan di lapangan, Stefanus menyatakan sepeda motor tersebut menyenggol mobil Grand Livina bernopol H 8890 PR, kemudian pengendara terjatuh hingga akhirnya terlindas dengan BRT.

“Kalau memang itu membentur armada kami, ada bekasnya. Tapi ini tidak ada bekasnya. Berdasarkan keterangan yang melihat itu memang nyenggolnya mobil Grand Livina. Tapi kami juga tidak bisa memastikan apakah itu sepeda motornya nyenggol sendiri atau memang posisinya kepepet, kami belum mengetahui secara pasti,” ujarnya.

Stefanus juga mengatakan, setelah diduga bersenggolan dengan sepeda motor, mobil Grand Livina tersebut meninggalkan lokasi kejadian. Beruntungnya, ada warga yang sempat mengambil gambar dengan menggunakan handphone memotret mobil Grand Livina tersebut.

“Tadi sempat ada yang memotret Grand Livina, kemudian kita lacak karena posisi kami yakin BRT tidak salah, karena selama ini kami jadi bulan-bulanan, apa-apa BRT-nya. Tadi kita lacak ketemu, kabar terakhir tadi mobilnya Grand Livina sudah diamankan di Unit Lakalantas. Katanya juga ada bekas goresan (benturan), kalau bodi armada kami malah tidak ada bekas benturanya,” katanya. (mha/aro)