Night Ride, Sarana Alternatif Tetap Sehat

1745
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – BERSEPEDA di malam hari atau lebih dikenal dengan sebutan night ride makin eksis dalam beberapa tahun terakhir di Solo. Bahkan di momen tertentu, pesertanya bisa datang dari berbagai tempat.

Salah seorang pegiat night ride dari Komunitas Sepeda Solo Raya, Widi Priska Sari mengatakan bahwa night ride bukan sekadar kegiatan menguras keringat, namun memiliki fungsi refreshing dari segala kepenatan harian. Sebab, dalam kegiatan ini, para goweser kerap mengunjungi berbagai destinasi yang memiliki venue cukup menarik. Alhasil, kegiatan suaka foto bisa dilakukan sembari mengayuh sepeda masing-masing. “Pikiran jelas lebih fresh. Pokoknya stres itu bisa hilang,” kata dia.

Dari segi kesehatan, night ride dipandang cukup efektif bagi goweser yang ingin manjadi lebih sehat. Walaupun sesungguhnya bersepeda malam hari tak lebih menyehatkan dari bersepeda pagi atau sore hari.

“Bersepeda itu basic-nya tetap menyehatkan, mau kapan waktunya ya sama saja. Hanya saja, jika malam hari ya harus tahu porsinya. Misal tidak langsung mandi setelah selesai oleh raga. Jika semua dilakukan benar, tubuh tetap sehat, bahkan saya pikir tidur jadi lebih lelap,” jelas salah satu goweser lainnya dari Komunitas Seli (Sepeda Lipat) Solo Raya, Rinto Prabowo.

Lantaran kegiatan seperti ini memiliki dampak kesehatan dan mampu menghilangkan stres, lama kelamaan kegiatan ini menjadi semacam life style baru yang keberadaannya banyak digandrungi masyarakat. Kini, masyarakat sudah tidak tabu untuk bersepeda malam hari. Ada banyak hal yang sangat menarik untuk diulas dalam kegiatan tersebut mulai dari keunikan jenis sepeda masing-masing hingga sulit mudahnya suatu menaklukkan sebuah jalur. “Melalui nigth ride, bisa bertemu banyak orang dan pertemanan dari berbagai latar belakang. Jika beruntung, lebih mudah dalam mencari kerja,” jelas Rinto.

Karena kegiatan ini sudah sangat populer dan memiliki kecenderungan makin digandrungi massa, ke depan harus ada perubahan yang bisa dibuktikan dalam setiap kegiatan night ride.

Salah satu pegiat night ride dari Federal Solo Raya, Tommy Rizaldy mengatakan bahwa para goweser yang lebih senior harus bisa memberikan contoh pada goweser muda maupun kepada masyarakat umum. Oleh sebab itu, berbagai peralatan dasar wajib dipenuhi para goweser. “Pengaman kepala (helem), lutut dan siku harus ada. Selain itu, harus dilengkapi dengan lampu dan reflektor cahaya. Terpenting adalah memastikan sepeda dalam keadaan paling baik,” beber Tommy.

Hal ini penting lantaran hal buruk bisa terjadi sewaktu-waktu. Misalnya saat goweser melintas di jalur lambat, tiba-tiba ada kendaraan lain parkir di tempat yang tidak seharusnya. Belum lagi dengan ruas jalan yang banyak ditempati pedagang kaki lima. Pihaknya sadar, perlu waktu cukup panjang agar segala sarana dan prasarana bersepeda dapat direalisasikan oleh pemerintah secara menyeluruh.

Karena itu, pihaknya memilih melakukan pendekatan edukasi masyarakat lewat tindakan nyata. “Bentuk sosialisasi paling tepat lewat gerakan nyata seperti melakukan yang dilihat langsung oleh masyarakat dengan harapan bisa ditiru. Makanya setiap gowes, kami selalu menunjukkan berbagai alat pengaman dan mengikuti rambu lalu lintas dalam setiap perjalanan agar bisa menjadi percontohan untuk masyarakat,” tutup Tommy. (ves/jpg/ida)