Oleh: Nur Mualifah SPd
Oleh: Nur Mualifah SPd

RADARSEMARANG.COM – PELAKSANAAN Kurikulum 2013 (K13) di sekolah penulis, SMP Negeri 2 Banyubiru, baru dilaksanakan pada 2018. Dengan demikian hanya siswa kelas VII yang menggunakan kurikulum tersebut. Untuk siswa kelas VIII dan IX masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan Kurikulum 2013 dan KTSP pada prinsipnya hampir sama. Pada Kurikulum 2013 dengan metode pendekatan Saintifik. Sedangkan KTSP dengan menggunakan pendekatan Metode Ilmiah. Metode Saintifik dan Metode Ilmiah sama-sama menerapakan prinsip lima M, yaitu Mengamati, Menanya, Melakukan percobaan, Mempresentasikan dan Menyimpulkan.

Adapun yang membedakan antara Kurikulum 2013 dan KTSP ada pada cakupan materi. Sebagai contoh untuk materi Tata Surya dan Lapisan-Lapisan Bumi diajarkan di kelas IX. Ternyata materi tersebut masuk dalam kompetensi dasar untuk pembelajaran di kelas VII.

Pembelajaran IPA selama ini dikenal rumit, susah, tidak menarik, banyak rumus-rumus, serta banyak hafalan-hafalan. Apalagi untuk siswa kelas VII, yang kebetulan anak-anaknya kecil-kecil, polos dan lugu. Untuk mempelajari materi yang bersifat abstrak (tidak ada di sekitar), diperlukan suatu cara untuk mempermudah mempelajari materi tersebut. Sebagai contoh materi yang abstrak adalah tentang gerhana.

Konon menurut cerita orang tua, gerhana bulan/matahari terjadi karena bulan/matahari dicaplok/dimakan oleh Betara Raksasa. Selanjutnya bulan/matahari tersebut dimuntahkan kembali karena Batara Raksasa tidak dapat menahan panas.

Kegiatan pembelajaran IPA yang baik, mampu melibatkan siswa secara aktif dan dapat memberikan motivasi yang tinggi. Dengan demikian tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Sebagai alternatif untuk memudahkan pembelajaran tentang gerhana, adalah menggunakan metode “Demohana Bos Bociter.” Maksudnya, siswa melakukan demonstrasi gerhana dengan  bola besar, bola kecil serta senter. Media ini sangat mudah didapatkan oleh siswa.

Langkah pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pertama, membuat perencanaan, dengan menyusun RPP. Kedua, pelaksanaan kegiatan. Membentuk kelompok diskusi yang beranggotakan empat siswa secara acak. Setiap kelompok diminta untuk menyiapkan dua buah bola (besar dan kecil), serta sebuah senter. Selanjutnya tiap kelompok dibagikan Lember Kerja/LK. Masing-masing kelompok melakukan diskusi dan melakukan demonstrasi dengan alat-alat yang sudah dibawa. Masing-masing anak berperan aktif untuk memainkan bola-bola tersebut sebagai matahari, bulan atau bumi dan sebagai pengamat.

Tiap-tiap kelompok asyik berdiskusi sambil bermain-main dengan bola-bola dan senternya.Ternyata bola-bola yang dibawa anak sangat macam-macam bentuk dan ukurannya. Ada bola pimpong, bola kasti, bola bekel, bola tenes, bola plastik, kelereng, bola volly dan bola sepak bola. Anak-anak terlihat sangat senang membawa dan memainkan alat-alat tersebut. Senter bola kecil, bola besar diletakkan dalam satu garis lurus. Pada posisi matahari, bulan dan bumi berada dalam garis lurus akan terjadi gerhana matahari. Bola kecil mengelilingi bola besar akan terjadi revolusi bulan. Percobaan selanjudnya senter, bola besar, bola kecil dalam satu garis lurus. Kedudukan matahari, bumi dan bulan dalam garis lurus akan terjadi gerhana bulan. Selanjutnya bola kecil digerakkan untuk mengelilingi bola besar, maka akan tampak fase-fase bulan. Bola kecil dan bola besar mengelilingi senter akan terjadi revolusi matahari. Masing-masing bola diputar pada porosnya akan terjadi rotasi.

Ketiga, setelah menyelesaikan demonstrasi dan LK, beberapa kelompok diminta untuk maju di depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Keberhasilan kelompok tergantung adanya saling kerja sama anggota kelompok, dan pembagian tugasnya. Kelompok yang lain memberikan tanggapan. Diskusi kelas berjalan dengan lancar. Suasana kelas hidup karena masing-masing anak berani mengungkapkan pendapatnya. Semua anak merasa percaya diri karena mereka melakukan langsung kegiatan demonstrasi.

Dalam diskusi guru berperan sebagai motivator, pembimbing, fasilitator agar kegiatan pembelajaran dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dari hasil diskusi dan permaian itulah siswa bisa menemukan sendiri konsep tentang rotasi, revolusi, gerhana, prosesnya, macam-macam gerhana serta dampaknya. Senang rasanya bisa mengantarkan para siswa menemukan suatu konsep dan memahaminya melalui kegiatan permainan. Kegiatan berikutnya membantu siswa untuk membuat suatu kesimpulan serta menyusun rangkuman materi. Di akhir kegiatan dilakukan evaluasi.

Dampak dari pembelajaran “Demohana Bos Bociter” dapat membuat siswa bergembira, asyik dan memudahkan menemukan konsep gerhana. Kegiatan ini juga bisa menumbuhkan motivasi, sehingga hasil prestasi belajar meningkat. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 2 Banyubiru Kabupaten Semarang